Sejarah terbentuknya Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (PERABOI)
oleh D. Tjindarbum dibacakan pada Muktamar Nasional PERABOI VIII di Bandung. Dimuat atas izin penulis.
Lahirnya setiap cabang ilmu kedokteran selalu memiliki catatan menarik, demikian pula halnya dengan sejarah terbentuknya bedah onkologi di Indonesia.
Kelahiran setiap cabang ilmu kedokteran baru merupakan proses sesuai dengan okupasi yang telah mengalami perubahan karakteristik secara meningkat. Hal itu pernah dikemukakan R. Syamsuhidajat dalam sebuah tulisan bertajuk :
“Pengembangan suatu Cabang Ilmu Kedokteran menjadi Profesi”
Pendirian bedah onkologi di Indonesia tidak bisa dilepas dari nama Dr. W.M. Tamboenan sekembalinya beliau dari Amerika Serikat pada tahun 1962 setelah mempelajari bedah kanker di University of Washington. Bedah onkologi juga melewati proses serupa. Pada awalnya sekelompok manusia mulai mengerjakan jenis pekerjaan yang sama secara “full time” dan kemudian mereka menentukan batas-batas bidang kerjanya.
Kelompok awal berikut yang mengikuti jejak tersebut dalam perkembangannya mulai menyadari bahwa sebuah pendidikan yang lebih intensif perlu dilakukan agar mereka bisa mendapatkan keterampilan yang lebih baik. Dari sini kemudian berkembang babak selanjutnya yaitu usaha untuk membakukan pendidikan tersebut berikut latihan. Hal ini dinyatakan dengan berdirinya tempat pendidikan sekaligus tempat latihan tersebut yang dititipkan pada perguruan tinggi atau sebuah lembaga yang bekerja sama dengan sebuah universitas.
Para pendidik bersama para pemula yang aktif yang telah berhasil merintis fase ini menyusun organisasi tingkat lokal yang dalam perkembangannya kemudian meluas ke tingkat nasional dan internasional.
Embrio organisasi inilah yang kemudian memperjuangkan diri agar bisa memperoleh pengakuan dalam bentuk monopoli ketrampilan baik secara “de facto” dari warga masyarakat calon pengguna ketrampilan mereka maupun secara “de yure” dari otoritas kesehatan pemerintah. Tahap akhir adalah menyusun pedoman pendidikan yang dilengkapi dengan rumusan kode etik selaku pedoman utama untuk menata perilaku para anggotanya.
Ketika saya mulai mengikuti pendidikan Ilmu Bedah di FKUI-RSCM pada tahun 1965/1966 unit bedah yang dipimpin oleh Prof. Oetama (alm) terdiri dari 7 sub bagian :
- Sub Bedah umum : dipimpin oleh Prof. Djamaludin (alm)
- Sub Bedah urologi : dipimpin oleh Prof. Oetama (alm) sendiri
- Sub Bedah orthopedie : dipimpin oleh Dr. Subijakto (alm)
- Sub Bedah plastik : dipimpin oleh Dr. Munajat (alm) yang kemudian menjadi Guru Besar Bedah Plastik.
- Sub Bedah Toraks dan vaskuler : dipimpin oleh Dr. Iwan Surya Santoso (alm)
- Sub Bedah anak : dipimpin oleh Dr. Adang Zainal Kosim (alm)
- Klinik Tumor : dipimpin oleh Dr. W.M. Tamboenan (alm)
Khususnya klinik tumor mulai bereksistensi pada tahun 1962 di bagian bedah FKUI-RSCM oleh karena pendirian klinik tersebut direstui oleh Prof. Margono Soekarjo (alm) yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Bagian Ilmu Bedah FKUI-RSCM.
“Mengapa klinik tumor saat itu diperkenankan untuk bereksistensi ?”
Oleh karena kasus-kasus kanker yang begitu banyak tidak dapat ditangani sendiri oleh sub bagian bedah umum oleh karena disamping kasus bedah umum, sub bagian bedah umum juga menangani kasus traumatologi dimana saat itu Prof. Djamaludin (alm) hanya dibantu oleh seorang asisten yaitu Dr. Syamsuhidajat yang sekaligus menjabat “Chief de Clinique” di bagian ilmu bedah FKUI-RSCM.
Pada waktu itu Prof. Djamaludin (alm) dan Dr. Syamsuhidajat masih tetap menangani kasus-kasus kanker payudara, kanker leher kepala terutama tiroid dan kanker jaringan penunjang yang masih “operable”, yang tidak lagi operable ditangani oleh Dr. W.M. Tamboenan yang pada waktu itu dibantu oleh Dr. Indradi yang kemudian menjadi ahli ortopedi dan Dr. Willy Hadisumarto (alm).
Pada perkembangan selanjutnya, ketika penulis selesai menjalani pendidikan Ahli Bedah Umum tahun 1970, penulis diminta untuk ikut bergabung dalam Klinik Tumor sebagai asisten ketiga. Dalam tahun yang sama, klinik tumor berubah nama menjadi Sub Bagian Bedah Tumor yang tetap berada dibawah naungan Bedah Umum dibawah kepemimpinan Prof. Djamaludin (alm).
Sementara itu 2 sub bagian lainnya yaitu bedah Ortopedi dan bedah Plastik berhasil mengembangkan diri menjadi jurusan cabang ilmu bedah baru yang berdiri sendiri dan diakui sebagai cabang spesialisasi resmi (dapat memberikan sertifikat keahlian).
Sub Bagian Ilmu bedah lainnya yang mencoba untuk mempunyai kurikulum tersendiri, yaitu Bedah Thorax dan Bedah Anak, berhasil pula mendapatkan otonomi tersendiri meskipun belum merupakan cabang ilmu bedah yang otonom, ini disebabkan oleh karena organ-organ yang perlu dibedah tidak banyak bersinggungan dengan organ program bedah umum.
Pada waktu itu spesialisasi cabang ilmu bedah masih berorientasi pada organ manusia (“organ oriented”).
Usaha Dr. W.M. Tamboenan (alm) untuk mendapatkan otonomi yang lebih luas di Sub Bagian Bedah Tumor menghadapi tantangan yang sangat berat dari hampir semua kepala sub bagian oleh karena dikhawatirkan bahwa Bagian Bedah Tumor akan menganeksasi semua penyakit kanker yang terkena pada organ manusia, apalagi setelah Sub Bagian Bedah Tumor diperkuat oleh 4 tambahan asisten baru, yaitu Dr. Togar M. Simandjuntak (1974), Dr. Evert D.C. Poetiray (1974), Dr. Muchlis Ramli (1977), Dr. H. Zafiral Azdi Albar (1979) dan alm. Dr. Idral Darwis (1983).
Resistensi terhadap berdirinya Sub Bagian Bedah Onkologi paling kuat terasa dari Bedah Umum. Beberapa kali Kepala Sub Bagian Bedah Umum, Prof. Djamaludin (alm) mengancam untuk membubarkan Sub Bagian Bedah Tumor oleh karena beliau tidak melihat esensi kepentingan dibentuknya sub bagian khusus untuk menangani kasus kanker karena beliau berpendapat (begitu pula wakilnya Dr. Syamsuhidajat) bahwa kasus kanker adalah kelainan penyakit yang berorientasi pada organ yang seharusnya ditanggulangi oleh Sub Bagian Bedah Umum saja.
Usaha Dr. W.M. Tamboenan untuk membuat protokol kanker tersendiri yang otonompun tidak direstui.
Dr. W.M. Tamboenan dan saya bergerak sangat hati-hati untuk tetap dapat mewujudkan cita-cita kami mempunyai Sub Bagian Bedah Tumor dengan program pendidikan tersendiri yang dikaitkan dengan Bedah Umum tanpa harus menimbulkan pertentangan dengan Sejawat-sejawat yang kebetulan menangani kasus kanker pada organ yang tumpang tindih dengan kegiatan kami, karena ancaman telah dikeluarkan bahwa kalau kami tidak mengindahkan hal itu maka Sub Bagian Bedah Tumor akan dibubarkan dan seluruh asisten akan ditempatkan di bawah Bedah Umum dan bila tidak setuju dipersilakan keluar dari Bagian Bedah FKUI-RSCM!
Sementara itu, di Jakarta dilakukan serangkaian diskusi dan pertemuan antara ahli bedah yang mempunyai perhatian besar akan penanganan kanker. Pada Kongres Ikatan Ahli Bedah Indonesia yang ke III di Jakarta tahun 1975 dirumuskanlah suatu Yayasan untuk mendirikan suatu perhimpunan Bedah Kanker Indonesia (Association of Surgical Oncologist) dan pada tanggal 24 Oktober 1975 di Jakarta dibentuklah suatu panitia persiapan yang dinamakan Panitia penyelidik kemungkinan pembentukan suatu perhimpunan “Bedah Kanker Indonesia” dengan nama dan susunan sebagai berikut :
Ketua : Dr. W.M. Tamboenan (Jakarta)
Wakil Ketua : Dr. I.D.G. Sukardja (Surabaya)
Sekretaris I : DR. Didid Tjindarbumi (Jakarta)
Sekretaris II : Dr. Martatko Marmowinoto (Surabaya)
Anggota : Prof. Dr. Ramlan Muchtar (Yogyakarta)
Dr. Irsan Radjamin (Palembang)
Prof. Dr. R. Koestedjo (Bandung)
Dr. Adri Manoppo (Manado)
Dr. John Pieter (Ujung Pandang)
Pertemuan organisasi berikutnya dilaksanakan pada kesempatan Seminar Kanker Nasional I tahun 1976 di Jakarta dan Kongres Ikatan Ahli Bedah Indonesia ke IV di Medan tahun 1978 dan pada tanggal 20 Januari 1979 didirikanlah Perhimpunan Bedah Kanker Indonesia di RSCM Jalan Diponegoro No. 71 Jakarta, pukul 13.00 WIB.
Rapat yang mula-mula dipimpin oleh ketua panitia Dr. W.M. Tamboenan menguraikan maksud dan tujuan rapat ini dan kemudian dengan suara bulat memutuskan mendirikan organisasi bedah baru yang dinamakan Perhimpunan Ahli Bedah Tumor Indonesia disingkat PABTI yang berbentuk badan hukum dan disahkan dengan surat Notaris Ali Harsoyo pada tanggal 3 Juni 1979 dengan pengurus pertama :
Ketua : DR. med. Didid Tjindarbumi
Wakil Ketua : Dr. I Dewa Gde Sukardja
Sekretaris : Dr. Evert D.C. Poetiray
Bendahara : Dr. Togar M. Simandjuntak
Pendiri-pendiri pertama yang hadir pada rapat tersebut adalah :
- Dr. Humala Hutagalung (Medan)
- Dr. Lucas Wiratmahusada (Semarang)
- Dr. I Dewa Gde Sukardja (Surabaya)
- Dr. Martatko Marmowinoto (Surabaya)
- Dr. John Pieter (Ujung Pandang)
- Prof. R. Koestedjo (Bandung)
- Dr. Pisi Lukitto (Bandung)
- Dr. Hasan Arief Iyad (Bandung)
- Dr. Irsan P. Radjamin (Palembang)
- Dr. Adrie Manoppo (Manado)
- Dr. W.M. Tamboenan (Jakarta)
- DR. med. Didid Tjindarbumi (Jakarta)
- Dr. Togar M. Simandjuntak (Jakarta)
- Dr. Evert D.C. Poetiray (Jakarta)
- Dr. Muchlis Ramli (Jakarta)
- Dr. Zafiral Azdi Albar (Jakarta)
Perhimpunan ini kemudian mengadakan Muktamar Nasional Pertama di Jakarta dari tanggal 29 s/d 30 November 1979 yang dihadiri oleh Menteri Kesehatan Dr. Soewardjono Soerjaningrat, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan DR. Daud Yusuf dan Gubernur DKI Jakarta Jend. Purn. Tjokro Pranolo, yang kemudian Program pendidikannya diakui oleh Ikatan Ahli Bedah Indonesia pada Konferensi Kerja di Bandungan Semarang pada tanggal 27 Januari 1980, dimana pendidikan dokter spesialis II yang diakui oleh IKABI salah satunya adalah bedah onkologi yang menangani seluruh tumor yang belum dicakup oleh sub bagian lainnya. Tumor gastro-intestinal dikerjakan bersama dengan Bedah Digestif dengan protokol yang ditentukan oleh satu Team. Corong pertama PABTI dinamakan Media PABTI dengan pemimpin redaksi Dr. Idral Darwis (alm).
Pada Konferensi Kerja IV PABTI di Jakarta pada bulan Mei 1981 dibentuk suatu PABTI yang diperluas yang terdiri dari 5 cabang ilmu kedokteran lainnya yang mengutamakan pisau bedah sebagai modalitas utama untuk penanggulangan penyakit kanker. Cabang-cabang tersebut adalah Bagian Kebidanan / Obstetri, THT, Mata, Bedah Saraf dan Bedah Umum dan disahkan dalam Munas PABTI II di Jakarta tanggal 7 – 9 April 1983.
Langkah selanjutnya dari PABTI yang diperluas adalah mengusahakan pengakuan dari induk organisasi kedokteran di Indonesia, yaitu IDI untuk diakui sebagai organisasi profesi. Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan diakuinya PABTI sebagai perhimpunan dokter seminat pada Muktamar IDI yang ke XVIII di Surakarta pada tanggal 25 November 1982.
Muktamar Nasional PABTI yang ke III diselenggarakan pula di Jakarta pada tanggal 1 s/d 11 September 1987. Muktamar ini merupakan Muktamar PABTI yang terakhir oleh karena mulai saat itu PABTI menyadari sepenuhnya bahwa dalam usaha menjalankan penanggulangan penyakit kanker, PABTI harus bekerja sama dengan disiplin non-bedah lainnya yang secara nyata dalam keaktifitasan sehari-hari memegang peranan yang besar dalam pengembangan dan penanganan masalan ilmu penyakit kanker. Oleh karena itu pada Muktamar Ke III PABTI didapatkan kesepakatan antara anggota-anggota PABTI agar penanganan masalah kanker ditangani secara multi disipliner dan ini dirasakan sebagai suatu kebutuhan bersama yang perlu dikelola dengan lebih baik. Setelah menimbang dan memperhatikan segala aspek yang berkaitan dengan pengembangan suatu organisasi maka PABTI kemudian tahun 1987 meleburkan diri menjadi Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) dengan Ketua Umum I adalah penulis sendiri. Organisasi ini sekarang tidak hanya terdiri dari cabang bidang bedah saja melainkan juga dari cabang ilmu non-bedah.
Untuk melestarikan pengembangan ilmu bedah onkologi, maka ahli bedah yang berasal dari cabang ilmu bedah umum mendirikan perhimpunan bedah onkologi tersendiri yang dinamakan PERABOI yang kemudian disahkan sebagai anak organisasi IKABI pada Munas IKABI ke VIII di Ujung Pandang pada tanggal 9 – 12 Juli 1984.
P.P. PERABOI yang pertama diketuai oleh DR. I.D.G. Sukardja dari Surabaya dan mendapat mandat untuk menjalani kepengurusan organisasi selama 4 tahun.
Seiring dengan itu maka Subbagian Bedah Onkologi / HNB di FKUI-RSCM Jakarta mendapat mandat penuh dari P.P. PERABOI untuk menjadi senter pendidikan bedah onkologi / HNB pertama di Indonesia dengan kurikulum pendidikan selama 2 tahun setelah selesai pendidikan ahli bedah umum.
Pendidikan ahli bedah onkologi / HNB di Jakarta dimulai pada tahun 1986 dan itu dimungkinkan oleh karena adanya lampu hijau dan restu dari Kepala Bagian Ilmu Bedah FKUI-RSCM yang saat itu dijabat oleh Dr. Irawan Suria Santoso (alm) Direktur RSCM yang saat itu dijabat oleh Prof. DR. Roekmono dan Dekan FKUI yang saat itu dijabat oleh Prof. Dr. Asri Rasad, Ph.D.
Adapun “trainee” pertama yang dididik di Jakarta pada waktu itu adalah :
Dr. Djoko Handoyo Staf pengajar Bagian Bedah FK Universitas Diponegoro, Semarang
Dr. Henry Naland Ahli Bedah DepKes staf di RSKD Jakarta
Dr. Gerald Panjaitan Staf pengajar Bagian Bedah FK Universitas Sumatera Utara, Medan
Dr. Tjipto Sumartono Ahli Bedah DepKes staf di RSKD, Jakarta
Dr. Burmansyah Staf pengajar Bagian Bedah FK Universitas Sriwijaya, Palembang
Pada tahun-tahun berikutnya yaitu pada tahun 1994 senter pendidikan bedah lainnya di Indonesia yaitu Bandung dan Ujung Pandang diakui pula oleh P.P. PERABOI untuk membuka program pendidikan tambahan Bedah Onkologi/HNB sebagai sub spesialisasi dari Ilmu Bedah.
Saat ini sudah ada 13 pusat pendidikan bedah yang telah membuka Sub Bagian Bedah Onkologi / HNB di Indonesia, yaitu Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta,Surakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, Ujung Pandang dan Manado.
Pusat pendidikan Bedah Onkologi sudah terdapat di 5 kota di Indonesia yaitu Jakarta, Bandung, Makasar, Denpasar dan Semarang.
- Jakarta, tahun 1984
- Bandung, tahun 1994
- Makasar, tahun 1997
- Semarang, 16 Februari 2007
- Denpasar, 16 Februari 2007
Jumlah anggota PERABOI penuh di seluruh Indonesia sampai dengan 1 Oktober 2009 tercatat 94 orang, sedangkan jumlah trainee sebanyak 22 orang
- Jakarta, 7 orang
- Bandung, 6 orang
- Makasar, 4 orang
- Semarang, 3 orang
- Denpasar, 2 orang
Hingga saat ini masih banyak terjadi kontroversi mengenai definisi setepatnya siapakah yang disebut seorang ahli bedah tumor.
Lord Kelvin seorang ahli bedah ternama di Inggris menulis: bila saudara memahami dan menguasai apa yang saudara katakan dan dapat mengutarakan itu dengan data yang konkret maka saudara setidak-tidaknya mengetahui lebih banyak dari orang lain mengenai penyakit yang saudara tangani. Hal itu pun diperkuat oleh George Park seorang ahli bedah terkenal di Amerika Serikat dan murid dari James Ewing yang menyatakan, haruslah dibedakan antara seorang ahli bedah yang mengerjakan kasus kanker hanya sekali-sekali dengan seorang ahli bedah yang mengkhususkan dirinya terus menerus dalam penanggulangan penyakit kanker. Yang terakhir ini adalah ahli bedah tumor sebenarnya. Hal itupun diutarakan oleh Yosef H. Pilch penulis buku “Surgical Oncology” dari University of California, San Diego School of Medicine pada tahun 1984.
Mengapa cabang ilmu bedah onkologi begitu banyak menimbulkan perdebatan, ini disebabkan oleh karena cabang ilmu kedokteran lainnya lebih cepat berkembang menjadi jurusan ilmu kedokteran yang berorientasi pada penyakit (disease oriented) seperti rheumatology, allergy, endrocrinology, hematogy, nephrology, immunology dsb. Sedangkan cabang ilmu bedah masih tetap saja berkembang menurut orientasi organ (region oriented).
Oleh karena kanker dapat tumbuh di semua organ tubuh kita, maka ahli bedah yang menangani kanker menurut orientasi organ hanya sekali-sekali menangani kanker yang kebetulan mengenai alat tubuh yang diminatinya seperti leher/kepala, thorax, gastro-intestinal, urologi dsb, sedangkan penanganan bedah terhadap neoplasma memiliki persoalan khusus yang lebih pelik mengingat sifat dan perangai sel kanker yang tidak menghormati batas-batas fisiologi dari organ tubuh kita, sehingga untuk memberikan penilaian (“judgement”) yang tepat serta tindakan (terapi) yang benar seorang ahli bedah wajib memiliki pengetahuan dasar yang cukup mengenai ilmu bedah umum dan ilmu onkologi khususnya.
Saat ini telah menjadi kenyataan bahwa di dunia dan juga di Indonesia penyakit kanker merupakan penyakit yang mendapat perhatian penuh dari pemerintah Negara setempat. Ini dibuktikan dengan dibentuknya Komisi Nasional Penanggulangan Kanker oleh Departemen Kesehatan RI pada tahun 1989 dengan ketua Dr. Broto Wasisto yang pada waktu itu menjabat Dirjen Yankes dan didirikannya RS Kanker Nasional Dharmais di Jakarta yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1994.
Pada saat ini saya teringat pada pesan almarhum Guru saya Dr. W.M. Tamboenan, pada waktu beliau mengundurkan diri dari bagian Bedah FKUI-RSCM karena masa pensiunnya telah tiba (1979), berjuanglah terus agar ilmu bedah onkologi dapat diterima oleh kawan-kawan dari bagian Bedah lainnya sehingga kelak cabang ilmu bedah ini dapat diakui pula di Indonesia.
Setelah 30 tahun kita dapat menatap dengan penuh bangga bahwa perjuangan untuk membentuk sub bagian bedah baru membuahkan hasil yang sangat menggembirakan dan jangan pula kita melupakan jasa 2 anggota PERABOI lainnya, yaitu Prof. Dr. Muchlis Ramli dan Prof. DR. Tjakra Manuaba yang berhasil menempatkan PERABOI sebagai anggota penuh dari World Society of Surgical Oncology, organisasi internasional dalam bidang bedah onkologi yang menentukan pedoman / guideline for surgical oncology training di dunia.
Mudah-mudahan apa yang telah dirintis dengan susah payah oleh pendiri-pendiri PABTI sejak tahun 1979 dapat ditingkatkan dan dikembangkan lebih baik oleh penerus sekarang demi mutu ilmu bedah umumnya dan ilmu bedah onkologi khususnya dan demi kemaslahatan masyarakat dan bangsa Indonesia seluruhnya di waktu yang akan datang.



Hebat ya….
Sukses selalu….^^
Makasih Mala
dok berapa jumlah pasien bedah di indonesi dan di dunia
Wah saya nggak tahu mas
Mohon infonya perihal tempat prakterk Dr. Evert D.C. Poetiray adanya selain di RSCM dimana ya? Atas informasinya saya ucapkan terima kasih.
Mbak Rina masih atas kunjungan dan pertanyaannya. Guru saya itu pratel di RSPAD Gatot Subroto
Dok..apabila saya mau konsultasi operasi tahi lalat,baiknya ke dokter kulit atau dokter onkologi? Rumah saya di Bandung,tolong minta infonya Rumah sakit atau Klinik yang bagus untuk saya konsultasi..terima kasih
Mbak Sendi makasih atas kunjungan dan pertanyaannya. Untuk operasi yang bersifat pengobatan sebaiknya jke dokter onkologi Mbak. Kalau saya tentu mengatakan RS Muhammadiyah karena saya praktek disitu. he he he
dok, kenapa PERABOI tidak memperbolehkan SpB menjalani pendidikan sub Onkologi apabila tidak besal dari center pendidikan. Kami yang berada di daerah juga ingin intensifikasi ilmu kami ke jenjang subspesialis. Satu lagi dok yang saya lihat saat ini center pendidikan Onkologi msh belum standard/sama. contoh kenapa tidak semua center punya mammografi.
Mas Hendra makasih atas kunjungan dan pertamyaannya. Untuk dididik di Onkologi Anda hanya harus melamar dan bila dianggap mmenuhi persyaratan pasti diterima
mau tanya kalau dokter onkologi disolo siapa ya
Saya tanya dulu ya Mbak
Dok..sy berumur 26 th, sudah mendapatkan menstruasi sejak umur 13 tahun,tapi payudara saya tidak berkembang.. saya memiliki payudara lengkap sprt puting dan aerola.. Gimana solusinya Dok spy payudara sy bs berkembang? Dan apakah berpengaruh pada saat menyusui ? Dan ke dokter bagian apa sy hrs prg?
Trimz Dok
Mbak Sherly makasih atas kunjungan dan pertanyaannya, Tidak berpengaruh pada menyusui Mbak. Kalaupun diperbaiki itu hanya untuk kosmetik jadi menurut saya lebih baik diterima saja.
Terima kasih Dok atas info nya.. Maaf sy mau bertanya lagi.. Hal ini dikarenakan apa ya Dok, masalahnya di keluarga sy tdk ada kelainan sprt ini? Dan apakah nantinya kalau sy punya anak, payudara sy bs mengeluarkan ASI, karena payudara sy benar2 kempes..
Trimz Dok
Mbak Sherluy makasih atas kunjungan kembalinya. Bisa Mbak karena masalahnya bukan kecil atau besar payudara tetapi kelenjar air susunya.
Trima Kasih banyak atas info nya Dok. Sy juga baca beberapa artikel mengenai tanaman Pueraria Mirifica dari Thailand yang konon dapat memperindah bentuk payudara. Banyak yang menjual dalam bentuk kapsul dan berkhasiat. Apakah tanaman tersebut aman untuk di konsumsi ya Dok ?
Trimz Dok
Mbak Sherly makasih atas kunjunagnnya dan maaf sekali saya tidak bisa menjawab pertanyaannya karena tidak menguasainya.
asslmkm, salam kenal ok, dok suami saya 3 th yg lalu dilakukan scan dengan hasil tak tampak uptake pada defek uptake superior lobus kanan. total uptake 9% (normal 1-5%).tak tampak uptake pada regio colli lainnya, kesan: cold nodule lobus superior kanan, uptake dalam batas normal. yg ingin saya tanyakan apakah ini termasuk tumor jinak atau ganas, dan haruskah dilakukan operasi sesegera mungkin, mengingat sdh 3 th ini suami saya takut untuk di operasi, dan kira2 siapa y dok, dokter onkologi yg sudah berpengalaman dan bagus dibidang bedah onkologi, sblm nya terima kasih ya dok atas perhatiannya, dan saya sangat menunggu jawaban dari dokter, wass
Mbak Humaira, makasih atas kunjungan dan pertanyaannya. Kelihatannya suami menderita tumor tiroid yang cold nodule karena tidak bisa menyrerap Jodium. Pada laki-laki kelainan sejenis ini dicurigai ganas. Karena itu sebaiknya suami segera menjalani operasi untuk menentukan jenis dan mengobatinya. Untuk dokternya itu tolong Mbak memmberitahulan posisi suami.
ini humaira lg dok, trm ksh dok atas penjelasannya, btw posisi saya dan suami ada di karawaci tangerang, sebenarnya saya sudah menyarankan suami untuk di operasi saja, tapi suami selalu tidak mau, dgn alasan takut setelah dioperasi malah tambah parah, takut ada syaraf yg rusak dan akhirnya bikin nggak bisa bicara, apalagi dulu suami melakukan scan nya d RS.Dharmais, yang notabene nya bnyk penderita kankernya, baru duduk sedikit dpt teman ngobrol orang sakit kanker, yang ada suami saya malah tmbh paranoid dok, mohon arahannya dok, kira2 apa yang harus saya lakukan selanjutnya
Mbak Humaira makasih atas kunjungan ulangnya. Sebaiknya pendekatan kepada suami dilakukan bersama dengan dokter keluarga atau keluarga yang dokter supaya tidak merasa takut yang berlebihan.
Asslm dok, saya seorang ibu (33 thn) dgn 1 putra. Beberapa hari terakhir ini payudara kanan saya terasa gatal, setelah saya cek ternyata ada benjolan kecil dan kasar (seperti eksim) di bawah puting daerah aerola. Ketika saya pencet, keluar cairan bening dan lengket. Kira2 itu apa ya dok?
Asslm dok, saya ibu 35 th, dr hasil usg diketahui ada multiple cyst di payudara kanan dan kiri. saya pernah periksa, oleh dokter hanya disuruh memantau. dr mamografi katanya bukan kanker. apakah lewat mammo bisa diketahui kanker tidaknya, setahu saya hrs dibiopsi khan? adakah cara lain utk menyembuhkannya, saya ingin kista ini benar2 hilang. Trims byk atas jawabannya
Mbak Dewi makasih atas kunjungannya. Betul sekali Mbak. Mamografi tidak bisa dinilai di umur Mbak. Bila ragu sebaiknya biopsi.
mammograf is like d’pancake machine
Setuju
Dok mau tanya u dokter bedah leher-kepala d semarang dengan siapa y?dan alamat prakteknya d mana?terimakasih
Dokter Subiyanto Mas. Alamat prakteknya bisa ditanyakan di RS Sarjito
dok,mau bertanya..bpk saya didiagnosa (diff.dignosis) dg. pseudomixoma peritonei & ascites carsinomatosis. Skrg sdg dirawat di RS Fatmawati & akan direncanakan akan diambil cairan. Kmkn akan dirujuk ke RSCM, apakah dokter ada rekomendasi dktr siapa di RSCM yg khusus menangani kasus spt ini? atas perhatiannya,bnyk trmksh dok..
Hubungi dr Arnold Simanjuntak Mbak.
saya berusia 26 tahun. Pada saat saya SADARI, ternyata saya memiliki benjolan dibawah puting sebelah kanan PD, awalnya sebelum diraba tidak teranya nyeri (saya meraba agak lama untuk memastikan) setelah itu baru muncul rasa nyeri pada lokasi benjolan tersebut, saya belum memeriksakan kondisi saya ke rumah sakit, saya mau minta saran dokter dan rumah sakit yang recomended. apakah benjolan yang nyeri seperti itu berbahaya???
Mbak Yanti makasih atas kunjungannya. Biasanya tumor yang sakit tidak berbahaya. Untuk RS, dimanakah posisi Yanti?
oh iya dok saat ini saya tinggal di lenteng agung, jakarta selatan. adakah dokter bedah onkologi yang dokter bahar sarankan untuk saya memeriksakan kondisi saya, saat ini saya juga mengalami sesak nafas yang berkepanjangan dan juga mengalami pegal2 dipunggung belakang sebelah kanan yang tak kunjung hilang, adakah hubungannya dengan benjolan yang saya?? dokter pernah bilang di http://www.suaradokter.com/2009/06/tumor-jinak-payudara-andi_fam/comment-page-3/#comment-10215 yang di post “Biasanya Mbak Rus kanker payudara dalam keadaan dini tidak sakit karena itulah kanker payudara sering datang terlambat” dan ” Biasanya kanker akan terasa sakit bila sudah lanjut dan menyerang tulang” apakah yang saya rasakan ini bisa jadi diagnosa awal KANKER?? terimakasih banyak dok, mohon pencerahannya
Mbak Yanti makasih atas kunjungannya. Coba RS Dharmais dengan dr Ramadhan Mbak. Memang betul pada stadium dini kanker payudara tidak datang dengan nyeri. Mengani keluhan sakit tulang belakang itu saya kitra penyakit lain Mbak.
Terima kasiih untuk keterangannya,….
ohw..aku baru tau kalo rumit juga ya perjuangan bedah H.N.B a.k.a ahli bedah head neck and breast (I call like that,,he5)..tp amazin’ jg liat pasien2 bedah onko di rscm dan trainee-nya juga yg sabar plus pekerja keras tahan dg pasien banyak n op berjam2..berat ga dok ketika harus bilang “it is,in fact, cancer” kepada pasien2 yg terdiagnosa demikian?? Karna emotional connected sangaddd penting antara pasien dan dokter,,dan ketika menjelaskan tentang mastectomy maupun alhamdulillah ya sesuatu banged kl cukup lumpectomy yang akan menjadi pilihan untuk ‘survivor’ ca mamma..
Maju terus ya bedah tumor indonesia..semoga pasien2 high class kita tidak perlu ke LN khususnya Singapura yg memiliki cancer center yg jg pusat riset kanker di Asia, jika masih bisa ditangani di Indonesia
Mbak Nia makasih atas komentarnya.
selamat sore dr Bahar,
Siapakah dokter bedah onkologi yang direkomendasikan dokter untuk menangani extramammary paget disease? pasien pria berumur 85 thn.
terimakasih
Dikota apa Mbak?
di Jakarta dokter. trimksh
Dr Ramadhan Karsono, RS Dharmais
Selamat malam dok. Saya mahasiswa FK, sy sgt tertarik skali dg ilmu bedah onkologi, terinspirasi oleh dosen saya dr.henry Naland, Sp.B(K)Onk. Beliau baik pintar dlm mengajar. Sy mau bertanya, apakah benar hrus mll Sp.B bru melanjutkan ke sub spesialisasi onkolog? Lalu bagaiaman kompetensi seoarang Sp.B(K)Onk dok, apakah ca.digestive, ca.tulang, ca.saraf msh kompetensi dokter bedah onko?
Terima kasih banyak dok.
Betul Mas Yosep. Saat ini harus jadi bedah umum dulu. Dan bedah onkologi masih terbatas pada kepala, leher dan payudara
Terima kasih dok. Saya mau nanya lg. Apakah boleh menagmbil subspesialis bedah onkologi di Luar negeri? Apakah stlh kembali dari Luar negeri, sy hrus penyesuaian lg di universitas negeri, atau lgsg diakui oleh PERABOI?
Adaptasi Mas. Biasanya sih lulus saja
Nice sharing, doc
Sy tertarik sekali dengan ilmu onkologi ini. Apa di luar negeri ada program langsung spesialis bedah onkologi? Mohon info dok..
Mbak Moniq makasih ya. Ada Mbak tapi memang harus lewat ahli bedah umum dulu.
Selamat pagi Dok,
Nama saya Salita,(32 tahun),saya mau bertanya: saya ada benjolan di bagian Paru2 kanan diantara sela iga ke 5-6,Sebelah pinggir kanan(berdasarkan Xray 23 juni 2010),CT Scan Thorax 8 july 2010,Biopsy 26 agustus 2010,hasil tidak ada sel ganas,kemudian saya mendapat therapy TBC selama 6 bulan,hasil Xray masih sama,sampai dengan saat ini keluhan yang saya rasakan adalah Nyeri spt ditusuk-tusuk disekitar daerah benjolan tebus sampai ke punggung, rasa tidak nyaman pegal-pegal menjalar sampai ke leher,bahu dan tangan kanan(keluhan ini hanya terasa di sebelah kanan saja),saya minta saran dokter,sebaiknya saya berobat ke bagian apa krn keluhan saya masih sama belum ada perbaikan?mohon minta rekomendasi ke rs mana dan ke dokter spesialis apa untuk penanganan penyakit saya?terimakasih banyak
Mbak Salita makasih ya. Tolong diberitahu Mbak itu dikota apa?
selamat siang dokter bahar,,
saya merasa sangat sulit sekali mencari dokter wanita untuk spesialis bedah tumor. daerah jakarata. boleh saya minta rekomendasi dari dokter?
terima kasih
spesialis bedah tumor payudara
Aslm dokter,nama saya rozi, saya mau bertanya,orang tua saya pernah operasi ca mammae lebih kurang 4 tahun yang lalu dengan mastektomi + kemoterapi,,terahir kontrol lebih kurang 2 tahun yang lalu,,Kalau sekarang orang tua saya mau kontrol ulang, apa saja yang harus diperiksa??terima kasih sebelumnya dok,,,
Dok. Saya bingung dg berbagai informasi ttg ppds bedah onkolog. Kalau sy ambil bedah umum dan bedah onkolog di luar negeri, apakah sekembalinya sy k indonesia sy hny diakui sbg bedah umum sj atau bedah onkolog? Apakah sy hrus penyesuaian bedah umum dl, atau bs langsung penyesuaian bedah onkolog saja? Terima ksh banyak dok.
Hal ini tolong di tyanyakan di Peraboi yg ada disemua rs pendidikan negeri spt RSCM, RSHS dll
Selamat malam Dok,
Saya baru saja melakukan pemeriksaan USG Breast dan Mammography karena merasakan benjolan di payudara sebelah kanan, yang kadang terasa berdenyut- denyut seperti ada bisul.
Hasil USG Breast nya:
Dextra: structure echo parenkim jaringan fibroglandular dalam batam normal
Pada jam 10/paraareola tampak leak hypoechoic homogen dental kista kecil didalamnya.
Ukuran lesi +/- 2 X 1.6 X 2 cm.
Duktus-duktus laktiferus dilatasi.
Tak tampak pembesaran kelenjar getah bening pads aksilia.
Sinistra:
Strukture echo parenkim jaringan fibroglandular dalam batas normal.
Tampak multiple kista kecil-kecil pada:
Jam 9/paraareola ukuran +/- 0.339 X 0.636 cm; 0.25 X 0.48 cm; 0.43 X 0.4 cm
Jam 2/paraareola ukuran +/- 0.3 X 0.27 cm
Jam 6/paraareola ukuran +/- 0.33 X 0.3 cm
Duktus-duktus laktiferus dilatasi
Tak tampak pembesaran kelenjar getah bening pada aksiilla.
Hasil Mammography complete:
Mammae dextra
Kutis dan subkutis normal,tak tampak retraksi pads papilla.
Pada kuadran atas lateral tampak lesi hyperdens dental halo sebagian.
Tak tampak makrokalsifikasi / mikrokalsofikasi pada parenkim mammae
Tak tampak pemebesaran kelenjar getah benign pads axilla
Mammae sinistra
Kutis dan subkultis normal,tak tampak retraksi pada papilla
Tak tampak lesi terbatas atau stellata pads parenkim mammae
Tak tampak makrokalsifikasi / mikrokalsifikasi pada parenkim mammae
Tak tampak pembesaran kelenjar getah bening pada axilla
Dokter yang memeriksa Saya menyatakan itu tumor dan menyarankan untuk melakukan biopsi atau operasi. Bagaimana menurut Dokter? Sebagai tambahan info, saat diperiksa itu tensi darah Saya adalah 180 / 110 dan usia Saya 36 tahun.
Terimakasih dan mohon tanggapannya…
Mbak Shelvi, saya setuju untuk operasi memastikannya walaupun kmungkinan besar jinak tapi obati dulu tekanan darah tingginya
hallo,dok..menarik sekali blognya..
kalo boleh saya nanya,dok..tante saya menderita kanker payudara sblh kiri 1 thn yg lalu,kemudian 1 bln yg lalu keluar cairan dan benjolan di ketiak.tante saya juga ada keluhan sulit berjalan.dari dokter onkologi lgsg dikemo,dok tnpa fnab lagi..ct-scanx hasil metastasis vertebrae thorakal & gambaran osteolitik.rencana kemo 6kali,dokter.sya mo nanya,dok prognosis ke depan tante saya gimna,dokter?bgamna juga dgn tulangx krn efek kemo sendiri bikin osteoporotik?
Mbak Christine yang penting adalah kanker payudara dapat diobati dengan sasaran memperbaiki kualitas hidup misalnya ketiak tidak basah lagi. Untuk sembuh sempurna seperti dulu jarang sekali Mbak kecuali bila diobati dlm stadium dini. Oh ya tentu saja setiap obat mempunyai gejala smaping yang penting harus diambil yg lebih banyak manfaat dan paling sedikit mubazirnya
Mat malam dok, saya mau tanya..saya penderita alergi berat (20 alergi), bentuknya gatal terutama dipayudara. Jadi daerah sekitar payudara selalu gatal, selalu dioles salep. Akhir2 membuat saya gelisah krn ada kanker payudara yg berbentuk seperti paget (kasar, kering dan gatal). Saya merasakan seperti itu dok..menurut dokter perlukah saya ke dokter onkologi utk periksa dan rs mana mgkn ada dokter onkologinya (saya tinggal daerah cipulir). Makasih dok..
Kalau Cipulir bisa ke RS Fatmawati Mbak. Umurnya berapa Mbak?
Umurnya 35 tahun dok, lebih baik mamografi ato usg dok?
USG Rini
Saya tunggu jawabannya ya dok..
Selamat siang dok…saya Venny (32 tahun),saya da USG sebulan lalu dan ternyata da benjolan di kedua payudara saya..suspect FAM…,kemudian br hr ni ambil hasil USG n mamo….n ternyata di payudara kanan da 2 benjolan, saya mau hanya dok..dalam aktif satu bulan bisa ada tumbuh benjolan lg? Bahaya kaga ya dok,makasih
Mbak fenny, FAM bisa tumbuh berapapun dan kapanpun karena ia terhubung dengan pertumbuhan payudara.
dok, mau nnya, kakak sya usia hmpir 21th, tp blm pernah menstruasi, PD nya jga kecil spti tdk berkembang, tpi pernah beberapa kali ada bercak smpai beberapa hari (itu cma sdikit skali dok darahnya), dulu pernah k dokter spesialis kandungan, katanya rahimnya kecil dok, lalu apa yg hrus dilakukan dok? trm ksh sarannya
Mbak hayuk, ciba dibawa ke dokter spesialis kebidanan konsultan endokrin
Dok, ibu saya ada benjolan dipayudara, tapi takut periksa, smentara ini sering minum rebusan daun sirih, saya hendak periksakan beliau, oleh krn itu mohon informasi runtutan step by step medical treatmentnya apa yg harus dilakukan dari awal (ke dokter mana dl, melakukan apa,dsb), lokasi saya di semarang.
Mohon bantuannya ya dok.Terima kasih banyak ^ ^
Mbak Pipit coba ibunya dibawa ke dr Subiyanto SpBkOnk, beliau teman saya.
Terima kasih infonya dok..untuk dokter yang lain siapa ya, Dok ? kami berencana lebih dari satu dokter. Terima kasih
Ada beberapa di RS Dharmais Mbak silakan tanya saja disitu
Dok, saya pernah operasi fam 6 th yll dengan dr sutjipto di rs tebet. Sekarang ada keluhan sakit di payudara tsb. Mau kontrol ke dr sutjipto tapi kabarnya beliau sudah meninggal. Tolong info dr mana yang baik untuk konsultasi…terimakasih Dok
Coba ke dr Ramadhan Karsono di YKI atau RS Dharmais
Dok, apakah dr ramdhan praktek di rs lain selain dharmais /YKI? thanks infonya yah Dok
Nggak tahu lagi Mia.
Saya mau nanya,ibu saya kena kanker payudara udah 3x kemo dan udah operasi pengangkatan kanker,tapi sekarang malah jadi begini,tangan kiri bengkak,jalan cuman bisa sebentar,duduk juga cuma sebentar bisanya,tulang bagian belakang sakit,bagian pinggang juga,tiap malem tidak bisa tdur,kLau tidur pun paling cuma stngah jam.
Solusinya gmna ni dok?
Saya tinggal disemarang
Mas Risno, mungkin penyakit ibu sdh menjalar ke tulang. Kemo 3 kali rasanya kurang lengkap ya. Coba di Semarang cari dr Subiyanto SpBkONk.
Dr, sminggu yg lalu saya bangun tidur leher seperti salah urat,sy pikir salah posisi tidur,tp setelah sy amati timbul benjolan di leher depan bawah sebelah kiri hampir ke tengah..kira2 apa ya? Dr ONCOLOGI yg recomanded klo sy di daerah cibubur siapa ya?trima ksh..
Coba ke RSUP fatmawati Mbak
Maaf Dr, umur saya 36 thn..
Dr, nama saya nicole, umur saya 28 tahun…1 minggu yang llu saya mengalami nyeri dan sakit pada payudara bagian kiri dan ada benjolan…kira-kira ada rekomendasi dri Dr spesialis untuk memeriksakan payudara???
lokasi saya di jakarta.thx
Coba dr Ramadhan Karsono SpBkOnk di RS Dharmais Slipi Jakarta
dokter,nama saya winda usia saya 24thnz. saya tinggal d semarang. saya maw konsul ney dok, knpa y payudara saya kanan n kiri sering bgt nyeriny. udh lma dok smnjak punya baby. mohon infony. tq dok
Mbak Winda, nyeri payudara itu biasa dan sering tidak diketahui sebabnya tp tidak berbahaya.
Apa kabar dok , semoga sehat selalu yah ,,, dok saya punya saudari umur 23 thn , dan dia memiliki seperti urat atau benjolan di kedua ketiak nya , terkadang nyeri apakah itu normal dok? mohon pencerahan nya dok , terima kasih ,,,
Tentu saja tidak biasa Pandu walaupun belum tentu tidak normal. Coba ke dokter bedah untuk diperiksa.
ada rekomen dok , dokter bedah / rumah sakit yang bagus dan harga nya terjangkau ,,, terima kasih
Cari dr ramadhan karsono di YKI Cilandak.
saya tinggal di jakarta
Dokter Bahar. Ibu saya, tinggal di Jakarta, usia 76 tahun menderita kanker liver. Mengingat usia, kami ingin mencari opsi pengobatan tanpa operasi. Saya baca di internet tentang opsi seperti RFA dan TACE. Apakah di Jakarta opsi ini tersedia ? Bisa direkomendasi di RS mana di Jkt sebaiknya saya membawa ibu saya, dan bertemu dengan dokter siapa? Tk banyak sebelumnya.
Coba ke RS Dharmais Bekti
dokter bahar sy ingin bertanya, sy tinggl d batam. Ibu sya usia 50 th, beliau mendrta kanker payudara. mei 2010 kanker trsbt udh d operasi kmdian mnjlni radioterapi & kemotrafi 6 kli. juni 2011 sy membwa ibu sya kembali k jkrta utk chek up CA lg. hasilny kanker tlh mnyebar ktulang belakang. kmdian ibu sya diradioterapi lg 10 kli. & ibu sya dsarankn kembali cek up 2 bln kmdian. kmi pun plg k btm. 2 bln kmdian sy ingin mbwa ibu k jkrta lg tp ibu sy mlh tdk dpt lg bgun dr tmpt tdr hingga saat ini. 3 mggu ini ibu sy mengalami diare trs mnrus & trdpt benjlan dbagian prut knan. krn tkut ibu lemas d akbtkan diare, sy bwa beliau ke rs stmpt. hasil pemeriksaan diagnosa dkter kemngkin kanker tlh mybar ke usus besar. saat ini sya bnr2 sdg bingung dok.. kmn sy hrs konsultasi? penanganan & obat sprti apa yg hrs sy berikn? hrskah sy kembali ke jkrta utk konsul tnpa mbwa ibu sy? mohon solusi ny dkter bahar.
Reva, kemungkinan sdh menyebar ke hati. Kalau mau ke Jkt, ibu juga perlu dibawa.
dok tante sy didiagnosis dg ca sel squamos lidah,rekomendasi dokter k-l yg baik d jkt siapa y dok?praktek dmn?selain itu ada pilihan terapi lain tidak selain surgery kemo dan radiasi?tk
Coba dr Sonar di RS Dharmais.
Dr. Bahar saya ada luka di atas tumit kaki sebesar 3 ml berbentuk seperti gunung berapi. bahwa lukanya tdk pernah kering lubangnya. kemudian dioperasi kecil 2 kali dan pada akhirnya pada tahap penyembuhan (diberi salep) setelah bulak balik ke dr kulit 4 x ganti selama hampir 6 bulan. pertanyaannya : diatas dari luka yang telah sembuh tadi ada 2 luka baru hampir 2 bulan dgn pola yang sama. sudah check tdk mempunyai sakit manis. Apakah saya perlu melakukan biopsi ? thanks Hadi
Perlu Hadi setiap luka yang tidak sembuh dalam 2 minggu sebaiknya biopsi.
Dokter, saya merasakan nyeri yang menetap, di payudara kiri dekat ketiak kiri sejak November tahun lalu. Nyerinya tetap, hanya konsistensinya yang berubah-ubah. Sudah semingguan ini konsistensi nyeri bertambah, mirip seperti memar rasanya. Tahun lalu saya pernah USG Payudara di bulan April 2011, tapi hasilnya bagus.
Apakah keluhan nyeri ini berbahaya ? Kemanakah harus di konsultasikan ?
Thanks
Biasanya kalau hanya nyeri tidak berbahaya Bu
salam,
Dok mau tanya, klo Dr.Hj. Nina….dokter Anak dari RS.Muhammadiyyah Bandung, buka praktek di tempat lain ga ya..? terimakasih informasinya
salam
GAni
Saya tanyakan besok ya.
Dokter, mau tanya nih. Dipayudara kiri pas disamping puting saya ada benjolan sebesar kelereng. Hal ini sudah saya ketahui sejak 5 tahun yang lalu. Tapi saya biarin karena pikir itu adalah kelenjar. Sekarang sudah punya 1 anak tapi benjolan itu masih ada dan tidak sakit.akan terapi akhir2 ini puting saya agak sakit jika di sentuh. Kira2 apa yang harus saya lakukan ya dok.. Kira kira ada recomend dokter untuk pemeriksaan tersebut, dimana domisili saya di kota Medan … Terima kasih sebelumnya dokter.
Coba ke dr Emir Pasaribu SpB k Onk, kawan saya.
Umur saya sekarang 29 tahun dok
Dokter Bahar, saya didiagnosis menderita kanker sarcoma GIST (Gastrointestinal Stromal Tumor). GIST di usus halus ukurannya 10 cm, dan metastasis ke liver ukuran 12 cm. Diagnosa saya dapatkan melalui biopsi di penang. Menurut dokter onkologi paling pengalaman dengan GIST di jakarta. Supaya saya tidak usah jauh2 ke penang. Terimakasih dokter.
Pertanyaannya apa Mas?
Maaf dokter, saya tidak memberikan question mark. Menurut dokter, dokter onkologi yang pengalaman dengan kanker GIST di Jakarta siapa dok? Biar saya tidak usah jauh2 ke penang.
Semua dokter bedah bedah digestiv bisa.
Dokter,saya nurul dari palembang
Mau tanya dok, ibu saya meninggal karena kanker payudara saat umur 29tahun dok,apakah ada kemungkinan saya menderita kanker jg dok? Brp persen kemungkinannya dok
Saya menderita tumor jinak 1×1 cm di dada kanan dok,minggu ini mau di operasi, apakah nanti setelah dioperasi saya sembuh total dan tidak menderita penyakit ini lagi dok
Thx
Dari sama2 anak yang mempunyai ibu penderita kanker payudara kira-kira 1-2%
Dok, sekitar Feb lalu sy merasakan seperti ada denyutan di payudara kanan saya. Tapi kadang. Karena khawatir sy cek ke dokter di RSPAD lalu di USG saat maret 2013-nya. Hasil USG bersih tidak ada benjolan atau apapun. Tapi denyutan itu msh kadang sy rasakan dan bikin sy stress. Kira-kira apa ya Dok? Sy bingung hrs bgmn, atau ke dokter apa. Sy di Cibubur Dok. Ada dokter yg direkomendasikan di Cibubur?Satu lagi, sejak setahun lalu, pada lipatan paha kanan sy ada benjolan 1cm, kata dok onkologi itu pembengkakan kelenjar. Tapi saat itu sy hanya dikasih antibiotik saja. Karena tdk mengganggu, sy agak tenang. Apa yg hrs sy lakukan Dok? Terima kasih