Skip to content


PUSENKAM 9 (1): Rasionalisasi kesembuhan

Bagaimana menalar kesembuhan kanker otak dalam PUSENKAM 8?

Sebagai pendahuluan perlu kita baca serial PUSENKAM sebelumnya.

Dari PUSENKAM 1 kita melihat tiga pilar puasa Senen Kamis yaitu niat, amal dan waktu. Bila Anda berniat untuk puasa di hari itu, ia pun langsung terbaca dan sampai ke Arasy, singgasana-Nya. Melakukannya akan mengguncang Arasy, menunggu ampunan-Nya konon pula bila teratur dan berkesinambungan di hari-hari pembukaan itu.

PUSENKAM 2 mencatat tentang sifat universal puasa sepeti firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Aal-Baqarah: 183). Dan keberhasilan memperoleh takwa memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang muttaqin.

PUSENKAM 3, menulis tentang aplikasi takwa yaitu malu, tayib dan adab yang terlihat dalam berbagai karat sesuai dengan kedekatannya. Menggunakannya dalam kehidupan, akan menjamin keselamatan dunia akhirat.

PUSENKAM 4, menulis bahwa memperoleh takwa tidak mungkin tanpa bantuan-Nya. Namun untuk mencapai itu dibutuhkan jihad yang berimbang dalam amal, informasi dan ilmu.

PUSENKAM 4 bagian ke 2 menulis bahwa Kuasa-Nya juga meliputi seluruh alam. Bantuan-Nya memungkinkan cross transformation antara dua benda mati.

PUSENKAM 5, mengenalkan ekspresi ketakwaan sebagai 17 butir amal dari takwa yang terpadu dan dilakukan dengan sunnah Rasulullah saw,

PUSENKAM 6, membicarakan rasionalisasi perubahan ekspresi ketakwaan dalam konteks duplikasi, evolusi dan mutasi.

PUSENKAM 7, menulis tentang puasa Senen Kamis sebagai fasilitas penyembuhan dari Allah swt, bagi semua penyakit termasuk kanker.

PUSENKAM 8, mengemukakan suatu kasus kanker otak yang selama lebih dari 20 tahun tidak mengalami rekuren. Artikel ini juga menulis rasio yang digunakan kedokteran perihal penyembuhan dalam kanker.

Bahwa sembuh bukannya tidak mungkin diriwayatkan antara lain oleh Turmudzi dari Usamah pula, tetapi lafazhnya berbunyi, “Orang-orang Badui menanyakan, “Wahai Rasulullah, tidakkah kami akan berobat?” Jawabnya, “ Yah, wahai hamba-hamba Allah, berobatlah kalian, karena Allah tidak menciptakan penyakit kecuali menciptakan pula baginya penyembuhnya – atau obatnya – kecuali satu macam penyakit.” Tanya mereka,: “Wahai Rasulullah, apakah itu?” Jawabnya: “ Usia tua.” (Majelis Tertinggi Urusan Keislaman Mesir: Seluk beluk Penyakit Ketabiban dan Pakaian. Angkasa, Bandung, hal 47)

Rahasia kematian sudah terkuak sedikit dengan telomerase, suatu enzim yang terletak di DNA. Telomerase di ekspresikan dengan kuat pada sel embrio sehingga mereka bebas membelah sebaliknya lemah pada sel orang dewasa yang tidak banyak memerlukan pembelahan. Sebagai suatu indikator pertumbuhan atau usia, ia disarankan oleh Dr. Michael Fossel, bukan hanya untuk diteliti dalam hal kanker melainkan juga usia tua.

Mengenai tidak ada obat bagi usia tua sudah difirmankan-Nya dalam surat Al Baqarah: 154 yang berbunyi: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah; (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” Bukankah DNA para syuhada itu tidak dapat ditembus oleh senjata? Dan bukankah bila telomerase tidak di ekspresikan lagi kematian akan datang?

Namun bukankah DNA dapat ditemukan di seluruh tubuh kita sebagaimana halnya dengan telomerase?

bersambung.

Posted in Panutan.

Tagged with .


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.