Telah kami berikan kepadamu (Muhammad) suatu pembukaan yang nyata; sehingga Allah mengampuni dosamu yang terdahulu, menyempurnakan rahmat-Nya, memandumu ke jalan yang lurus, dan memberikan kemenangan besar untukmu. (QS 48: 1-3)
Abad kegelapan menyerang Eropa seiring dengan runtuhnya Roma. Kekuasaan dunia dan akhirat diambil alih oleh gereja. Kebencian akan keberhalaan Roma menjadi penyebab tersingkirnya segala yang bersifat Roma dan budayanya menjadi korban pelampiasan kebencian. Jika Roma memuja keindahan dan kemewahan, mereka kesederhanaan dan kepapaan. Pertentangan pendapat menjadi haram dan pengejaran atas kelompok anti-Christ menjadi suatu kelaziman.[i] Tahayul dan mistik menjadi marak. Semuanya menyebabkan kemunduran pengetahuan, termasuk ilmu obat.
Saat Eropa tenggelam di abad kegelapan, lahirlah Muhammad SAW. Ia adalah tokoh nomor satu dunia, ahli filsafat, orator, rasul, pembuat undang-undang, panglima perang, penemu ide-ide, orang yang mengembalikan dogma nasional, seorang kultus tanpa bayang-bayang dan pendiri 20 kerajaan dunia.[ii] [iii]
Berbekal makrifat, akal pikiran, dan ilmu, semua tahayul dan jimat dilenyapkan oleh Muhamad SAW. Ia membantah mistik dengan mengatakan bahwa semua penyakit ada obatnya, kecuali usia tua. Menurut Islam, sakit adalah menyimpangnya tubuh jasmani dari batas kesederhanaan yang dapat disembuhkan dengan jalan merawat dan mengobatinya secara profesional. Tugas itu dilakukan oleh tabib yang ahli tentang segala sesuatu, khususnya pengobatan penyakit. Namun, semuanya ada batasnya, yaitu ketepatan obat dan izin-Nya.
Paham mikrokosmos serta unsur air- api- udara- tanah, dijungkirbalikkan dengan astronomi. Planet Bumi bukanlah pusat dunia. Manusia bukanlah dunia dalam bentuk mini. Mereka hanyalah bagian yang tidak berarti dalam alam semesta.
Pencerahan ini bersumber pada Al-Quran yang mewajibkan manusia untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain.[iv] Imbalan yang layak bagi seorang profesional juga dicontohkan oleh Muhammad SAW tanpa memandang perbedaan warna kulit. Dari Ibnu Abbas ra yang diriwayatkan oleh Muslim, dan juga oleh Bukhari dikatakan: ”Nabi SAW dibekam oleh seorang budak milik Bani Bayadhah. Maka Nabi SAW memberinya upah dan berbicara dengan majikannya hingga diringankan pajaknya”. [v]
Perbedaan pendapat yang merupakan syarat tumbuh kembangnya sains dibenarkan. Rujukan pencarian kebenaran yang merupakan intisari sains dibenarkan tanpa melihat perbedaan bangsa dan agama. Etika sains dikukuhkan dengan iman. Tidaklah mengherankan jika Dr. Gustafe le Bond mengatakan bahwa Islam merupakan agama yang paling sepadan dengan penemuan-penemuan ilmiah.[vi]
Khusus dalam sains pengobatan, Al-Quran juga mengisyaratkan suruhan untuk mempelajari dan memperhatikan urusan kesehatan. Muhammad SAW, tokoh nomor satu Islam, meletakkan dasar sains pengobatan dengan hadits yang terkumpul dalam Al Tibb. Ia melembagakannya dengan perintah untuk berobat. Hadis itu diriwayatkan oleh Abu Daud[vii] dan berbunyi: “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan menurunkan obat, menjadikan bagi setiap penyakit itu obatnya. Maka berobatlah kamu, tetapi jangan berobat dengan barang yang haram”
Usaha Muhammad SAW dilanjutkan oleh penerusnya. Mereka memulai dengan konsolidasi yang dilanjutkan dengan pembebasan Jazirah Arab dari Persia dan Romawi Timur, dua imperium yang paling berpengaruh saat itu. Perang itu dipimpin langsung oleh Khalifah Abu Bakar as Shiddiq ra dan dilanjutkan oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra. Imperium Romawi Timur diakhiri Pedang Allah Khalid bin Walid dalam Perang Yarmuk.[viii] Imperium Persia diakhiri Sa’ad bin Wakkas, seorang sahabat Nabi dalam Perang Qadisiyah.[ix]
Penaklukan demi penaklukan meluaskan pengaruh Islam, meliputi Suriah, Mesir, Khuzistan, Arab, Persia, Armenia, Adzarbaaijaan, Fars, Kirman, Khurasan, Makran, Balukhistan, dan Asia Kecil. Berbeda dengan kisah penaklukan sebelumnya, agama yang dibawanya bertahan sampai sekarang. [x]
Dari daerah taklukan itu lahirlah cendekiawan kelas dunia, seperti Jabir dari Kuba, Al-Kindi dari Basrah, Ar-Razi dari Persia, Ibn Sina dari Bukhara, dan Ibn Al-Haitham dari Basrah.
Jabir ibn Hayyan [xi] yang di dunia Barat dikenal dengan Geber adalah seorang tabib. Hidup sekitar tahun 776, ia diakui sebagai bapak kimia modern. Ia menulis lebih dari 100 karya ilmiah dan lima buku ajar kimia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada awal abad ke-12.
Abu Yusuf ibn Ishaq al-Kindi[xii] di dunia Barat dikenal sebagai Al-Kindus. Ia lahir pada awal abad ke-9, menulis 265 karya ilmiah, dan 22 di antaranya mengenai obat-obatan.
Zakaria ar-Razi[xiii] (685—925) dikenal di dunia Barat sebagai Rhazes. Ia adalah seorang tabib. Prestasi terbesar ar-Razi adalah buku Al-Hawi (Benua-benua Latin) suatu ensiklopedia 20 jilid yang diselesaikannya dalam waktu 15 tahun. Ia memperbandingkan setiap penyakit menurut pola pikiran Yunani, Syria, Arab, Persia dengan pendapat pribadinya. Selain itu, ia juga menulis buku ajar alkimia yang diterjemahkan dengan judul Liber Experimentorum.
Ibnu Sina[xiv] (980—1037) adalah seorang dokter legendaris bangsa Persia yang hidup di masa Dinasti Abasiyah. Dia adalah seorang muslim yang mempelajari buku-buku Yunani. Di masa itu ia berusaha memadukan filosofi dan Islam. Ibnu Sina menulis banyak buku kedokteran. Buku yang terkenal adalah Al Qannun Fil Tibb yang terkenal sebagai standar pengobatan (Canon of Medicine) berdasarkan kedokteran Greco-Roman. Buku yang ditulis dalam lima jilid dan memuat 760 obat-obatan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan menjadi buku ajar kedokteran selama berabad-abad.
Ibn Al-Haitham[xv] di dunia ilmiah Barat dikenal sebagai Alhazen. Ia adalah tokoh yang paling terkemuka dalam dunia optik di masa itu. Ia menulis 200 karya ilmiah dalam berbagai bidang, termasuk optik. Ia mengoreksi konsep Ptolemy dan Euclid yang menyebutkan bahwa mata mengeluarkan berkas cahaya visual ke objek penglihatan. Al-Haitham menyatakan bahwa bendalah yang mengeluarkan sinar, dan mata hanyalah menerima sinar melalui lensa mata yang transparan. Koreksi itu dilakukan berdasarkan penyelidikan anatomi dan pembahasan geometris dengan menguji pembiasan cahaya melalui objek tembus pandang.Tanpa itu tidak akan ada mikoroskop. Bagaimana mungkin mempertajam berkas sinar yang berasal dari mata?
Adalah suatu mukjizat bahwa, bahkan sampai masa teknologi canggih terkini, kemenangan yang diberikan-Nya itu mudah dikenal, bila ikhlas membuka hati. Semua peralatan digital yang populer, di semua kalangan dari kota sampai ke kampung, seperti televisi, play station, komputer ataupun telpon genggam, dibuat berdasarkan kemenangan itu. Dunia tidak akan seperti ini tanpa sistem sembilan angka Arab, shifr atau nol, syay, atau “x” / “s”, dan ekspresi digital, yang ditemukan oleh cendakiawan muslim seperti Muhammad bin Musa Al Khawarizmi (236/850).[xvi]
[i] The 1996 Grollier Multimedia Encyclopedia version 8.0
[ii] Hart,M.H., Soetrisno,E.: 50 Tokoh yang Paling Berpengaruh, Intimedia Ladang, Jakarta, hal 1.
[iii] Lamartine: Histoire de la Turqui, dikutip dari Jamil Ahmad: Seratus Muslim Terkemuka, Firdaus, Jakarta, cetakan ke 6, 1996, hal 7
[iv] Al Quran 9: 122
[v] Majelis Tertinggi Urusan Keislaman Mesir: Sunnah-sunnah pilihan. Seluk beluk Penyakit Ketabiban dan Pakaian, Angkasa, Bandung hal 60
[vi]Le Bon Gustave, dikutip dari Iqbal, M.: Misi Islam, Gunung Jati, Jakarta, 1982, hal 167-168
[vii]Majelis Tertinggi Urusan Keislaman Mesir: Sunnah-sunnah pilihan. Seluk beluk Penyakit Ketabiban dan Pakaian, Angkasa, Bandung hal 48-49
[viii]Haekal, M.M.: Abu Bakar as Siddiq, cetakan ke 2, Litera Antar Nusa, Jakarta, 2001, hal 293
[ix]Sybli Nu’mani: Umar bin Khaththab yang Agung, Pustaka, Bandung, 1994, hal 118
[x]Sybli Nu’mani: Umar bin Khaththab yang Agung, Pustaka, Bandung, 1994, hal 118
[xi]Jamil Ahmad: Seratus Muslim Terkemuka, Firdaus, Jakarta, cetakan ke 6, 1996, hal 129
[xii] Jamil Ahmad: Seratus Muslim Terkemuka, Firdaus, Jakarta, cetakan ke 6, 1996 hal 132
[xiii] Jamil Ahmad: Seratus Muslim Terkemuka, Firdaus, Jakarta, cetakan ke 6, 1996 hal 135
[xiv] Jamil Ahmad: Seratus Muslim Terkemuka, Firdaus, Jakarta, cetakan ke 6, 1996 hal 140
[xv] Jamil Ahmad: Seratus Muslim Terkemuka, Firdaus, Jakarta, cetakan ke 6, 1996 hal 149
[xvi] Isma’il R. Al-Faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi (terjemahan Ilyas Hasan): The Cultural Atlas of Islam (Atlas Budaya Islam). Cetakan ke IV, Mizan, Bandung 2003, hal 365



Subhanallah, terimakasih atas ilmu dan sharingnya Dok !