Shaum adalah satu-satunya ujian yang dinilai langsung, real time oleh Allah swt. Sabda Nabi saw: “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.’” (HR. Muslim no. 1151) http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/ganjaran-untuk-orang-yang-berpuasa.html
Nilainya dapat nol, rata-rata, baik dan sempurna.
Nol diperoleh bila sewaktu shaum masih melakukan perbuatan tercela. Sabda Nabi saw: yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra dalam hadits sebagai berikut, Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan buruk maka Allah tidak memerlukan ia meninggalkan makan dan minumnya. (Abu Hurairah)[i]
Hal ini dapat dimaklumi karena bagiNya, derajat manusia yang tidak bisa menguasai hawa nafsunya lebih rendah dari binatang. FirmanNya: “ Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. (8: 022).
Rata-rata – cukup dan sempurna dijelaskan oleh Imam Al Ghazali. Menurut beliau rata-rata ialah orang-orang yang bershaum sesuai dengan syariat shaum; cukup, selain itu, ia juga menjauhkan pikiran dan anggota badannya dari dosa; dan sempurna, ia menahan diri dari segala kenikmatan duniawi dan menjauhkan hati dari segalanya kecuali Allah swt.
[i] Al Albani 602



0 Responses
Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.