Monoclonal antibody therapy atau targetted therapy bukan hanya pengobatan terkini tetapi pemberi isyarat atas dimulainya era baru pengobatan kanker payudara (KPD). Hasil penelitian selama 40 tahun [i] memberikan Herceptin, monoclonal antibody dari Roche, sebagai pengobatan KPD dengan HER2/neu sebagai target.
Era ini belum terlihat oleh Ibnu Sina ketika dia membantah pendapat Hippocrates yang menyatakan bahwa kanker tidak dapat disembuhkan.[ii]
Dalam bukunya Al-Qanun fi al-Tibb (Hukum Kedokteran) yang dipelajari dunia Barat sampai sekarang sebagai The Canon of Medicine, ia mengatakan bahwa pengobatan kanker adalah sejenis herbal dan operasi radikal, membuang segala jaringan yang sakit termasuk pembuluh darah balik (vena) yang menuju ke arah tumor. [iii] [iv]
Manajemen kanker payudara (KPD) saat ini hanya merupakan modernisasi dari Al-Qanun fi al Tibb. Mastektomi dengan segala versinya adalah membuang segala jaringan yang sakit. Kemoterapi ditujukan untuk membunuh sel kanker. Terapi hormon ditujukan untuk meniadakan pengaruh estrogen. Belum ada pengobatan atas suatu target yang difinitif, seperti yang disuguhkan oleh monoclonal antibody therapy.
Monoclonal antibody therapy atau targetted therapy adalah pengobatan KPD dengan membunuh HER2/neu yang over expression (ekspresinya berlebihan). Terdapat dilapisan luar sel kanker, over exspression ini diduga menyebabkan sel kanker tumbuh dan membelah lebih cepat.
HER adalah singkatan dari human epidermal growth factor receptor (EGFR) sedangkan neu berasal dari kesamaan bangunannya dengan dinding sel dari neuroglioblastoma tikus. Ia disebut sebagai HER2, karena bangunannya mirip dengan HER1. HER2 juga disebut ErbB2 karena bangunannya sama dengan ErbB (avian erythroblastosis oncogene B) yang merupakan code untuk membuka EGFR.
HER2/neu adalah adalah gen proto-oncogen yang memberikan sinyal bagi protein untuk mengatur pertumbuhan dan diferensiasi sel. Proto-oncogene dapat berubah menjadi oncogene karena mutasi atau overexpression. Oncogen adalah protein-encoding gen yang bila disalah-artikan akan ikut serta dalam kejadian dan perkembangan kanker.
Karena tergetnya adalah HER2/neu yang over expression, penggunaan monoclonal antibody therapy terbatas pada +/- 20% KPD yang memperlihatkan penampilan itu. Hal ini dapat dimengerti karena selain overexpresssion, proto-oncogene dapat menjadi oncogene karena mutasi.
Bagaimanapun terobosan ini sangat berarti bagi pasien dengan HER2/neu ++
[i] Harris, J.R., Lippman,M.R., Moprrow, M., Hellman, S.: Diseases of the Breast, Lippimcott, Phil, 1996, p 221
[ii] Newell,G.R., Boutwell,W.B., Morris,D.L. et al: Epidemiology of Cancer. In DeVita,V.T., Hellman,S, Rosenberg,S.A.(eds) : Cancer. Principles and Practice of Oncology. Lippincott, Phil, 1982, p 4
[iii] Newell,G.R., Boutwell,W.B., Morris,D.L. et al: Epidemiology of Cancer. In DeVita,V.T., Hellman,S, Rosenberg,S.A.(eds) : Cancer. Principles and Practice of Oncology. Lippincott, Phil, 1982, p 4
[iv] Microsoft Encarta References Library 2003.



Assalamualaikum dokter Bahar,
Wah dok menarik sekali ya, karena selama ini setahu saya dok, pengobatan antibodi monoklonal hanya dilaksanakan pada pasien Limfoma. Dan memang papa saya seorang ahli di bidang hemato-onkologi. Dan untuk tambahan dokter, sekarang ini Roche sedang gempar mengembangkan kemoterapi dengan menggunakan Rituxin / Rituxab, karena papa saya juga seorang peneliti yang dibiayai oleh Roche untuk kemoterapi jenis ini. Insya Allah secepatnya saya nanti sampaikan ke dokter mengenai artikel tentang Rituxin. Sukses selalu buat dokter.
Wassalamualaikum
Terimakasih Mas atas kunjungan dan masukannya. Ada beberapa kanker lainnya disamping NHL dan juga penyakit lainnya yang diobati dengan monoclonal antibody. Eh siapa nama babenya mungkin saya kenal.
Pertama kali membaca istilah antibodi monoklonal di koran, apalagi diembel-embeli kata “pengobatan terkini”, saya kira terapi ini cuma ada jauh di luar negeri sono. Kebetulan memang saya membacanya di iklan pengobatan kanker luar negeri. Tidak tahunya di sini sudah banyak dipakai, hanya tidak disebutkan istilahnya. Dokter yang merawat ibu saya dua tahun lalu hanya menyebutnya “obat lain yang cukup mahal”.
Juga, saya baru tahu bahwa krioterapi bahkan sudah bisa dilakukan di puskesmas (tertentu), bersamaan dengan prosedur IVA untuk skrining kanker serviks. Padahal, lagi-lagi, sebelumnya saya hanya baca istilah itu di iklan pengobatan kanker di luar negeri.
Coba dokter-dokter di Indonesia mau mengedukasi pasiennya dengan perkembangan-perkembangan baru ini, pasti pasien lebih percaya bahwa teknik pengobatan kita tidak kalah dengan luar negeri. Pasti tidak terlalu banyak pasien yang lari ke luar negeri untuk mencari “pengobatan mutakhir”. Pasien tahunya pengobatan kanker di Indonesia itu cuma bedah, kemo, dan radiasi (eksternal).
Mbak Titah, bukankah itu missi kita yaitu mengenalkan apa yang kita punya hanya sayang sebagian terlalu sibujk untuk menulis. Harganya cukup mahal yatu +/- 20 juta per kali pemberian setiap 3-4 minggu selama 1-2 tahun.. He he he kita jiga radiasi interna lho Mbak al untuk Ca thyroid dan Ca cervix. Makasih Mbak Titah atas kunjungan dan masukannya/
Betul Dok, 3 minggu lalu saya mengunjungi penderita ca thyroid yang rutin menjalani radiasi interna (radionuclide?) di RSU Dr. Soetomo. Tapi di luar kita tidak pernah mendengar bahwa di Indonesia ternyata ada juga terapi kanker semacam itu.
Kalau begitu saya tunggu tulisan Dokter Bahar tentang perkembangan terkini teknik-teknik pengobatan kanker di Indonesia ya, termasuk di mana saja fasilitas tersebut tersedia. Nanti saya upload di rumahkanker.com.
Terima kasih sebelumnya.
Mbak, memang demikianlah adanya. Radiasi interna untuk tiroid sudah ada di Bandung tahun 1980an. Saya akan mencoba mnulis tentang informsi fasilitas itu. Makasih atas kunjungan dan masukannya Mbak Titah. Salam manis.