Skip to content


PUSENKAM 11: Mengukuhkan niat

Untuk memulai jihad, dibutuhkan niat yang kukuh karena ialah yang menentukan amal saleh, seperti sabda Nabi saw., Semua amal tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapat (balasan) sesuai dengan niatnya. (HR Bukhari)[i] Niat yang tuluspun sudah mendapat pahalanya yang tergantung di Arasy (riwayat Al-Khatib melalui Ibnu Umar ra[ii]) menunggu amal yang akan dilakukan.

Bagaimanapun, untuk memperoleh bantuan-Nya, niat harus dilandasi oleh ilmu dan informasi seperti firman-Nya, Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az Zumar: 009). Nabi saw., juga bersabda, “Amal sedikit disertai ilmu adalah lebih baik dari amal yang banyak dalam kebodohan[iii] Mempelajarinya adalah bersyukur kepada-Nya seperti yang diingatkan-Nya dalam firman-Nya, “Dan Dia-lah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” (Asy Syu’ara’: 078).

Dimanakah diletakkan niat?

Setiap saat dalam kehidupan, pemilihan keputusan antara dua nafsu yang menyuruh pada kejahatan dan yang dirahmati-Nya berlangsung di otak, (lihat gambar 1).

Sama-sama produser faal kognitif, gen otak layak diperbandingkan dengan qalb (kalbu) yang ditulis Imam Ghazali +/- satu milenium yang lalu. Menurut dia diri (self) yang dapat merasakan sedih dan gembira, terdiri dari qalb (kalbu – hati), ruh (roh), nafs (jiwa) dan aql (akal – intelektualitas).

Hal ini mutlak karena perang informasi yang terjadi di otak dan terbagi atas dua tahap yaitu masuknya informasi dan pengambilan keputusan apakah akan mengharamkan atau menghalalkan. Arus deras informasi dimungkinkan dengan luasnya ruang informasi yang mencakup daerah 3.sensasi: nyeri, tekanan, posisi, gerakan,panas; daerah 4. prosesor memori terpadu, daerah 6. memori penglihatan; daerah 7. penglihatan; daerah 8. memori bunyi; dan daerah 9. pendengaran. Disini iblis dan aparatnya bisa dicegah dengan menafikan informasi yang menyesatkan

Informasi yang lolos disaring di ruangan yang relatif kecil yaitu daerah 11 perencanaan, emosi, pertimbangan. Keputusannya diambil disini dan tentu saja bertambah banyak informasi bertambah pula ilmu yang dibutuhkan. Ekspresi ini dikirim keseluruh tubuh melalui 23 bilyun neuron yang masing-masingnya tersambung dengan 10.00 neuron lainnya

Pada manusia keputusannya ditentukan oleh kualitas takwa yang terletak pada niat dan tertanam dalam kode genetis, sedangkan amalnya adalah protein, suatu ekspresi gen otak.

Nah, pemilihan bertambah sulit karena kejahatan dapat tersamar dengan kebaikan dan sebaliknya sebagaimana yang difirmankan-Nya:, “. … Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui, (Al Baqarah : 216)

gambar 1. Otak

gambar 1. Otak

1.Koordinasi tindakan; 2.reflex; 3.sensasi: nyeri, tekanan, posisi, gerakan,panas; 4. prosesor memori terpadu, 5. penamaan; 6. memori penglihatan; 7. penglihatan; 8. memori bunyi; 9. pendengaran; 10. antisipasi dan suara; 11.perencanaan, emosi, pertimbangan; 12.imajinasi.

Proses pemilihan yang berjalan dalam kejapan mata ini dilakukan bertahap dengan menggunakan ilmu, informasi dan niat. Ilmu dan informasi digunakan di: daerah 3, sensasi: nyeri, tekanan, posisi, gerakan, panas; daerah 4, prosesor memori terpadu; daerah 6. memori penglihatan; daerah 8. memori bunyi dan daerah 12; imaginasi. Sedangkan niat ditetapkan di daerah 11, perencanaan, emosi, pertimbangan

Pengambilan keputusan untuk melakukannya dimulai dan berakhir dengan niat yang ditancapkan di daerah 11, dimana dilakukan pertimbangan untuk merencanakan suatu perbuatan. Niatlah yang mengarahkan seseorang untuk dengan sadar, melakukan sesuatu atau meninggalkannya. Tanpa niat, seperti dalam keadan tidak sadar, lupa dan khilaf; amal yang dilakukan bebas dari hukum. Firman-Nya, ”… Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang…” (Al Ahzab: 005).

gambar 2. Kisah dari RCTI

gambar 2. Kisah dari RCTI

Niat kukuh memudahkan amal saleh dengan mengirimkan sinyal larangan untuk menikmati yang dihalalkan dan meninggalkan yang dilarang, Di waktu terlarang itu selain lapar, dahaga dan birahi, zur dan pengamalannya sudah dinafikan di tingkat masukan (daerah 6 dan 8).

Mari kita lihat prosesnya dengan contoh kasus kupon hadiah mobil, dalam bungkus suatu produk, yang ditayangkan oleh RCTI dalam Sergap akhir pekan tanggal 17 Februari 2008. Ada dua orang yang menjadi tokoh berita itu yaitu seorang guru dan yang lainnya ibu rumah tangga.

Keduanya memperoleh masukan dari sehelai kupon (gambar 2) yang terlihat di daerah (7). Sesudah disesuaikan dengan memori penglihatan di daerah (6), dicerna di daerah (4), tempat pengolahan terpadu dengan ilmu yang dimilikinya dan informasi yang di dengarnya. Kedua orang itu, di daerah (5) menamakannya sebagai kupon berhadiah yang sudah jadi, untuk memperoleh sebuah mobil.

Perbedaan sikap keduanya dimulai di daerah (12) imajinasi atau khayalan.

Imaginasi pak guru akan mobil mewah membuat ia terlena oleh angan-angan kosong. Emosi membuat ilmu dan informasi yang dimilikinya tidak berfungsi di daerah (11) perencanaan, emosi, pertimbangan. Dengan niat demikian ia langsung meminjam uang dan mengirimkannya untuk memperoleh mobil idaman itu. Akhirnya ia tertipu.

Sang ibu tidak demikian. Mungkin sudah pernah tertipu, imaginasinya di daerah (12) tidak tergerak. Daerah (11) mempertimbangkan kemungkinan kupon palsu. Niat yang ditanam di daerah (11) adalah untuk memastikan palsu atau tidaknya. Mungkin untuk mengelakkan dosa, sang ibu berprangka baik (Al Hujurat: 012) dan menanyakan kepastiannya kepada produsen yang mengeluarkan produk itu secara langsung. Sang ibu terbebas dari musibah.

Dengan gambar otak (lihat gambar 1) mari kita lihat hubungsn ilmu dengan niat. Ia dimulai dari pancaindera seperti: Telinga yang mendengar, “Yuk kita makan.” Bahasa ini dimaknai oleh kita, orang Indonesia seperti ajakan makan tapi tidak dimengerti oleh orang Belanda. Ia tidak mengerti karena belum belajar bahasa Infdonesia. Namun bila orang Belanda itu pernah mendengarnya sebelumnya dan melihat bahasa tubuh yang menyilakan, ia akan mengerti.

gambar 3. Makan?

gambar 3. Makan?

Semua rasa dan sensasi itu dikirim ke otak: melalui syaraf, dengan pertanyaan , Apakah saya boleh memakannya? Tentu saja bila yang dihidangkan adalah anjing, perasaan mual akan menyerang kaum muslimin. Hal itu juga sudah tertanam di daerah (11). Sebaliknya ilmu kaum non-muslim berbeda dan mungkin liurnya menetes (gambar 3).

Maka seandainya datang suatu hal dikala berpuasa Ramadhan, misalnya melihat anak sedang menonton film di televisi. Sadar akan tanggung jawab, keputusan harus diambil apakah akan membiarkan atau melarang. Ilmu dan informasi yang dipunyai akan memutuskan apakah menonton itu membawa rahmat atau mencelakakan. itu. Di daerah 11 perencanaan, emosi, pertimbangan (gambar 1) terjadi penilaian apakah akan melarang atau membolehkan. Informasi yang diperoleh selama ini mengatakan bahwa acara di jam-jam itu baik untuk pendidikan tetapi iklannya membahayakan. Daerah 12, imaginasi membayangkan anaknya kelak tidak akan berbeda dengan keponakan yang tinggal kelas. Tapi di daerah 11, timbul pertanyaan bagaimana cara mematikan televisi karena ibu anak-anak ikut menonton. Mengetahui hadits bahwa yang membawa ke neraka adalah istri dan anak meneguhkan niat untuk mematikan televisi.

Disamping mengukuhkan niat, ilmu dan informasi dapat merubahnya. Tertulis bahwa setelah Umar ra berangkat menuju Syam dan dijemput oleh panglima-panglima militernya di Sarg (Sar’), dengan kabar bahwa daerah itu sedang dilanda penyakit menular. Umar memerintahkan mereka untuk kembali ke Madinah. Tetapi Abu Ubaidah bin Jarrah ra, Panglima Syam menentangnya dengan mengatakan, “Umar, Anda lari dari takdir Allah?” yang dijawab oleh Umar, “Ya, lari dari takdir Allah ke takdir Allah juga.”[iv]

Tidak ada manusia yang meragukan kekukuhan niat Umar bin Khattab ra, Amirul Mukminin. Demikian kukuhnya hingga menurut cerita, syaitanpun mengelak ketika berpapasan dengannya. Namun ilmu dan informasinya mengatakan bahwa meneruskan perjalanan adalah bunuh diri, Ia mengubah niatnya dan pulang ke Madinah. Takdir keduanya ditentukan-Nya, Umar ra selamat sedangkan Abu Ubaidah ra, meninggal dalam wabah itu.

Namun menancapkan niat tidak mudah.

Setiap hal yang dilakukan secara berkala dan berkesinambungan akan menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi perilaku. Misalnya mengucapkan assalamualakum setiap memasuki rumah. Ia menjadi perilaku bila dimulai membiasakannya sebelum anak-anak mengerti apa yang diucapkannya. Kemudian ia menjadi perilaku ketika anak-anak sudah mengerti akan maksudnya. Perilaku ini tertanam di gen otak.

Hal ini tidak berbeda dengan kebiasaan meninggalkan zur dan amalan di bulan Ramadhan. Iapun menjadi budaya dengan puasa yang reguler dan berkesinambungan bila kebiasaan itu tertanam di gen otak. Perubahan ini disebut evolusi.

Bila puasa di bulan Ramadhan adalah ujian untuk menjadi muttaqin maka puasa sunat adalah latihannya. Kecuali yang merasa dirinya serba cukup (Al Alaq: 007), yang berniat lulus tentu akan melakukannya. Bagaimanapun, banyaknya buku yang ditulis menunjukkan bahwa puasa sunat sudah mempunyai tempat tersendiri dalam hati umat muslim.

Bila puasa Ramadhan hukumnya wajib, yaitu mengerjakan berpahala dan meninggalkan berdosa, maka puasa sunat berpahala bila dikerjakan namun tidak berdosa bila ditinggalkan.

Bahwa puasa sunat adalah latihan terlihat dalam beberapa petunjuk antara lain: (1) Sifatnya adalah suatu perlombaan; (2) melaksanakannya lebih sulit dari puasa wajib hingga pahalanya lebih besar; (3) dilakukan dengan sukarela, (4) harus tetap sehat atau tidak mencelakakan; dan (5) toleransi.

Pertama, perlombaan menuju kebaikan diwajibkan-Nya seperti firman-Nya, “… Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan…” (Al Baqarah: 148)

Kedua, sifatnya lebih sulit dibandingkan dengan suasana bulan Ramadhan. Mampu menghindar dari rumah makan dan tempat hiburan yang terbuka lebar tidak ada artnya ketimbang melihat makanan terhidang di rumah. Maka karena lebih sulit, lebih besar pula pahalanya.

Ketiga, ia dilakukan dengan sukarela karena bukankah tidak ada ancaman dosa bila meninggalkannya. Maka tidaklah mengherankan bila makanan tetap terhidang di meja makan rumah sendiri.

Keempat, walaupun beragam bentuk yang diajarkan oleh Nabi saw., ia tidak boleh mencelakakan. Info hadits itu menerangkan bahwa puasa terus menerus tidak mungkin dilakukan orang. Secara khusus Nabi saw., bersabda, ‘…Engkau tidak akan kuasa melakukannya…”

Dari beragam puasa sunat pilihan Rasulullah saw adalah Senen Kamis. Dari Aisyah ra, ia mengatakan, ‘Sesungguhnya Nabi saw., memilih Senin dan Kamis.[v] Hari-hari itu bertepatan dengan pembacaan amal. Riwayat Hakim melalui Walid Abdul Azis.[vi] mengatakan,. ”Catatan amal perbuatan dibeberkan di hadapan Allah pada hari Senin dan hari Kamis, dan ditampakkan kepada para nabi, para ayah dan para ibu pada hari Jumat, lalu mereka bergembira dengan kebaikan amal perbuatan mereka dan wajah mereka makin bertambah putih dan cemerlang, karena itu bertakwalah kalian kepada Allah, dan janganlah kalian menyakiti orang-orang tua kalian yang telah tiada.”

Namun pertanyaan datang mengusik. Bila shaum Senin Kamis sesuai dengan model pelatihan Muhammad saw., mungkinkah menjadi muttaqin? Kalau mungkin berapa lamakan waktu yang dibutuhkan? Pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh sains dengan duplikasi, evolusi dan mutasi.


[i] Nashiruddin al-Albani (terjemahan M Thalib): Sifat Shalat Nabi, Media Hidayah, Yogyakarta, 2000, hal 99

[ii] Hasyimi hal 919

[iii] al Gazali. hal 290.

[iv] Haekal, Umar hal 374

[v] Wawan hal 112

[vi] Mahalli no 466

Posted in Panutan.

Tagged with , , .


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.