Skip to content


Kankerina: Strategi

Tumor yang "gede" saja Dok

“Menurut saya harus diambil semuanya Non.”

“Semuanya, Dok?“

“Ya dengan riwayat Susan, kakakmu, semua tumor itu harus diyakinkan jinak”

“Nggak ada jalan lain Dok?”

“Nggak ada Non”

“Biopsi jarum?”

“Itu kan seperti menobak ikan dilaut. Riskan. Belum tentu dapat ikannya, Non. Saya tidak menganjurkan Non.”

“Begini saja Dok. Ambil yang besar di kanan yang lain jarum saja.”

“Tanda tangan surat pernyataan ya.”

“OK”

“Biopsi jarum dengan dokter PA ya, bukan dengan saya.”

“Baiklah Dok.”

Seminggu kemudian

Sudut putih berkabung. Ribuan norma mati di berbagai ruang apartemen. Smart bomb pisau bedah ternyata tidak kuasa membedakan Norma dan Kankerina. Sia-sia, pikir Emak Norma.

Di sudut hitam, bos Kankerina tersenyum puas.  Tidak satupun tusukan pedang FNA mengenai kaumnya. Persiapannya sempurna. Kankerina sudah diungsikannya jauh dari gerombolan Norma. Mundur untuk maju, pikirnya. Perjalanan masih panjang. Walaupun sudah mencapai bilangan jutaan, kaum norma belum terpinggirkan apalagi dengan dinding apartemen yang belum runtuh. Otaknya berpikir keras. Mungkin tahunan diperlukan untuk mencapai sasarannya. Terngiang-ngiang ditelinganya dongengan menjelang tidur dari pengasuhnya. Sungai limfe dan darah yang kaya dengan makanan. Mereka bisa bermigrasi ke muaranya dan menetap disitu.

Terbangun, ia segera mengumpulkan kaumnya. Ide yang bagus tertancap di benaknya. Ia tersenyum dan berpidato. “Hari-hari mendatang ujian untuk kaum kita akan bertambah berat.” Ia diam sejenak. “Ini perintah harian untuk dilaksanakan,” sambungnya menggelegar. Satu. Jebak dan bunuh setiap Norma yang kamu temui. Dua. Percepat berketurunan. Tiga. Rampas bahan makanan mereka. Empat. Gedor terus dinding apartemen ini. Lima. Cari dan laporkan titik lemah di dinding.”

Emak Norma membaca laporan hal gerakan di sudut hitam. Ia sadar akan keadaan kaumnya. Mereka bukan tandingan Kankerina. Kutukan mengancam dibalik tubuh yang normal. Mereka patuh akan hukum. Mereka tidak siap melawan kaum Kankerina yang menghalalkan segala cara untuk menang. Klik neoplasma. Dalam mimpinya ia melihat keruntuhan apartemen, limbah bertumpuk menyebarkan aroma yang berbau apak. Dia hanya bisa berdoa.

Semoga Nona turun tangan menyelamatkan apartemennya yang indah ini.

Posted in Onkologi, Payudara.

Tagged with , .


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.