Namun pertanyaan datang mengusik. Bila shaum Senin Kamis sesuai dengan model pelatihan Muhammad saw., mungkinkah menjadi muttaqin? Kalau mungkin berapa lamakan waktu yang dibutuhkan? Pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh sains dengan duplikasi, evolusi dan mutasi. Lihat PUSENKAM 6.
Dalam hal gen otak, duplikasi pembelahan mereka menjadi dua, untuk menyerap satu kepandaian. Yang baru tetap dengan kebiasaannya sedangkan yang baru akan bermutasi untuk membiasakan diri dengan kepintaran baru. Evolusi adalah perubahan phenotype yang terjadi berangsur-angsur dalam waktu yang sangat lama. Mutasi adalah perubahan gen yang permanen.
Mutasi menjadi ekspresi ketakwaan, semata atas bantuan-Nya terlihat pada kasus Umar bin Kattab sesuai dengan pemintaan Rasulullah saw kepada Allah swt. Ujarnya, “Allahumma ya Allah, perkuatlah Islam dengan Abul-Hakam bin Hisyam (Abu Jahl) atau dengan Umar bin Khattab.” (Haikal, Umar hal 24).
Mutasi Khalid bin Walid ra mungkin terjadi karena harapan Rasulullah saw, seperti yang tertulis dalam suatu blog. Tertulis, “Nabi mengharap-harap dengan sepenuh hati, agar Walid masuk Islam. Harapan ini timbul karena Walid seorang kesatria yang berani dimata rakyat. Karena itu dia dikagumi dan dihormati oleh orang banyak. Jika dia telah masuk Islam ratusan orang akan mengikutinya.”
Wallahu alam.
Bagaimanapun patut disimpulkan bahwa semua sahabat terutama prajurit Perang Badar mutlak memperoleh bantuan-Nya dalam memperoleh mutasi tersebut.
Namun disaat ini dapatkah kita memperoleh bantuan-Nya?
Hal itu dijawab-Nya antara lain dalam empat ayat dibawah ini.
…Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al Hadid: 004)
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (Al Baqarah: 186)
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (Qaf: 016)
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui (Al An’am: 103)
Deskripsi bahwa Dia bersama kita dimanapun kita berada; dekat; mengetahui akan niat dan lebih dekat dari urat leher; tidak terlihat dan Maha Halus lagi Maha Mengetahui; membuat keyakinan akan keberadaan embusan napas-Nya dalam DNA orisinil. Bukankah firman-Nya, “Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan)- Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur (as-Sajdah: 009).
Deskripsi bahwa Dia akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa bila beriman kepada-Nya, menambah keyakinan bahwa kitapun dapat memperoleh ekspresi ketakwaan yang dulu ditiupkan-Nya. Sebagaimana hadits dari (Ibnu Surai, Al Hasyimi: Syarah Mukhtaarul AHaadiits hal 670) yaitu “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, hingga lisannya dapat mengungkapkan kehendak dirinya, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai orang Yahudi, Nasrani atau orang Majusi.



ilmu memang sejalan dengan agama..salam kenal pak Dokter
Setuju Pak. Dan salah satu bentuk mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya adalah berbagi baik dalam ilmu ataupun informasi. Makasih Pak telah berkunjung dan memberikan masukan. Salam hormat dari saya.
jangan panggil saya ‘pak’ dokter..hehe. Tabrani(umur 23, panggil mas tabrani aja), saya senang baca tulisan-tulisan dokter karena selalu berakhir pada rujukan agama(Al Qur’an)..dan memang seharus nya begitu..itulah Al Qur’an, bahkan hanya untuk dibaca saja bernilai ibadah, apalagi sampai dibaca dan diterapkan(diamalkan)..maka jelaslah memang Al Qur’an itu petunjuk(pedoman hidup) bagi orang yang bertakwa.-teruskan menyampaikan ilmu pengetahuan berlandaskan agama dokter!!ditunggu tulisan-tulisan terbarunya(udah langganan RSS nya neh..hehe)…
Betul sekali Mas Tab. Menurut saya al Quran adalah manual kehidupan dari Yang Membuatnya, Allah swt, untuk digunakan oleh mahluk buatanNya. Televisi aja dibekalin manual konon pula makhluk-Nya yang sempurna ini. Makasih Mas Tab atas kunjungan dan masukannya.