Secara ilmiah manfaat doa dalam penyembuhan terbukti dalam penelitian terhadap 3393 pasien pada dari tahun 1990 – 1996 oleh Leibovici. Penelitian ini menemukan bahwa doa dapat memperpendek masa rawat bagi pasien dengan demam di rumah sakit. Namun sebaliknya doa tidak memperlihatkan manfaat dalam penelitian terhadap lebih dari 1600 pasien yang menjalani operasi jantung. (American Heart Journal).
Bagaimanapun sebagai seorang muslim kita yakin dan percaya bahwa kesembuhan hanyalah milik-Nya. Peran dokter sebagai penyebabnya, tersurat pada dialog antara Ibrahim AS. dengan Allah.
Pada suatu saat ia bertanya kepada Allah.”Wahai Tuhanku! Dari manakah asalnya penyakit?” Allah menjawab,”Dari Aku.” Ibrahim AS. bertanya lagi, “Dari manakah datangnya obat?” Allah menjawab, “Dari Aku.” Ibrahim as masih bertanya ,”Jika demikian, apa peran dokter?” Allah menjawab, “Dia adalah orang yang aku kirim dan di tangannya terletak penyebab kesembuhan.” Tradisi Yahudi.
(Ibn Al-Qaiyim Al Jauziah (penterjemah H.M.A. Saaridinata): Pengobatan Menurut Petunjuk Nabi. Gemagung Ikhitiati, 2002, hal 2.
Doa adalah milik umat beragama. Ia adalah suatu sarana untuk memuja dan bermohon kepada Yang Dipercaya mengabulkannya. Namun semua agama menulis persyaratan untuk doa sembuh.
Mary Baker Eddy (1821-1910), pemerhati agama Kristen dalam cara terapi ini menulis:
“If the sick recover because they pray or are prayed for audibly, only petitioners should get well“.(Bila orang sakit sembuh karena sembahyang maka tentu hanya mereka yang bersembahyang dapat sembuh).
Dalai Lama, pemimpin Agama Budha di Tibet, mengatakan:
“Change only takes place through action, not through meditation and prayer“. (Perubahan hanya akan terjadi melalui usaha dan tidak melalui meditasi atau berdoa.)
Al Quran menyatakan bahwa usaha itu merupakan prasyarat untuk sembuh. Tertulis dalam Al Quran,
Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.” (QS 038: 042)
”… Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu kearahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu..”.(QS:19;25-26)
Dan diriwayatkan oleh Turmudzi pula, tetapi lafazhnya berbunyi,
“Orang-orang Badui menanyakan, “Wahai Rasulullah, tidakkah kami akan berobat?” Jawabnya, “ Yah, wahai hamba-hamba Allah, berobatlah kalian, karena Allah tidak menciptakan penyakit kecuali menciptakan pula baginya penyembuhnya – atau obatnya – kecuali satu macam penyakit.” Tanya mereka,: “Wahai Rasulullah, apakah itu?” Jawabnya: “ Usia tua.”
Majelis Tertinggi Urusan Keislaman Mesir: Sunnah-sunnah pilihan. Seluk beluk Penyakit Ketabiban dan Pakaian, Angkasa, Bandung hal 85.
Imam Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam yang berkata:
“Pada masa Nabi saw seorang laki-laki telah terluka dan darah telah menyumbat lukanya. Orang tersebut kemudian memanggil dua orang dokter dari bani Anmaar untuk memeriksanya. Orang tersebut mengaku bahwa Rasulullah saw bertanya kepada mereka, “Siapakah dokter yang terbaik diantara kalian?” Imam Ibn Al-Qaiyim Al Jauziah (penterjemah H.M.A. Saaridinata): Pengobatan Menurut Petunjuk Nabi. Gemagung Ikhitiati, 2002 hal 184.
Berobat diperintahkan dalam hadits sebagaimana memilih dokter yang kompeten.



0 Responses
Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.