PENCEGAHAN KANKER PAYUDARA
Merubah Ekspresi Genetik (tulisan pertama dari 2 tulisan)
“Bagi tiap-tiap umat telah kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan ”
(QS Al Hajj: 67)
Wujud makhluk hidup, baik jasmani ataupun rohani ditentukan oleh ekspresi genetik. Keturunan Adam AS. bervariasi warna kulitnya antara lain hitam, putih, kuning dan sawo matang. Semuanya itu pun berbeda pula dalam taqwa. Demikian juga halnya dengan aneka warna bunga mawar. Perbedaan ini disebabkan oleh mutasi, suatu perubahan gen yang menetap. Gen sendiri adalah pembawa sifat yang terdapat di dalam DNA.
Kanker payudara juga merupakan ekspresi genetik.
Pencegahan kanker payudara sudah disiapkan-Nya melalui gen BRCA1 dan 2 (breast cancer type 1 dan 2). Gen ini bertugas menyeleksi sel (lihat gambar siklus sel) hingga sel kanker tidak masuk ke dalam tubuh. Mutasi gen ini akan meningkatkan resiko kanker payudara dan kanker jenis lainnya. Sifat mutasi ini diturunkan dari pihak ibu.
Selain itu ekspresi gen juga merupakan dasar pengobatan terkini kanper payudara. Monoclonal antibody therapy atau targetted therapy adalah pengobatan KPD dengan membunuh HER2/neu yang over expression (ekspresinya berlebihan). Terdapat di lapisan luar sel kanker, over exspression ini diduga menyebabkan sel kanker tumbuh dan membelah lebih cepat. Namun manfaatnya terbatas pada sebagian kecil kanker payudara yang memperlihatkan ekspresi berkelebihan itu.
Mungkinkah merubah ekspresi genetis? Mungkin.
Uni membuktikannya.
Adakah diantara Anda yang menduga bahwa Uni yang penuh gaya ini, 13 tahun yang lalu adalah pasien saya?
Ia terserang kanker di kedua payudara dan menjalani mastektomi radikal bilateral pada November 1995 disusul dengan radiasi dan kemoterapi.
Namun, ia tidak menyerah.
Uni menjalani operasi hanya selang beberapa waktu sesudah pulang dari menunaikan ibadah haji (Ali Imran: 097). Ia menjalani pengobatan seumur hidup dengan tekun (Al An’am: 135). Tiga belas tahun sudah ia menjalani follow up (kontrol) bagian vital dari paket terapi tanpa terlambat.
Ia sabar (Ali Imran: 200). Mendengar keputusan untuk mengangkat kedua payudara serta 1 bulan radiasi, 6 bulan kemoterapi dan 2 tahun terapi hormon.
Ia mensukuri nikmat-Nya atas tenaganya dengan selalu bangun pukul 4 pagi, shalat (Al Isra: 078) dan menghadiri pengajian di mesjid.
Ia mensyukuri nikmat-Nya dalam bersabar menghadapi musibah suami yang menderita glaukoma sesudah kembali ke Padang pasca kemoterapi. Ia mensyukuri nikmat-Nya karena masih diberi tenaga untuk merawat ibunya yang sepuh berusia 80an. Ia sabar pula ketika harus menjaga anak gadisnya dari dunia yang kelam ini. Ia membuat dirinya bermanfaat untuk orang-orang di sekitarnya belanja ke pasar, memasak dan membuat jus buah serta meracik obat dari Hembing.
Uni mensyukuri nikmat dan mendapatakan bantuan-Nya.
Imam al Ghazali juga menyebutkan perihal bantuan-Nya atas seorang pemuda di Madinah. Ia menuliskan sebagai berikut. Sesungguhnya Umar bin Khattab ra suatu ketika lewat di sebuah jalan dari jalan-jalan di Madinah, berpapasanlah dengannya seorang pemuda yang sedang membawa botol di bawah bajunya.
Umar berkata, ”Wahai pemuda, apakah yang kau bawa di bawah bajumu?” Padahal yang ada di dalam botol itu adalah arak, maka pemuda itu merasa malu untuk mengatakan ”Arak”. Dia berkata dalam hatinya, ”Ya Tuhanku, janganlah Engkau buat aku malu dihadapan Umar, maka aku tidak akan minum arak lagi selamanya.” Kemudian dia berkata, ”Hai Amirul Mukminin, yang aku bawa ini adalah cuka.” Umar berkata lagi, ”Coba perlihatkan kepadaku hingga aku bisa melihat.” Lalu dia membukanya di hadapan Umar dan benarlah apa yang dilihat Umar adalah cuka. (Dari Ghazali, Dibalik Ketajaman Hati, (penterjemah Sahli,M) : Amani, Jakarta, 1997 hal 49)
Allah swt menerima taubat sang pemuda dan merubah ekspresi arak menjadi cuka. ”Dan Dia-lah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya, dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Asy Syura:: 025)
Dalam keterbatasan hidayah-Nya menghadapi penyakit kanker, hanya bantuan-Nya yang dapat memenangkan jihad pribadi ini. Petunjuk yang sudah teruji kebenarannya datang dari Khalid bin Walid ra.
“…Ketahuilah bantuan itu datang sesuai dengan niat kita dan pahalanya sesuai dengan amal perbuatan kita. Tidak pada tempatnya seorang muslim akan memperhatikan yang lain disamping pertolongan Allah.”Taklimat Khalid bin Walid ra pada pasukannya. Muhammad Husain Haekal (terjemahan Ali Audah) : Abu Bakar As-Siddiq, hal 279
Dengan perintah itu di awal tahun 634, Khalid “Pedang Allah” bin Walid ra, beserta 2000 pasukannya, melintasi gurun Sahara, dari medan perang Irak ke Syam (sekarang Syria) dalam waktu dua minggu, Misinya adalah membantu gerakan 30.000 pasukan muslim yang tertahan selama 2 bulan di tepi sungai Yarmuk oleh 240.000 pasukan Romawi Timur. Dan, dengan bantuan-Nya, Khalid hanya membutuhkan waktu sehari untuk memenangkannya.
Tentu saja bantuan-Nya lebih mudah diperoleh bila kita mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, apalagi bila dikerjakan dengan tayib dan adab.





0 Responses
Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.