Skip to content


Vitamin

Seorang sahabat pernah berkata, “Saya tidak takut begadang, kan ada vitamin.” Seorang ibu yang membawa anaknya berobat berkata, “Dok, minta vitamin dong biar anak saya mau makan.”

Benarkah vitamin dapat menyegarkan orang yang kekurangan tidur? Benarkah vitamin dapat membuka selera makan?

Vitamin dan mineral yang berada di urutan ketiga tangga penggunaan obat, umum didengar tetapi paling sedikit dipahami. Jangan berkecil hati karena para pakar sendiri pun belum dapat memahaminya secara lengkap.

Katakanlah vitamin E, yang dikatakan sebagai obat mujarab untuk orang tua. Penyakit kekurangannya belum diketahui dengan pasti, malah kelebihannya dapat menimbulkan penyakit. Lihat pula vitamin B kompleks, inositol, asam pantotenat, dan vitamin H yang juga belum diketahui berapa kebutuhannya.

Vitamin adalah contoh yang tepat sisi hitam era informasi. Selain rokok, vitamin adalah salah satu primadona iklan media yang dipelintir dengan menjadikannya suplemen makanan. Vitamin dianggap sebagai obat untuk membuat orang lebih sehat. Vitamin dianggap sebagai obat penambah tenaga. Sebenarnya, vitamin adalah sejenis zat kimia yang harus ada dalam tubuh dalam jumlah yang sedikit. Vitamin dibutuhkan untuk berbagai proses kehidupan. Berbeda dengan hormon yang dihasilkan oleh tubuh, vitamin harus didapat dari makanan.

Pada zaman alun berbalun tidak ada kekurangan vitamin. Saat itu nenek moyang kita, para primata, dilengkapi dengan gene pembuat vitamin C. Namun, tubuh merasa tidak perlu akan gene itu karena tetumbuhan segar yang banyak mengandung vitamin C merupakan makanan sehari-hari. Gene pembuat vitamin C lenyap melalui suatu evolusi. Namun, lenyapnya itu bukanlah suatu musibah. Yang terjadi adalah efisiensi karena pembuangan gene menimbulkan gene baru yang dibutuhkan manusia untuk kehidupan modern. Lenyapnya gene ini dibayar dengan penyakit kekurangan vitamin.

Vitamin tersedia dalam berbagai ramuan, seperti (1) sedian yang hanya satu vitamin; (2) kombinasi berbagai vitamin dalam bentuk multivitamin; (3) kombinasi multivitamin dengan mineral; (4) kombinasi multivitamin, mineral, dengan ginseng. Selain itu, ramuan ini juga tersedia untuk orang dewasa atau anak-anak dalam bentuk generik atau obat dagang. Berbagai faktor ini menyebabkan harga vitamin sangat bervariasi.

Kapankah kita harus minum vitamin? Kita harus minum vitamin jika (1) kita belum menderita penyakit kekurangan vitamin tetapi tidak mendapatnya secara cukup untuk kebutuhan harian, dosis yang digunakan adalah dosis kebutuhan sehari-hari; (2) kita belum menderita penyakit kekurangan dan ingin mencegah penyakit kekurangan vitamin, dosis yang digunakan adalah dosis pencegahan; (3) kita ingin mengobati penyakit kekurangan vitamin, dosis yang digunakan adalah dosis pengobatan. Dosis vitamin dan penyakit yang diakibatkannya terlihat dalam tabel.

Sebenarnya, dosis kebutuhan sehari-hari akan terpenuhi jika kita memakan makanan sehat yang dikenal dengan empat sehat lima sempurna yang segar. Dosis pencegahan adalah dosis yang diberikan untuk melindungi kita terhadap ancaman penyakit kekurangan vitamin, seperti (1) tidak cukup tersedia vitamin dalam makanan untuk waktu yang lama; (2) adanya gangguan pencernaan di usus, seperti mencret ataupun muntah-muntah; (3) kebutuhan yang meningkat seperti pada wanita hamil. Dosis pengobatan diberikan jika kita sudah menderita penyakit kekurangan vitamin. Salah pakai vitamin akan menimbulkan penyakit kelebihan vitamin karena penggunaannya dalam jumlah besar dan secara rutin.

Ada dua macam vitamin, yaitu yang larut dalam air dan yang larut dalam lemak. (bersambung)

Posted in Dokter di rumah.


8 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. Titah says

    Dosis vitamin dan penyakit yang diakibatkannya terlihat dalam tabel.

    Ditunggu tabelnya, Dok. :)

  2. Dokter Bahar says

    Makasih Mbak Titah atas kunjungan dan masukannya. Tabel segera menyusul.

  3. Khairan says

    Bpk Dokter, setiap berobat ke bidan, dokter umum/spesialis atau ke rumah sakit, selalu dimasukkan vitamin dalam resepnya. Teori peresepan vitamin bersama obat itu bagaimana Dok? Misal, kalau sakitnya flu (dengan gejala demam-batuk berdahak kental-sakit tenggorokan-mual), obatnya misalnya flutamol + amoxicilin + metoclopramida HCL, nah lalu vitaminnya apa?, dosisnya cukup dilihat di ISO atau bagaimana, dan bagaimana untuk berbagai penyakit lainnya? Terima kasih sebelumnya Dok.

    • Dokter Bahar says

      Mas Khairan makasih atas kunjungan dan pertanyaannya. saya sangat setuju dengan vitamin pada antibiotika karena dapat meniadakan jamur akibat antibiotika.

      • Khairan says

        Ada artikel untuk teori lengkapnya Dok?

        • Dokter Bahar says

          Mbak Khairan makasih atas kunjungan kembalinya. Teori vitamin dalam obat racikan, maksudnya. Tolong ditanya dengan pertanyaan lain Mbak.

          • Khairan says

            Terima kasih juga Pak Dokter, jadi ceritanya begini Pak: Sebelum tahun 2007 lalu, khairan mengenal ilmu kesehatan/pengobatan itu sebatas “ilmu tomat”, khairan istilahkan demikian karena buku-buku atau artikel-artikel kesehatan yang tersebar untuk kalangan umum pembahasannya seperti artikel yang membahas khasiat buah tomat. Padahal kalau sudah sakit sariawan misalnya, apalagi kronis, kan tidak bisa diatasi dengan memakan tomat meski sudah berpuluh-puluh dimakan, malah jadi eneuk, khairan sudah pernah beberapa kali mengalami ini. Walaupun dalam artikel itu disebutkan bahwa tomat mengandung vitamin C yang tinggi dan cocok untuk sariawan, mengatasi kanker, dll, tapi kalau sudah sakit, solusinya tidak cukup dengan tomat (atau buah lainnya) tetapi solusinya adalah obat. Kebetulan sariawan khairan dulu termasuk kronis, karena tidak mengatahui obatnya, sariawannya merajalela di mulut sampai sakitnya nyut-nyut ke kepala. Selain itu khairan dulu juga mengalami sakit tukak usus halus kronis, kalau ada pemicunya cepat sekali kambuhnya, dan khairan dulu hanya dapat mengandalkan sejumlah antasid di warung atau kalau sakit sekali pergi ke rumah sakit. Dan sekarang yang kronis adalah rasa nyeri di dada seperti yang khairan sebutkan di bagian artikel Bapak tentang jaringan ikat. Jadi sejauh itu khairan mengatasi keluhan penyakit khairan dengan cara ilmu tomat tadi, termasuk ketika flu, dll.

            Hingga pada tahun 2007 khairan mendapatkan buku Bapak berjudul “Bijak Mengkonsumsi Obat Flu”. Khairan ikuti penjelasannya dengan perlahan dan berulang-ulang bahkan hingga sekarang, maka khairan memahami ilmu kesehatan yang ada pada buku ini bukan lagi “ilmu tomat” tetapi adalah “ilmu kedokteran”. Dengan buku ini, khairan mengenal seluk beluk tentang flu dan pengobatannya, dan mudah dipraktekkan. Buku itu juga membuka minat dan daya cerap khairan untuk dapat memahami ISO atau MIMS, file-file perkuliahan anak-anak kedokteran hingga buku-buku perkuliahan kedokteran. Tapi tentu saja referensi khairan masih sangat terbatas dan masih terus dilengkapi. Pernah suatu waktu mertua mengalami sembelit, waktu itu mertua belum cukup yakin dengan metode khairan, karena semakin mendesak akhirnya mertu mencoba berobat ke bidan, hasilnya tidak menyembuhkan karena obat yang dikasih hanya pereda nyeri + antasid + vitamin. Akhirnya mertua menyerah dan membolehkan khairan membantu mengatasi, khairan sudh mendapatkan buku tentang sembelit/konstipasi dan obatnya serta dosisnya yaitu misalnya : Bisakodil, hasilnya mertua pun bebas dari sembelit yang semakin mendesak itu, sampai-sampai mertua berteriak kegirangan. Dan masih banyak lagi pengalaman-pengalaman pengobatan di rumah yang menarik lainnya.

            Buku itu juga memotivasi khairan agar di rumah ada persediaan obat-obat yang sering digunakan, mulai dari obat flu hingga asma, tukak usus, obat kulit, antibiotik spektrum luas dan spesifik, sirup-sirup untuk anak2, jenis kortikosteroid, dll, kecuali yang yang paling kurang adlah vitamin, yang ada hanya Becom-C (misal untuk sariawan) dan vistrum untuk anak-anak kalau sakit.

            Dan dengan buku Bapak itu bersama referensi-referensi kedokteran lainnya, khairan jadi tahu batas kemampuan pengobatan khairan dari waktu ke waktu, mana yang dapat diatasi sendiri dan mana yang mesti ke rumah sakit karena misalnya mesti diperiksa darah untuk mendiagnosa penyakitnya, atau ke rumah sakit karena ilmu khairan yang belum mencukupi/belum ada referensi memadai tentang penyakit yang dialami.

            Jadi di rumah kalau ada yang sakit sudah biasa diresepkan (dibuatkan/dirancang resepnya sendiri obatnya sejauh ada kemampuan untuk itu), TETAPI setiap meresepkan obat itu khairan tidak tahu apakah harus memasukkan vitamin dalam resep itu dan kalau ia maka vitamin apa dan untuk sakit apa. Padahal kalau berobat ke luar (bidan, dokter, rumah sakit) hampir selalu dalam resepnya ada vitamin disamping obatnya.

            Seperti jawaban Bapak sebelumnya bahwa kalau dalam resep itu ada antibiotik, maka sebaiknya disertakan vitamin karena vitamin dapat menghilangkan jamurnya. Bagi khairan ini ilmu yang baru. Jadi keadaan-keadaan apalagi yang mengharuskan menyertakan vitamin dalam resep obat? Dan apa dasar pemilihan vitaminnya? Kalau khairan mengacu ke ISO, kesannya indikasi vitamin itu tidak jauh berbeda satu dengan yang lain, jadi khairan sulit mislnya mengaitkan sakit tertentu dengan vitamin tertentu, dst. Nah … demikian hal ihwal pertanyaan khairan tentang peresepan vitamin itu Pak … semoga Bapak berkenan menjelaskannya panjang lebar, terima kasih Pak? Dan juga terima kasih untuk bukunya ywang sudah sangat membantu mengenalkan ilmu kesehatan untuk kalangan umum yang berminat pada ilmu kedokteran.

          • Dokter Bahar says

            Mbak Khairan makasih ats sudah membaca buku saya. Untuk mendampingi antibiotika berikan saja multivitamin.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.