Skip to content


Sejarah PERABOI

peraboiSejarah terbentuknya Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (PERABOI)

oleh D. Tjindarbum dibacakan pada Muktamar Nasional PERABOI VIII di Bandung. Dimuat atas izin penulis.

Lahirnya setiap cabang ilmu kedokteran selalu memiliki catatan menarik, demikian pula halnya dengan sejarah terbentuknya bedah onkologi di Indonesia.

Kelahiran setiap cabang ilmu kedokteran baru merupakan proses sesuai dengan okupasi yang telah mengalami perubahan karakteristik secara meningkat. Hal itu pernah dikemukakan R. Syamsuhidajat dalam sebuah tulisan bertajuk :

“Pengembangan suatu Cabang Ilmu Kedokteran menjadi Profesi”

Pendirian bedah onkologi di Indonesia tidak bisa dilepas dari nama Dr. W.M. Tamboenan sekembalinya beliau dari Amerika Serikat pada tahun 1962 setelah mempelajari bedah kanker di University of Washington. Bedah onkologi juga melewati proses serupa. Pada awalnya sekelompok manusia mulai mengerjakan jenis pekerjaan yang sama secara “full time” dan kemudian mereka menentukan batas-batas bidang kerjanya.

Kelompok awal berikut yang mengikuti jejak tersebut dalam perkembangannya mulai menyadari bahwa sebuah pendidikan yang lebih intensif perlu dilakukan agar mereka bisa mendapatkan keterampilan yang lebih baik. Dari sini kemudian berkembang babak selanjutnya yaitu usaha untuk membakukan pendidikan tersebut berikut latihan. Hal ini dinyatakan dengan berdirinya tempat pendidikan sekaligus tempat latihan tersebut yang dititipkan pada perguruan tinggi atau sebuah lembaga yang bekerja sama dengan sebuah universitas.

Para pendidik bersama para pemula yang aktif yang telah berhasil merintis fase ini menyusun organisasi tingkat lokal yang dalam perkembangannya kemudian meluas ke tingkat nasional dan internasional.

Embrio organisasi inilah yang kemudian memperjuangkan diri agar bisa memperoleh pengakuan dalam bentuk monopoli ketrampilan baik secara “de facto” dari warga masyarakat calon pengguna ketrampilan mereka maupun secara “de yure” dari otoritas kesehatan pemerintah. Tahap akhir adalah menyusun pedoman pendidikan yang dilengkapi dengan rumusan kode etik selaku pedoman utama untuk menata perilaku para anggotanya.

Ketika saya mulai mengikuti pendidikan Ilmu Bedah di FKUI-RSCM pada tahun 1965/1966 unit bedah yang dipimpin oleh Prof. Oetama (alm) terdiri dari 7 sub bagian :

  1. Sub Bedah umum : dipimpin oleh Prof. Djamaludin (alm)
  2. Sub Bedah urologi : dipimpin oleh Prof. Oetama (alm) sendiri
  3. Sub Bedah orthopedie : dipimpin oleh Dr. Subijakto (alm)
  4. Sub Bedah plastik : dipimpin oleh Dr. Munajat (alm) yang kemudian menjadi Guru Besar Bedah Plastik.
  5. Sub Bedah Toraks dan vaskuler : dipimpin oleh Dr. Iwan Surya Santoso (alm)
  6. Sub Bedah anak : dipimpin oleh Dr. Adang Zainal Kosim (alm)
  7. Klinik Tumor : dipimpin oleh Dr. W.M. Tamboenan (alm)

Khususnya klinik tumor mulai bereksistensi pada tahun 1962 di bagian bedah FKUI-RSCM oleh karena pendirian klinik tersebut direstui oleh Prof. Margono Soekarjo (alm) yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Bagian Ilmu Bedah FKUI-RSCM.

“Mengapa klinik tumor saat itu diperkenankan untuk bereksistensi ?”

Oleh karena kasus-kasus kanker yang begitu banyak tidak dapat ditangani sendiri oleh sub bagian bedah umum oleh karena disamping kasus bedah umum, sub bagian bedah umum juga menangani kasus traumatologi dimana saat itu Prof. Djamaludin (alm) hanya dibantu oleh seorang asisten yaitu Dr. Syamsuhidajat yang sekaligus menjabat “Chief de Clinique” di bagian ilmu bedah FKUI-RSCM.

Pada waktu itu Prof. Djamaludin (alm) dan Dr. Syamsuhidajat masih tetap menangani kasus-kasus kanker payudara, kanker leher kepala terutama tiroid dan kanker jaringan penunjang yang masih “operable”, yang tidak lagi operable ditangani oleh Dr. W.M. Tamboenan yang pada waktu itu dibantu oleh Dr. Indradi yang kemudian menjadi ahli ortopedi dan Dr. Willy Hadisumarto (alm).

Pada perkembangan selanjutnya, ketika penulis selesai menjalani pendidikan Ahli Bedah Umum tahun 1970, penulis diminta untuk ikut bergabung dalam Klinik Tumor sebagai asisten ketiga. Dalam tahun yang sama, klinik tumor berubah nama menjadi Sub Bagian Bedah Tumor yang tetap berada dibawah naungan Bedah Umum dibawah kepemimpinan Prof. Djamaludin (alm).

Sementara itu 2 sub bagian lainnya yaitu bedah Ortopedi dan bedah Plastik berhasil mengembangkan diri menjadi jurusan cabang ilmu bedah baru yang berdiri sendiri dan diakui sebagai cabang spesialisasi resmi (dapat memberikan sertifikat keahlian).

Sub Bagian Ilmu bedah lainnya yang mencoba untuk mempunyai kurikulum tersendiri, yaitu Bedah Thorax dan Bedah Anak, berhasil pula mendapatkan otonomi tersendiri meskipun belum merupakan cabang ilmu bedah yang otonom, ini disebabkan oleh karena organ-organ yang perlu dibedah tidak banyak bersinggungan dengan organ program bedah umum.

Pada waktu itu spesialisasi cabang ilmu bedah masih berorientasi pada organ manusia (“organ oriented”).

Usaha Dr. W.M. Tamboenan (alm) untuk mendapatkan otonomi yang lebih luas di Sub Bagian Bedah Tumor menghadapi tantangan yang sangat berat dari hampir semua kepala sub bagian oleh karena dikhawatirkan bahwa Bagian Bedah Tumor akan menganeksasi semua penyakit kanker yang terkena pada organ manusia, apalagi setelah Sub Bagian Bedah Tumor diperkuat oleh 4 tambahan asisten baru, yaitu Dr. Togar M. Simandjuntak (1974), Dr. Evert D.C. Poetiray (1974), Dr. Muchlis Ramli (1977), Dr. H. Zafiral Azdi Albar (1979) dan alm. Dr. Idral Darwis (1983).

Resistensi terhadap berdirinya Sub Bagian Bedah Onkologi paling kuat terasa dari Bedah Umum. Beberapa kali Kepala Sub Bagian Bedah Umum, Prof. Djamaludin (alm) mengancam untuk membubarkan Sub Bagian Bedah Tumor oleh karena beliau tidak melihat esensi kepentingan dibentuknya sub bagian khusus untuk menangani kasus kanker karena beliau berpendapat (begitu pula wakilnya Dr. Syamsuhidajat) bahwa kasus kanker adalah kelainan penyakit yang berorientasi pada organ yang seharusnya ditanggulangi oleh Sub Bagian Bedah Umum saja.

Usaha Dr. W.M. Tamboenan untuk membuat protokol kanker tersendiri yang otonompun tidak direstui.

Dr. W.M. Tamboenan dan saya bergerak sangat hati-hati untuk tetap dapat mewujudkan cita-cita kami mempunyai Sub Bagian Bedah Tumor dengan program pendidikan tersendiri yang dikaitkan dengan Bedah Umum tanpa harus menimbulkan pertentangan dengan Sejawat-sejawat yang kebetulan menangani kasus kanker pada organ yang tumpang tindih dengan kegiatan kami, karena ancaman telah dikeluarkan bahwa kalau kami tidak mengindahkan hal itu maka Sub Bagian Bedah Tumor akan dibubarkan dan seluruh asisten akan ditempatkan di bawah Bedah Umum dan bila tidak setuju dipersilakan keluar dari Bagian Bedah FKUI-RSCM!

Sementara itu, di Jakarta dilakukan serangkaian diskusi dan pertemuan antara ahli bedah yang mempunyai perhatian besar akan penanganan kanker. Pada Kongres Ikatan Ahli Bedah Indonesia yang ke III di Jakarta tahun 1975 dirumuskanlah suatu Yayasan untuk mendirikan suatu perhimpunan Bedah Kanker Indonesia (Association of Surgical Oncologist) dan pada tanggal 24 Oktober 1975 di Jakarta dibentuklah suatu panitia persiapan yang dinamakan Panitia penyelidik kemungkinan pembentukan suatu perhimpunan “Bedah Kanker Indonesia” dengan nama dan susunan sebagai berikut :

Ketua : Dr. W.M. Tamboenan (Jakarta)
Wakil Ketua : Dr. I.D.G. Sukardja (Surabaya)
Sekretaris I : DR. Didid Tjindarbumi (Jakarta)
Sekretaris II : Dr. Martatko Marmowinoto (Surabaya)
Anggota : Prof. Dr. Ramlan Muchtar (Yogyakarta)
Dr. Irsan Radjamin (Palembang)
Prof. Dr. R. Koestedjo (Bandung)
Dr. Adri Manoppo (Manado)
Dr. John Pieter (Ujung Pandang)

Pertemuan organisasi berikutnya dilaksanakan pada kesempatan Seminar Kanker Nasional I tahun 1976 di Jakarta dan Kongres Ikatan Ahli Bedah Indonesia ke IV di Medan tahun 1978 dan pada tanggal 20 Januari 1979 didirikanlah Perhimpunan Bedah Kanker Indonesia di RSCM Jalan Diponegoro No. 71 Jakarta, pukul 13.00 WIB.

Rapat yang mula-mula dipimpin oleh ketua panitia Dr. W.M. Tamboenan menguraikan maksud dan tujuan rapat ini dan kemudian dengan suara bulat memutuskan mendirikan organisasi bedah baru yang dinamakan Perhimpunan Ahli Bedah Tumor Indonesia disingkat PABTI yang berbentuk badan hukum dan disahkan dengan surat Notaris Ali Harsoyo pada tanggal 3 Juni 1979 dengan pengurus pertama :

Ketua : DR. med. Didid Tjindarbumi
Wakil Ketua : Dr. I Dewa Gde Sukardja
Sekretaris : Dr. Evert D.C. Poetiray
Bendahara : Dr. Togar M. Simandjuntak

Pendiri-pendiri pertama yang hadir pada rapat tersebut adalah :

  1. Dr. Humala Hutagalung (Medan)
  2. Dr. Lucas Wiratmahusada (Semarang)
  3. Dr. I Dewa Gde Sukardja (Surabaya)
  4. Dr. Martatko Marmowinoto (Surabaya)
  5. Dr. John Pieter (Ujung Pandang)
  6. Prof. R. Koestedjo (Bandung)
  7. Dr. Pisi Lukitto (Bandung)
  8. Dr. Hasan Arief Iyad (Bandung)
  9. Dr. Irsan P. Radjamin (Palembang)
  10. Dr. Adrie Manoppo (Manado)
  11. Dr. W.M. Tamboenan (Jakarta)
  12. DR. med. Didid Tjindarbumi (Jakarta)
  13. Dr. Togar M. Simandjuntak (Jakarta)
  14. Dr. Evert D.C. Poetiray (Jakarta)
  15. Dr. Muchlis Ramli (Jakarta)
  16. Dr. Zafiral Azdi Albar (Jakarta)

Perhimpunan ini kemudian mengadakan Muktamar Nasional Pertama di Jakarta dari tanggal 29 s/d 30 November 1979 yang dihadiri oleh Menteri Kesehatan Dr. Soewardjono Soerjaningrat, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan DR. Daud Yusuf dan Gubernur DKI Jakarta Jend. Purn. Tjokro Pranolo, yang kemudian Program pendidikannya diakui oleh Ikatan Ahli Bedah Indonesia pada Konferensi Kerja di Bandungan Semarang pada tanggal 27 Januari 1980, dimana pendidikan dokter spesialis II yang diakui oleh IKABI salah satunya adalah bedah onkologi yang menangani seluruh tumor yang belum dicakup oleh sub bagian lainnya. Tumor gastro-intestinal dikerjakan bersama dengan Bedah Digestif dengan protokol yang ditentukan oleh satu Team. Corong pertama PABTI dinamakan Media PABTI dengan pemimpin redaksi Dr. Idral Darwis (alm).

Pada Konferensi Kerja IV PABTI di Jakarta pada bulan Mei 1981 dibentuk suatu PABTI yang diperluas yang terdiri dari 5 cabang ilmu kedokteran lainnya yang mengutamakan pisau bedah sebagai modalitas utama untuk penanggulangan penyakit kanker. Cabang-cabang tersebut adalah Bagian Kebidanan / Obstetri, THT, Mata, Bedah Saraf dan Bedah Umum dan disahkan dalam Munas PABTI II di Jakarta tanggal 7 – 9 April 1983.

Langkah selanjutnya dari PABTI yang diperluas adalah mengusahakan pengakuan dari induk organisasi kedokteran di Indonesia, yaitu IDI untuk diakui sebagai organisasi profesi. Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan diakuinya PABTI sebagai perhimpunan dokter seminat pada Muktamar IDI yang ke XVIII di Surakarta pada tanggal 25 November 1982.

Muktamar Nasional PABTI yang ke III diselenggarakan pula di Jakarta pada tanggal 1 s/d 11 September 1987. Muktamar ini merupakan Muktamar PABTI yang terakhir oleh karena mulai saat itu PABTI menyadari sepenuhnya bahwa dalam usaha menjalankan penanggulangan penyakit kanker, PABTI harus bekerja sama dengan disiplin non-bedah lainnya yang secara nyata dalam keaktifitasan sehari-hari memegang peranan yang besar dalam pengembangan dan penanganan masalan ilmu penyakit kanker. Oleh karena itu pada Muktamar Ke III PABTI didapatkan kesepakatan antara anggota-anggota PABTI agar penanganan masalah kanker ditangani secara multi disipliner dan ini dirasakan sebagai suatu kebutuhan bersama yang perlu dikelola dengan lebih baik. Setelah menimbang dan memperhatikan segala aspek yang berkaitan dengan pengembangan suatu organisasi maka PABTI kemudian tahun 1987 meleburkan diri menjadi Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) dengan Ketua Umum I adalah penulis sendiri. Organisasi ini sekarang tidak hanya terdiri dari cabang bidang bedah saja melainkan juga dari cabang ilmu non-bedah.

Untuk melestarikan pengembangan ilmu bedah onkologi, maka ahli bedah yang berasal dari cabang ilmu bedah umum mendirikan perhimpunan bedah onkologi tersendiri yang dinamakan PERABOI yang kemudian disahkan sebagai anak organisasi IKABI pada Munas IKABI ke VIII di Ujung Pandang pada tanggal 9 – 12 Juli 1984.

P.P. PERABOI yang pertama diketuai oleh DR. I.D.G. Sukardja dari Surabaya dan mendapat mandat untuk menjalani kepengurusan organisasi selama 4 tahun.

Seiring dengan itu maka Subbagian Bedah Onkologi / HNB di FKUI-RSCM Jakarta mendapat mandat penuh dari P.P. PERABOI untuk menjadi senter pendidikan bedah onkologi / HNB pertama di Indonesia dengan kurikulum pendidikan selama 2 tahun setelah selesai pendidikan ahli bedah umum.

Pendidikan ahli bedah onkologi / HNB di Jakarta dimulai pada tahun 1986 dan itu dimungkinkan oleh karena adanya lampu hijau dan restu dari Kepala Bagian Ilmu Bedah FKUI-RSCM yang saat itu dijabat oleh Dr. Irawan Suria Santoso (alm) Direktur RSCM yang saat itu dijabat oleh Prof. DR. Roekmono dan Dekan FKUI yang saat itu dijabat oleh Prof. Dr. Asri Rasad, Ph.D.

Adapun “trainee” pertama yang dididik di Jakarta pada waktu itu adalah :

Dr. Djoko Handoyo Staf pengajar Bagian Bedah FK Universitas Diponegoro, Semarang

Dr. Henry Naland Ahli Bedah DepKes staf di RSKD Jakarta

Dr. Gerald Panjaitan Staf pengajar Bagian Bedah FK Universitas Sumatera Utara, Medan

Dr. Tjipto Sumartono Ahli Bedah DepKes staf di RSKD, Jakarta

Dr. Burmansyah Staf pengajar Bagian Bedah FK Universitas Sriwijaya, Palembang

Pada tahun-tahun berikutnya yaitu pada tahun 1994 senter pendidikan bedah lainnya di Indonesia yaitu Bandung dan Ujung Pandang diakui pula oleh P.P. PERABOI untuk membuka program pendidikan tambahan Bedah Onkologi/HNB sebagai sub spesialisasi dari Ilmu Bedah.

Saat ini sudah ada 13 pusat pendidikan bedah yang telah membuka Sub Bagian Bedah Onkologi / HNB di Indonesia, yaitu Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta,Surakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, Ujung Pandang dan Manado.

Pusat pendidikan Bedah Onkologi sudah terdapat di 5 kota di Indonesia yaitu Jakarta, Bandung, Makasar, Denpasar dan Semarang.

  • Jakarta, tahun 1984
  • Bandung, tahun 1994
  • Makasar, tahun 1997
  • Semarang, 16 Februari 2007
  • Denpasar, 16 Februari 2007

Jumlah anggota PERABOI penuh di seluruh Indonesia sampai dengan 1 Oktober 2009 tercatat 94 orang, sedangkan jumlah trainee sebanyak 22 orang

  • Jakarta, 7 orang
  • Bandung, 6 orang
  • Makasar, 4 orang
  • Semarang, 3 orang
  • Denpasar, 2 orang

Hingga saat ini masih banyak terjadi kontroversi mengenai definisi setepatnya siapakah yang disebut seorang ahli bedah tumor.

Lord Kelvin seorang ahli bedah ternama di Inggris menulis: bila saudara memahami dan menguasai apa yang saudara katakan dan dapat mengutarakan itu dengan data yang konkret maka saudara setidak-tidaknya mengetahui lebih banyak dari orang lain mengenai penyakit yang saudara tangani. Hal itu pun diperkuat oleh George Park seorang ahli bedah terkenal di Amerika Serikat dan murid dari James Ewing yang menyatakan, haruslah dibedakan antara seorang ahli bedah yang mengerjakan kasus kanker hanya sekali-sekali dengan seorang ahli bedah yang mengkhususkan dirinya terus menerus dalam penanggulangan penyakit kanker. Yang terakhir ini adalah ahli bedah tumor sebenarnya. Hal itupun diutarakan oleh Yosef H. Pilch penulis buku “Surgical Oncology” dari University of California, San Diego School of Medicine pada tahun 1984.

Mengapa cabang ilmu bedah onkologi begitu banyak menimbulkan perdebatan, ini disebabkan oleh karena cabang ilmu kedokteran lainnya lebih cepat berkembang menjadi jurusan ilmu kedokteran yang berorientasi pada penyakit (disease oriented) seperti rheumatology, allergy, endrocrinology, hematogy, nephrology, immunology dsb. Sedangkan cabang ilmu bedah masih tetap saja berkembang menurut orientasi organ (region oriented).

Oleh karena kanker dapat tumbuh di semua organ tubuh kita, maka ahli bedah yang menangani kanker menurut orientasi organ hanya sekali-sekali menangani kanker yang kebetulan mengenai alat tubuh yang diminatinya seperti leher/kepala, thorax, gastro-intestinal, urologi dsb, sedangkan penanganan bedah terhadap neoplasma memiliki persoalan khusus yang lebih pelik mengingat sifat dan perangai sel kanker yang tidak menghormati batas-batas fisiologi dari organ tubuh kita, sehingga untuk memberikan penilaian (“judgement”) yang tepat serta tindakan (terapi) yang benar seorang ahli bedah wajib memiliki pengetahuan dasar yang cukup mengenai ilmu bedah umum dan ilmu onkologi khususnya.

Saat ini telah menjadi kenyataan bahwa di dunia dan juga di Indonesia penyakit kanker merupakan penyakit yang mendapat perhatian penuh dari pemerintah Negara setempat. Ini dibuktikan dengan dibentuknya Komisi Nasional Penanggulangan Kanker oleh Departemen Kesehatan RI pada tahun 1989 dengan ketua Dr. Broto Wasisto yang pada waktu itu menjabat Dirjen Yankes dan didirikannya RS Kanker Nasional Dharmais di Jakarta yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1994.

Pada saat ini saya teringat pada pesan almarhum Guru saya Dr. W.M. Tamboenan, pada waktu beliau mengundurkan diri dari bagian Bedah FKUI-RSCM karena masa pensiunnya telah tiba (1979), berjuanglah terus agar ilmu bedah onkologi dapat diterima oleh kawan-kawan dari bagian Bedah lainnya sehingga kelak cabang ilmu bedah ini dapat diakui pula di Indonesia.

Setelah 30 tahun kita dapat menatap dengan penuh bangga bahwa perjuangan untuk membentuk sub bagian bedah baru membuahkan hasil yang sangat menggembirakan dan jangan pula kita melupakan jasa 2 anggota PERABOI lainnya, yaitu Prof. Dr. Muchlis Ramli dan Prof. DR. Tjakra Manuaba yang berhasil menempatkan PERABOI sebagai anggota penuh dari World Society of Surgical Oncology, organisasi internasional dalam bidang bedah onkologi yang menentukan pedoman / guideline for surgical oncology training di dunia.

Mudah-mudahan apa yang telah dirintis dengan susah payah oleh pendiri-pendiri PABTI sejak tahun 1979 dapat ditingkatkan dan dikembangkan lebih baik oleh penerus sekarang demi mutu ilmu bedah umumnya dan ilmu bedah onkologi khususnya dan demi kemaslahatan masyarakat dan bangsa Indonesia seluruhnya di waktu yang akan datang.


121 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. Tyas says

    Yth. Dokter Bahar
    1. Saya Tyas (28 tahun) mempunyai tahi lalat di dagu, disekitarnya sering tumbuh jerawat. Saat ini, jerawat yang tumbuh di sebelahnya persis ada 2, tahi lalat ikut membengkak karena ada nanah dlm jerawat tersebut. Sudah saya konsultasikan dengan dokter kulit dan katanya tidak apa-apa. Apa kemungkinan tahi lalat tersebut termasuk tumor.
    2. Saya juga memiliki benjolan di kaki sebelah kanan dan ditumbuhi rambut, kelihatan seperti tahi lalat besar dan menonjol. Baru ada kurang lebih 2 tahun ini. Saya tanyakan kepada dokter kulit katanya sejenis tumor dan sebaiknya dioperasi. Sebaiknya saya konsul ke dokter bedah onkologi atau langsung saja ke dokter bedah umum/plastik untuk rencana operasi?

    Terima Kasih banyak.

  2. tian says

    Yth. Dr. Bahar
    Nama saya tian, saya mau tanya nih, dari seminggu yang lalu lidah saya sakit dan rasanya seperti keram, dan mulai dari kmarin lidah saya berdarah tanpa sebab juga sariawan saya belum sembuh padahal sudah mengkonsumsi cukup vit c, apa kah itu gejala kanker lidah ?
    dan kalau memang kanker lidah, harus dgn jalan apa agar kankernya tidak menyebar ?

    • Dokter Bahar says

      Mungkin ya mungkin tidak. Coba periksa ke dokter bedah onkologi mungkin perlu biopsi.

  3. anne says

    yth dokter Bahar .
    sy sorg irt umur 40 thn. Dok,di sekitar puting payudara sy ke2x trdpat benjolan2 kecil jika di raba at di elus sdikit sj, bnjolan2 itu timbul mngeras pd prmukaan kulit. tadix sy tdk mngkwtirkn tpi akhir2 ini yg di bagian kiri ada 1 bnjolan yg kyakx mulai mmbesar n trasa sakit n spertix smacam jerawat yg punya titik kliatan sperti nanah jg sluruh bgian pyudra kiri trasa nyeri smua. 3 hari sy mrasakn nyeri sperti itu. Dok sejak saat itu sy mulai trasa sdh tdk nyaman badan trasa seakan baru habis kerja berat padahal sy tdk melakukn krj ygberat2. klo dlu iya sy hoby mngerjakn pekerjaan laki,tpi skrg ……..,masakpun sy enggan. krn sdh ada sdra2 yg ikut dgn kita. sebnarx sy punya niat cek ke surabaya tpi sy masih bingung tntng RS n Dr yg tepat di sna. maklum Dok,,,sy jg msih hitung biaya kali2 sy n suami tdk mampu. kami tggal di papua. Dok besar harapan sy atas saran n solusi Dokter. mohon maaf sbsar2nya klo tulisan ini trkesan curhat.GBU

  4. GTB Siburian says

    Pak Bahar yth,
    Saya dengar telah ditemukan obat pertuzumab (perjeta) yang telah terbukti ampuh untuk melawan kanker tapi sayangnya obat tersebut belum dapat dipergunakan di Indonesia. Apa yg akan dan telah dilakukan oleh Peraboi dan Ikabi untuk hal ini, terutama agar PT. Askes dapat mengadakannya.

  5. Is Marshall says

    Salam kenal dok, saya ada informasi mengenai produk bioteknologi berupa “messenger molecules” utk pengobatan imunoteraphy utk kanker dan tumor, yg dapat meningkatkan sistem imun khususnya menaikkan fungsi NK sel sampai dengan 437% dan efektivitas nya setara serum interleukin-2 dimana penelitian tesebut sdh dimulai sejak tahun 1949 dan molekul tsb baru bisa di ekstraksi setelah ditemukan teknologi nano di awal dasawarsa yg lalu, penemuan ini sangat ilmiah dan diakui oleh dunia kedokteran serta sudah banyak di publikasikan di jurnal-jurnal kedokteran terkenal spt woodland,pubmed dll, semoga informasi ini bermanfaat untuk dokter dan kita semua, terima kasih

1 2



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.