Skip to content


Ceramah Heri Fadjari: Kemoterapi pada kanker payudara (1)

Tansha, seorang ibu sekaligus wanita karir, berusia 41 tahun, datang ke praktek saya. Wajahnya yang cantik dan tampak beberapa tahun lebih muda dari usianya, tak mampu menyembunyikan kecemasannya. Setelah saya selesai memasukkan data Ny. Tansha, ia pun berkata: “dok, 3 minggu lalu saya baru operasi payudara. Menurut dokter yang mengoperasi, saya harus menjalani kemoterapi dok” Sayapun memotong perkataannya dengan bertanya: “Lalu, apa yang membuat ibu cemas?” Ibu ini bercerita bahwa semua keterangan mengenai kemoterapi yang didapat dari tetangga, saudara, maupun kawannya semuanya tidak ada yang menyenangkan.

Ny. Tansha: “dok, saya sudah bertanya kepada 4 dokter, sebelum kesini”. Kalimat ini disambung dengan cerita mengenai kemoterapi yang menurutnya sangat “menakutkan”.

Sayapun berkata: “ Semua dokter yang ibu sebut tadi adalah guru-guru saya, dan mereka benar adanya. Mengapa ibu ke saya lagi?” Jawab ibu ini: “Saya dapat referensi dari teman yang jadi pasiennya dokter juga” selanjutnya ia menunjukkan semua hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan.

Cukup lama saya meyakinkan ibu ini agar dia mengikuti apa yang disarankan oleh dokter-dokter yang ditemuinya. Singkat cerita, akhirnya Ny. Tansha bersedia di kemoterapi. Karena sayapun setuju dengan pendapat ke 4 senior saya tersebut.

Dialog seperti diatas, sering terjadi dalam keseharian praktek saya. Untunglah ibu ini masih mau bertanya ke beberapa dokter sebelum ia yakin akan dengan apa yang disarankan oleh dokternya. Beberapa penderita lain, justru mengambil terapi alternatif yang katanya hasilnya menjanjikan. Pilihan ini sangat tidak bijaksana, karena sepanjang pengetahuan saya, semua penderita yang memilih terapi alternatif, satupun tak ada yang berhasil. Kalaupun berhasil, maka kemungkinan diagnosanya yang salah.

Saya berasumsi demikian berdasarkan fakta dari banyak uji klinis yang melibatkan puluhan ribu penderita kanker payudara di seluruh dunia, bahwa dengan obat secanggih apapun, pada akhirnya kanker tersebut akan muncul kembali. Dengan kata lain belum ada satupun obat di dunia ini yang dapat menyembuhkan kanker secara total, paling tidak sampai saat ini.

Posted in Onkologi, Payudara.

Tagged with , .


3 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. Alexandrina Dumatubun says

    Maaf, dokter! Saya kurang setuju dengan pernyataan dokter pada paragraf terakhir. Alangkah sedihnya para penderita kanker payudara bila membacanya. Uji klinis bisa salah, tapi Karya Penyelamatan Penyembuhan bisa terjadi… tidak ada yang tak mungkin terjadi. Jadi semangatlah wahai para penderita kanker payudara, obat itu bukan hanya sesuatu yang diminum saja, tapi obat itu bisa didapat dari doa dan dukungan keluarga yang positif sehingga metode penyembuhan total bisa terjadi. Amin.

    • Dokter Bahar says

      atas nama dr Heri Fadjari
      Sebelum menanggapi komentarnya, perkenankan saya mperkenalkan diri. Saya Heri Fadjari. Bekerja sebagai staf di bag penyakit dalam RS Hasan Sadikin Bandung, sub bagian hematologi dan onkologi medik sejak 1997.
      Saya sangat menghargai pendapatnya.
      Saya pun sangat menyadari bahwa yang menyembuhkan BUKAN obat yang atau dokter. Kami2 ini semata2 hanya membantu menjembatani dalam menyampaikan sedikit dari ilmu Tuhan yang maha luas (dalam hal ini mengenai kanker payudara) kepada penderita-penderita kanker.
      Tulisan ini HANYA membahas dari sisi ilmiahnya saja.
      Sebagai dokter dan seseorang yang ber-agama, kamipun diajari untuk mengelola pasien secara HOLISTIK.
      Terima kasih, semoga tanggapan saya dapat lebih menjelaskan apa maksud dan tujuan tulisan ini.

      • Dokter Bahar says

        Ayas nama Alexandrina Dumatubun
        Sebelumnya, saya memperkenalkan diri. Saya, Alexandrina SK. Dumatubun, seorang karyawati swasta di Jakarta.
        Saya sangat menghargai komentar Anda. Sebagai orang awam, yang ingin mengetahui seluk-beluk penyakit kanker payudara yang akhir-akhir ini mulai meningkat, saya membaca tulisan Anda sangat baik, ringkas, dan jelas.
        Dari awal paragraf sampai akhir paragraf saya membaca dengan perlahan dan saya bisa memahaminya dengan jelas, pokok pikiran tiap paragraf saling berkaitan, dan cara penuturannya pun mudah dimengerti pembaca awam, khusus para penderita kanker itu sendiri. Namun, di akhir paragraf ada baiknya, diakhiri dengan ending yang lebih halus dan lebih memberi semangat para penderita kanker.
        Jadi tujuan saya memberi komentar, bukan untuk membantah atau ingin menggurui dokter, tidak sama sekali. Namun, saya ingin menghaluskan bahasanya saja. Supaya para penderita kanker payudara memiliki semangat hidup yang luar biasa, ketimbang harapannya untuk sembuh menjadi hancur, saat membaca paragraf tersebut.
        Kiranya dokter mengerti apa maksud saya dan tidak menyinggung perasaan para dokter yang mengasuh rubrik ini…
        Salam hormat dan salam damai ya…



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.