Bahwa puasa Ramadhan adalah ujian untuk memperoleh takwa, tertulis jelas dalam firman-Nya sbb, ““Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (yaitu) dalam beberapa hari tertentu…. (al-Baqarah: 183-184).
Dan takwa itu adalah sbb. “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebajikan. Tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang yang meminta-minta; dan (memerdekaan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (al Baqarah: 177).
Kedua ayat ini menerangkan bahwa puasa Ramadhan adalah alat memperoleh ketakwaan (Al Baqarah: 183-184); yaitu beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi; menyayangi kerabatnya dan umat-Nya yang lain; mendirikan shalat dan menunaikan zakat; memegang teguh amanat; dan sabar menghadapi cobaan-Nya. (Al Baqarah: 177).
Puasa yang juga tidak disebut di dalamnya, bila dilakukan dalam kerangka 17 butir cetak biru ini, akan menghasilkan 17 butir amal yang terpadu dalam takwa yang dimaksudkan dalam surat al Baqarah: 177 yaitu: 1. beriman kepada Allah, 2. beriman kepada hari kemudian, 3. beriman kepada malaikat-malaikat, 4. beriman kepada kitab-kitab, 5. beriman kepada nabi-nabi, 6. memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, 7 memberikan harta yang dicintainya kepada anak yatim, 8. memberikan harta yang dicintainya kepada orang-orang miskin, 9. memberikan harta yang dicintainya kepada musafir (yang memerlukan pertolongan), dan 10. memberikan harta yang dicintainya kepada orang yang meminta-minta; 11. (memerdekaan) hamba sahaya, 12. mendirikan shalat, 13. menunaikan zakat; 14. menepati janjinya apabila ia berjanji, 15. sabar dalam kesempitan, 16. sabar dalam penderitaan dan 17. sabar dalam peperangan.
Ia terpadu karena memberikan harta yang dicintainya kepada orang yang memerlukan pertolongan (butir 10 takwa), tidak ada artinya tanpa mencintai orang sesama hamba Allah itu seperti dirinya sendiri (butir 3 sunnah); tidak ada artinya bila berbangga diri (butir 11 sunnah); tidak ada artinya bila tidak ikhlas (butir 10); tida ada artinya bila tidak sabar karena ancaman kesempitan akibat kekurangan uang yang diberikan itu (butir 15 sunnah); dan yang paling utama adalah tidak karena ilah (seperti jabatan) selain Allah swt (butir 1).
Setiap hal yang dilakukan secara berkala dan berkesinambungan akan menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi perilaku. Misalnya mengucapkan assalamualakum setiap memasuki rumah. Ia menjadi perilaku bila dimulai membiasakannya sebelum anak-anak mengerti apa yang diucapkannya. Kemudian ia menjadi perilaku ketika anak-anak sudah mengerti akan maksudnya. Perilaku ini tertanam di gen otak.
Bila puasa di bulan Ramadhan adalah ujian untuk menjadi muttaqin maka puasa sunat adalah latihannya. Kecuali yang merasa dirinya serba cukup (Al Alaq: 007), yang berniat lulus tentu akan melakukannya. Bagaimanapun, banyaknya buku yang ditulis menunjukkan bahwa puasa sunat sudah mempunyai tempat tersendiri dalam hati umat muslim.
Karena tujuan utama puasa Senin Kamis adalah takwa, sampingannya adalah malu. Bila seorang muslim mengatakan atau mengerjakan sesuatu yang tidak sepatutnya, maka ia harus malu kepada Allah swt., yang Maha Mengetahui; ia harus malu kepada malaikat yang mencatat semua perbuatannya; ia harus malu kepada umat lainnya karena perbuatannya itu mencelakakan dan terutama ia harus malu pada dirinya sendiri dan segera memperbaikinya karena Allah swt.
Tayib berarti bagus, halal dan diridha-Nya. Bila seorang muslim mengerjakan sesuatu ia harus mengambil sumber yang terbaik dan melakukan sesuai dengan hukum-Nya.. Firman-nya, “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh...(Al Mu’minun: 051).
Adab berarti sopan yaitu tatacara yang diinginkan-Nya dalam berkomunikasi dengan-Nya. Maka malu akan menyerang bila shaim melakukan sesuatu yang tidak tayib dan atau dengan cara yang tidak beradab..
Secara keseluruhan, malu, tayib dan adab terlihat dalam berbagai karat sesuai dengan kedekatannya. Menggunakannya dalam kehidupan, akan menjamin keselamatan dunia akhirat. Di dunia ini ia terlihat bukan hanya untuk shaim tetapi juga lingkungannya. Semuanya itu membuat kita bersujud syukur karena kesempurnaan berkah-Nya.



0 Responses
Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.