Disamping mengukuhkan niat, ilmu ilmu dan informasi dapat merubah kualitas amal. Tertulis bahwa setelah Umar berangkat menuju Syam dan dijemput oleh panglima-panglima militernya di Sarg (Sar’), dan mereka mengatakan bahwa daerah sedang dilanda penyakit menular, Umar memerintahkan mereka untuk kembali ke Madinah. Tetapi Abu Ubaidah bin Jarrah ra, Panglima Syam menentangnya dengan mengatakan, “Umar, Anda lari dari takdir Allah?” yang dijawab oleh Umar, “Ya, lari dari takdir Allah ke takdir Allah juga.”[i]
Tidak ada manusia yang meragukan kekukuhan niat Umar bin Khattab ra, Amirul Mukminin. Demikian kukuhnya hingga menurut cerita, syaitanpun mengelak ketika berpapasan dengannya. Namun ilmu dan informasinya mengatakan bahwa meneruskan perjalanan adalah bunuh diri, Ia mengubah amalnya dan pulang ke Madinah. Takdir keduanya ditentukan-Nya, Umar ra selamat sedangkan Abu Ubaidah ra, meninggal dalam wabah itu.
Perlu pula diketahui bahwa bantuan-Nya adalah mutlak.
Dan hal itu dialami oleh Umar bin Khattab.
Suatu ketika di awal kerasulan Muhammad saw., Umar bin Khattab dengan niat untuk menyelamatkan perpecahan yang dialami bangsanya, berniat untuk membunuh Muhammad.
Dalam perjalanan menuju tempat berkumpul Muhammad dan beberapa sahabatnya ia berpapasan dengan Nu’aim b. Abdullah yang menasehatkannya untuk terlebih dahulu meluruskan keluarganya. Pada waktu itu Fatimah, saudaranya beserta Sa’id b Zaid suaminya sudah masuk Islam. Pulang ke rumah ia menangkap basah mereka sedang membaca Quran itu. Umar menghantam keduanya sampai berdarah. Kedua suami istri menjadi marah dan berkata, “Ya kami sudah Islam. Sekarang lakukan apa saja.”
Umar melembut melihat darah dimuka saudaranya dan meminta agar kitab itu diberikan kepadanya. Setelah dibacanya, wajahnya menggetar, ada sesuatu yang luhur dibalik bacaan itu. Ia langsung menuju ke tempat pertemuan itu dan menyatakan masuk Islam. [ii]
Kuasa-Nya juga meliputi seluruh alam.
Imam Ghazali meriwayatkan bahwa sesungguhnya Umar bin Khattab ra suatu ketika lewat di sebuah jalan dari jalan-jalan di Madinah, berpapasanlah dengannya seorang pemuda yang sedang membawa botol di bawah bajunya. Umar berkata, ”Wahai pemuda, apakah yang kau bawa di bawah bajumu?” Padahal yang ada di dalam botol itu adalah arak, maka pemuda itu merasa malu untuk mengatakan ”Arak”. Dia berkata dalam hatinya, ”Ya Tuhanku, janganlah Engkau buat aku malu dihadapan Umar, maka aku tidak akan minum arak lagi selamanya.” Kemudian dia berkata, ”Hai Amirul Mukminin, yang aku bawa ini adalah cuka.” Umar berkata lagi, ”Coba perlihatkan kepadaku hingga aku bisa melihat.” Lalu dia membukanya di hadapan Umar dan benarlah apa yang dilihat Umar adalah cuka. [iii]



0 Responses
Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.