Tidak ada yang tidak mungkin tanpa bantuan-Nya. Namun untuk mencapai itu dibutuhkan jihad yang berimbang dalam amal, informasi dan ilmu.
Hubungan antara bantuan-Nya, niat, amal, informasi dan ilmu dicontohkan secara utuh dalam Perang Yarmuk, Maret 634. Faktor Muhammad saw., pribadi dapat disingkirkan karena perang itu terjadi sepeninggalnya.
Awal 634, gerakan 30.000 pasukan muslim yang dipimpin oleh tiga Jenderal Islam yaitu Abu Ubaidah, Yazid bin Abu Sufyan dan Amr bin Ash, tertahan selama 2 bulan di tepi sungai Yarmuk oleh 240.000 pasukan Romawi Timur. Dalam suasana yang tidak menentu itu Khalifah Abu Bakr ra, , Pimpinan Tertinggi Imperium Islam, mengatakan, “Dengan Khalid akan kubuat Rumawi melepaskan bisikan setan.” [i]
Dengan perintah itu Khalid “Pedang Allah” bin Walid ra, beserta pasukannya, melintasi gurun Sahara, dari medan perang Irak ke Syam (sekarang Syria), wilayah Kekaisaran Romawi Timur. Dalam taklimatnya, ia mengatakan, “…Ketahuilah bantuan itu datang sesuai dengan niat kita dan pahalanya sesuai dengan amal perbuatan kita. Tidak pada tempatnya seorang muslim akan memperhatikan yang lain disamping pertolongan Allah.” [ii]
Niat yang kukuh terkumandang dari taklimat. Amal yang lebih menyukai syahid terlihat dari kenekatan 40.000 mujahidin Islam melawan 240.000 tentara legiun Romawi, pasukan elite masa itu. [iii]
Informasi adalah berita tentang sesuatu dan itu dimiliki Khalid dari pengalamannya melawan pasukan Romawi di berbagai benteng yang ditaklukkannya, sepanjang perjalanannya ke Yarmuk. Sedangkan informasi dari Al Quran adalah firman-Nya, “Kalau dari kamu ada dua puluh orang yang sabar dan tabah mereka akan mengalahkan dua ratus; kalau dari kamu ada seratus mereka akan mengalahkan seribu orang kafir (Al Anfal: 065).
Ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang tersusun dalam sistem untuk menerangkan gejala tertentu. Ilmu perang, strategi ataupun akalnya tidak tertandingi di masa itu. Sebelum memeluk Islam ia adalah Jendral Kavaleri Qurais dan Pahlawan Uhud. Sesudah memeluk Islam, ia digelari Syaifullah (Pedang Allah) oleh Muhammad saw., sendiri. Keperkasaannya diakui dunia. Berbagai ensiklopedia saat ini menyebutnya sebagai brilliant Arab general (Jenderal Arab yang cemerlang). Ia adalah penakluk dua imperium (Persia dan Romawi Timur), serta tidak pernah kalah di setiap kampanyenya walaupun berhadapan dengan Rasulullah saw.[iv]
Dan, dengan bantuan-Nya, Khalid hanya membutuhkan waktu sehari untuk memenangkannya.
Maka, untuk memulai jihad, dibutuhkan niat yang kukuh karena ialah yang menentukan amal saleh, seperti sabda Nabi saw., Semua amal tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapat (balasan) sesuai dengan niatnya. (HR Bukhari)[v] Niat yang tuluspun sudah mendapat pahalanya yang tergantung di Arasy (riwayat Al-Khatib melalui Ibnu Umar ra[vi]) menunggu amal yang akan dilakukan.
Amal harus pula dilakukan semaksimal mungkin seperti firman-Nya, ”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) (Al Anfal: 060). Amal dengan kualitas jihad ini akan mungguncang Arasy menunggu ampunan, seperti yang yang diriwayatkan oleh Al-Khatib melalui Ibnu Umar ra, “… apabila seorang hamba melaksanakan niatnya itu maka Arasy berguncang karenanya, lalu ia mendapat ampunan.” [vii]
Bagaimanapun, untuk memperoleh bantuan-Nya, niat dan amal harus dilandasi oleh ilmu dan informasi seperti firman-Nya, … Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az Zumar: 009). Nabi saw., juga bersabda, “Amal sedikit disertai ilmu adalah lebih baik dari amal yang banyak dalam kebodohan[viii] Mempelajarinya adalah bersyukur kepada-Nya seperti yang diingatkan-Nya dalam firman-Nya, “Dan Dia-lah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” (Asy Syu’ara’: 078).
Walaupun demikian tanpa kesederhanaan, jihad itupun belum mendekati sunnah Muhammad saw.
Khalid “Pedang Allah” bin Walid ra, penakluk dua imperium merasakan akibatnya ketika ia dan jenderal Islam lainnya dilempar oleh Umar bin Khattab ra dengan batu. Umar marah karena mengira mereka berbangga diri, dengan memakai pakaian sutra tatkala menemuinya di batas kota Jerusalem. Kemarahan Umar baru reda sewaktu mereka menyingkap bajunya, memperlihatkan senjatanya.. Faqr adalah kebanggaanku, pesan Nabi saw.[ix]
[i] Muhammad Husain Haekal (terjemahan Ali Audah) : Abu Balar As-Siddiq, cetakan kedua, Litera AntarNusa, Jakara tahun 2001, hal 279
[ii] Taklimat Khalid bin Walid ra pada pasukannya. Muhammad Husain Haekal (terjemahan Ali Audah) : Abu Balar As-Siddiq, hal 279
[iii] Muhammad Husain Haekal (terjemahan Ali Audah) : Abu Balar As-Siddiq, hal 288
[iv] Muhammad Husain Haekal (terjemahan Ali Audah) : Abu Balar As-Siddiq, hal 279
[v] Nashiruddin al-Albani (terjemahan M Thalib): Sifat Shalat Nabi, Media Hidayah, Yogyakarta, 2000, hal 99
[vi] Hasyimi hal 919
[vii] Hasyimi hal 919
[viii] al Gazali. hal 290.
[ix] Haekal, MH.: Muhammad, hal 214
[x] Haekal, Umar hal 374
[xi] Haekal, Muhammad, hal 112
[xii] Ghazali, Tobat, hal 49



0 Responses
Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.