“Saya setuju operasi,” kata Dokter Bobi. Bu Dudung dan Een berpandang-pandangan. Magrib itu, mereka datang ke tempat praktek Dokter Bobi, adik Pak Dudung di klinik Bunga Raya, Jakarta.
“Kenapa Dimas?” tanya Bu Dudung.
“Tumornya bulat, padat, tegas batasnya, mobil tapi yang penting dan faktor resikonya.”
“Bude?”
“Ya, selain itu Een cepat sekali datang bulannya.”
“Menarche?” tanya Een. Ia menyimpan black berry nya.
Dokter Bobi mengangguk.
“Alternatif, gimana Oom?’
Dokter Bobi senyum. “Misalnya?’
“Itu lho Oom yang mindahin ke kambing.” Een melihat bb nya. “Di Karawang Oom.”
“Nggak bahaya kan Dimas.” Bu Dudung menyambung. “Toh hanya mindahin.”
Dokter Bobi menghela napas panjang dan melepasnya perlahan. “Judi Teh.”
Bu Dudung membenarkan rambutnya. “Judi gimana Dimas?”
“Yah kalau sembuh aman tapi kalau tidak.” Dokter Bobi menekan-nekan keyboard. “Terlambat.” lanjutnya.
Bu Dudung menatap tajam. Suaranya mengeras. “Bude kan pakai bekam dan pijit.”
Seorang perawat masuk. Dokter Bobi melihatnya dan berkata “Suruh OK menunggu sebentar ya.”
“Gimana Oom?” tanya Een.
Dokter Bobi senyum meledek. “Star trek dong,” lanjutnya.
BB Een berdering. Dikeluarkan, dilihat dan dimatikan. “Apa hubungannya Oom?”
“Pernah nonton nggak?”
“Pernah dong.”
“Nah gimana Kapten Kirk dan anak buahnya dalam sekejap bisa sampai di planet Bayor?”
“Pindah kan…”
“Ya mereka pakai alat transporter beam. Jadi molekul tubuh mereka dipisah dan dikirim ke tujuannya.”
“Hubungannya dengan Karawang apa Oom?” Een memperhatikan Oomnya penuh tanda tanya.
“Nah si Dukun harus menguraikan dulu molekul tubuh Een. Kemudian ia memisahkan tumor. Kemudian ia harus menyusun lagi molekul itu menjadi Een…”
“Oom…”
“Dimas..”
Dokter Budi menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tanggung Teh.” Ia membuka kacamatanya. “Nah baru ia menguraikan molekul kambing, memasukkan tumor itu kedalamnya dan…”
“Menyusunnya kembali. Bisa dong” kata Een.
“ Teori.”
“Prakteknya?”
“Pernah nonton film The Fly?”
“Ah itu oldies banget Dimas.”
“Ya Teh tapi disitu juga ada transporter alat untuk disintegrator-integrator, memecah molekul dan menyatukannya.”
Een senyum.
“Nah akhirnya lalatnya berkepala manusia.”
“Itu kan fiksi Oom. Ini kan fakta.”
“Een, Teteh” Dokter Bobi memasang lagi kacamatanya. “Nah si Dukun harus tahu pasti tumornya, dimana dan besarnya. Kalau kepala yang besar bisa ketukar apalagi tumor yang hanya sebesar kacang itu.”
“Tapi Dukun itu kan punya mejik Oom.”
“Betul.” Dokter Bobi senyum. “Kasian kambingnya,” lanjutnya.
“Kan akhirnya dimakan juga Dimas,” Bu Dudung membantu.



0 Responses
Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.