Skip to content


Pencegahan primer malpraktik kedokteran

Sarana pembelajaran

Tahun ini pemerintah melalui Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) memulai kala pertama usaha pencegahan primer malpraktik (malpraktek) kedokteran yang dilakukan berkesinambungan setiap lima tahun   terhadap setiap praktisi dokter.

KKI adalah lembaga negara yang didirikan untuk mengatur praktik kedokteran agar selalu dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu / teknologi kedokteran dan disisi lainnya memberikan perlindungan hukum dan kepastian baik bagi dokter ataupun pasien. Netralitas atau ketidakberpihakan KKI baik kepada dokter ataupun pasien tercermin dari susunan 17 orang anggotanya. Praktisi kedokteran termasuk kedokteran gigi diwakili oleh 6 orang; insitusi pendidikan kedokteran, 2; rumah sakit pendidikan, 2; tokoh masyarakat, 3; departemen kesehatan, 2; dan departemen pendidikan 2.

Malpraktik kedokteran adalah suatu keadaan dimana dokter lalai bertindak sesuai dengan kelaziman profesi dan hal itu menjadi penyebab utama dari cedera yang diderita pasien.

Bila kelaziman profesi atau standar kerja dokter ditetapkan oleh perhimpunan profesi, maka pendidikan dan pembinaan penyelenggaraan praktiknya dilakukan oleh KKI.  Perhimpunan profesi itu adalah Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang menghimpun berbagai cabang disiplin kedokteran seperti dokter spesialis penyakit dalam oleh Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI); ahli kebidanan, Perhimpunan Obstetri Ginekologi Indonesia (POGI); ahli bedah onkologi, Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (Peraboi); dlsb.

Usaha pencegahan primer ini adalah penilaian terhadap kompetensi (cukup berkualitas, mampu dan ahli) untuk melakukan praktik kedokteran. Penilaian dilakukan melalui registrasi atau pencatatan dari aktivitas semua dokter yang berpraktik di Indonesia.  Keputusannya bervariasi dari diizinkan tetap berpraktik; boleh berpraktik sesudah menambah ilmu dan ketrampilan di sentra pendidikan; dan pencabutan izin praktik.

Adapun yang dinilai adalah: 1. Hasrat belajar dari dokter baik dengan mengikuti berbagai kursus ataupun simposium dan seminar;  2. Pengalaman kerjanya di rumah sakit dan praktik pribadi; 3. Hasratnya untuk mengembangkan ilmu kedokteran baik dengan menulis tulisan ilmiah baik di majalah ataupun buku; 4. Empatinya pada masyarakat dengan ikut serta dalam berbagai bakti sosial ataupun pendidikan seperti di website kita ini; 5. Kesediaannya untuk berjanji mematuhi etika kedokteran dan siap menjalani sangsi apabila melanggar; dan 6. Siap sehat jasmani dan rohani untuk berpraktik.

Pada akhirnya kita berharap agar malpraktik kedokteran karena tindakan yang tidak sesuai dengan kelaziman profesi dapat dicegah.

Posted in Kedokteran.

Tagged with , , .


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.