Skip to content


Kankerina: Bulan Purnama

Hiperekoik

FAM: Norma yang bergerombol

Pagi itu Nona minum ponstan yang diresepkan dokter. Baru tadi malam ia merasa nyeri sekali. Aneh bagi remaja putri ini karena walaupun selalu datang menjelang mens, serangan ini luar biasa sakitnya.

12 jam sebelumnya

Pesta Kankerina mencapai puncaknya. Semuanya berjingkrak-jingkrak kesurupan. Perusakan dimulai. Mereka menghantam dinding rumah dengan palu, membongkar jendela, mencongkel, memukul dlsab namun rumah itu tidak bergeming.

Emak Norma tersenyum pahit. Ia sadar akan bahaya bulan purnama ketika Estrogen datang menghampiri. Tuan Reseptor, kontraktor akan memperluas apartemen. Tapi itu adalah persiapan menyambut putra mahkota dan bukan lahan pesta pora.

Mata Mak menyipit. Pemandangan itu menusuk hatinya. Bandel. Sekelompok Norma bergerombol. Sudah berkali-kali diingatkannya bahwa malam purnama selalu akan datang . Menyambutnya adalah dengan bekerja di daerah kerja masing-masing. Banyak sekali yang harus dikerjakan. Memang Estrogen membawa pesan untuk memperluas apartemen. Memang perluasan itu dikerjakan. Semuanya menuntut penyesuaian. Tidak lama lagi hujan Prolactin akan datang dan Tuan Reseptor akan memperluas kolam susu. Ruangan bukan hanya kembali seperti semula malah menyempit. Bergerombol akan membahayakan Nona.

Bergerombol hingga terlihat benjol akan menyamarkan Kankerina. Memang tertib, tidak merusak tapi bagaimanapun dinding apartemen akan terdesak. Nona akan merasakannya sebagai nyeri. Alih-alih, bukannya mengenal Norma tapi menganggapnya Kankerina. Padahal Kankerina sudah terkulai letih semua di sudut-sudut apartemen. Mudah-mudahan saja dokter dapat mengenalnya, pikir Emak Norma. Belum lagi bila berhembus angin TRH.. Prolactin akan semakin lebat dan Tuan Reseptor mempercepat pertambahan kolam susu. Pembuatan yang cepat ini relatif mendesak dinding hingga penyesuaian menjadi terlambat. Nona akan merasakan nyeri diseluruh payudaranya, pikirnya.

“Mudah-mudahan dokter dapat membedakan Norma dan Kankerina,” doanya

“Amin,” Norma-Norma menjawab.

“Mudah-mudahan ia dapat mendeteksi Kankerina.”

“Amin.”

Posted in Onkologi, Payudara.

Tagged with , , .


2 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. WonK SenK says

    penjelasan yang agak aneh. tapi menark juga. salam kenal

    • Dokter Bahar says

      Makasih SenK atas kunjungan dan komentarnya. Saua mencoba menerangkan hal kanker dari viualisasi sel kanker.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.