<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: RESEP</title>
	<atom:link href="http://www.suaradokter.com/2009/02/resep/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.suaradokter.com/2009/02/resep/</link>
	<description>Griya Curhat Sang Dokter</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 May 2012 14:32:34 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
	<item>
		<title>Oleh: Dokter Bahar</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2009/02/resep/comment-page-1/#comment-6430</link>
		<dc:creator>Dokter Bahar</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 May 2010 22:28:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=1140#comment-6430</guid>
		<description>Mas Prasetyo maklasih atas pertanyaannya dan kunjungannta. Tentu saja ilegal karena menulis resep kepada pasien itu hak dokter.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Prasetyo maklasih atas pertanyaannya dan kunjungannta. Tentu saja ilegal karena menulis resep kepada pasien itu hak dokter.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: prasetyo</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2009/02/resep/comment-page-1/#comment-6428</link>
		<dc:creator>prasetyo</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 May 2010 16:34:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=1140#comment-6428</guid>
		<description>saya seorang calon perawat, saya mau menanyakan bagaimana ke legalan saya jika saya menuliskan resep kepada pasien, dan apakah saya telah melanggar UU?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya seorang calon perawat, saya mau menanyakan bagaimana ke legalan saya jika saya menuliskan resep kepada pasien, dan apakah saya telah melanggar UU?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Dokter Bahar</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2009/02/resep/comment-page-1/#comment-2509</link>
		<dc:creator>Dokter Bahar</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 13:39:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=1140#comment-2509</guid>
		<description>Mas Joe makasih atas kunjungan dan masukannya. Perawat boleh saja memberikan atau menulis resep selama dibawah pengawasan dokter.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Joe makasih atas kunjungan dan masukannya. Perawat boleh saja memberikan atau menulis resep selama dibawah pengawasan dokter.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: joe</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2009/02/resep/comment-page-1/#comment-2479</link>
		<dc:creator>joe</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 18:13:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=1140#comment-2479</guid>
		<description>saya dr farmasi, mau tanya misalkan seorang perawat memberikan resep atau menulis suatu resep apa dia mempunyai hak untuk itu semua??</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya dr farmasi, mau tanya misalkan seorang perawat memberikan resep atau menulis suatu resep apa dia mempunyai hak untuk itu semua??</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Dokter Bahar</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2009/02/resep/comment-page-1/#comment-264</link>
		<dc:creator>Dokter Bahar</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 15:29:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=1140#comment-264</guid>
		<description>Mbak Titah, masalah ini memang dilema bagi dokter yang bekerja di fasilitas kesehatan pemerintah. Pengalaman prinadi di Puskesmas  adalah keharusan untuk membatasi peresepan obat tiga hari pakai. Pasien yang banyak dan persedian yang terbatas dihadapkan dengan wawasan profesi. Untunglah bagi penyakit ndemi seperti TBC, ada kemudahan untuk memberikan resep sebulan pakai. Hanya itu yag bisa sampaikan Mbak. Makasih atas kunjungan dan masukannya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mbak Titah, masalah ini memang dilema bagi dokter yang bekerja di fasilitas kesehatan pemerintah. Pengalaman prinadi di Puskesmas  adalah keharusan untuk membatasi peresepan obat tiga hari pakai. Pasien yang banyak dan persedian yang terbatas dihadapkan dengan wawasan profesi. Untunglah bagi penyakit ndemi seperti TBC, ada kemudahan untuk memberikan resep sebulan pakai. Hanya itu yag bisa sampaikan Mbak. Makasih atas kunjungan dan masukannya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Titah</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2009/02/resep/comment-page-1/#comment-255</link>
		<dc:creator>Titah</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 00:54:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=1140#comment-255</guid>
		<description>&lt;blockquote&gt;Kenapa jumlahnya berkurang? Yang pasti PUSKESMAS atau RS negeri memang dikurangi karena masalah anggaran. &lt;/blockquote&gt;
Well, kalau itu masalahnya, mestinya pengurangan dilakukan secara selektif. Anti demam dan antimual misalnya, untuk penyakit infeksi &quot;harian&quot; yang umum saya rasa diberikan untuk kebutuhan dua hari saja sudah cukup, tapi antibiotik tetap harus diberikan secara cukup (lima hari) dong! Kan bahaya kalau kuman jadi resisten gara-gara kurang tuntas pengobatan antibiotiknya? :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kenapa jumlahnya berkurang? Yang pasti PUSKESMAS atau RS negeri memang dikurangi karena masalah anggaran. </p></blockquote>
<p>Well, kalau itu masalahnya, mestinya pengurangan dilakukan secara selektif. Anti demam dan antimual misalnya, untuk penyakit infeksi &#8220;harian&#8221; yang umum saya rasa diberikan untuk kebutuhan dua hari saja sudah cukup, tapi antibiotik tetap harus diberikan secara cukup (lima hari) dong! Kan bahaya kalau kuman jadi resisten gara-gara kurang tuntas pengobatan antibiotiknya? <img src='http://www.suaradokter.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Dokter Bahar</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2009/02/resep/comment-page-1/#comment-253</link>
		<dc:creator>Dokter Bahar</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 21:19:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=1140#comment-253</guid>
		<description>Terlebih dahulu terima kasih Mbak Martha atas kunjungan dan masukannya. Sebenarnya apotek dalam hal ini apoteker juga ikut pegang peranan. Mereka harus proaktif bila melihat resep yang tidak rasional dan mempertanyakan langsung kepada dokter pembuat resep hanya kadang-kadang apoteker tidak ada. Selain itu pasien hendaknya membaca brosur obat, melihat indikasi dan indikasi kontra. Bila tidak sreg seyogyanya kembali ke dokter dan bertanya. Bila masih belum puas hendaklah meminta pendapat banding dari dokter lain.  Pada kesempatan lain akan saya tulis mengenai hal-hal ini. Makasih sekali Mbak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terlebih dahulu terima kasih Mbak Martha atas kunjungan dan masukannya. Sebenarnya apotek dalam hal ini apoteker juga ikut pegang peranan. Mereka harus proaktif bila melihat resep yang tidak rasional dan mempertanyakan langsung kepada dokter pembuat resep hanya kadang-kadang apoteker tidak ada. Selain itu pasien hendaknya membaca brosur obat, melihat indikasi dan indikasi kontra. Bila tidak sreg seyogyanya kembali ke dokter dan bertanya. Bila masih belum puas hendaklah meminta pendapat banding dari dokter lain.  Pada kesempatan lain akan saya tulis mengenai hal-hal ini. Makasih sekali Mbak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Martha</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2009/02/resep/comment-page-1/#comment-250</link>
		<dc:creator>Martha</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 15:43:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=1140#comment-250</guid>
		<description>Artikel ini wajib dibaca para pasien. Agar tau informasi yang tepat mengenai obat yang diberikan oleh dokter. Karena seringkali, pasien justru bertanya ke pegawai apotek yang mungkin kurang paham mengenai obat ataupun penyakit yang diderita pasien...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel ini wajib dibaca para pasien. Agar tau informasi yang tepat mengenai obat yang diberikan oleh dokter. Karena seringkali, pasien justru bertanya ke pegawai apotek yang mungkin kurang paham mengenai obat ataupun penyakit yang diderita pasien&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Dokter Bahar</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2009/02/resep/comment-page-1/#comment-248</link>
		<dc:creator>Dokter Bahar</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 14:21:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=1140#comment-248</guid>
		<description>Mbak Titah lama tak jumpa. Alhamdulillah tidak lupa rupanya. Jumlah obat rasional tergantung pada penyakitnya. TBC mislanya sebulan, infeksi atau antibiotika, untuk 5 hari. Kenapa jumlahnya berkurang? Yang pasti PUSKESMAS atau RS negeri memang dikurangi karena masalah anggaran. Makashi Mbak telah berkunjung dan memebrikan masukan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mbak Titah lama tak jumpa. Alhamdulillah tidak lupa rupanya. Jumlah obat rasional tergantung pada penyakitnya. TBC mislanya sebulan, infeksi atau antibiotika, untuk 5 hari. Kenapa jumlahnya berkurang? Yang pasti PUSKESMAS atau RS negeri memang dikurangi karena masalah anggaran. Makashi Mbak telah berkunjung dan memebrikan masukan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Titah</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2009/02/resep/comment-page-1/#comment-245</link>
		<dc:creator>Titah</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 13:47:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=1140#comment-245</guid>
		<description>Halo dokter... sorry agak lama tak berkunjung... :)
Tentang pemberian obat yang rasional, bagaimana dengan jumlahnya? Di poli2 yang memberikan layanan pengobatan dasar (puskesmas, praktek dokter umum, dll) jumlahnya cenderung terus berkurang, sekarang umumnya hanya diberikan obat untuk delapan kali minum. Apakah itu memadai?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Halo dokter&#8230; sorry agak lama tak berkunjung&#8230; <img src='http://www.suaradokter.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Tentang pemberian obat yang rasional, bagaimana dengan jumlahnya? Di poli2 yang memberikan layanan pengobatan dasar (puskesmas, praktek dokter umum, dll) jumlahnya cenderung terus berkurang, sekarang umumnya hanya diberikan obat untuk delapan kali minum. Apakah itu memadai?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

