Skip to content


Miskomunikasi 1

Kisah nyata

Suatu hari kasir menemui saya berhubungan dengan kasus dimana seorang pasien membayar duaratuslimapuluh ribu rupiah untuk suatu operasi amandel sehari rawat, padahal tagihannya duasetengahjuta rupiah.

Pada awalnya saya tidak mau menanggapi karena sebagai Ketua Komite Medik itu adalah urusan administrasi. Tapi ketika diceritakan asal usulnya saya mau memberikan pendapat.

Kisahnya begini.

Bapak si pasien tidak mau membayar duasetengahjuta rupiah karena ketika pasiennya menanyakan biaya operasi, dokter ybs menjawab dua setengah. Pasien mengira duasetengah itu adalah duaratuslimapuluh ribu rupiah.

Pasien dan bapaknya saya panggil dan terjadilah dialog ini:

Saya bertanya: ”Apakah duasetengah juta itu tidak murah menurut bapak?”

Bapak pasien menjawab dengan tercengang: ”Murah, mahal itu Dok!”

Saya mencoba menjelaskan, ”Di rumah sakit lain bisa tiga juta lho Pak.”

Bapak pasien menjawab. ”Tapi ini kan tidak ada jahitannya.”

Saya heran dan bertanya, ”Apa hubungannya Pak?.”

Bapak pasien menjawab, ”Di PUSKESMAS saja satu jahitan cuman lima ribu rupiah.”

Posted in Senyum Dong!.


4 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. titah says

    Miskomunikasi seperti ini sering terjadi karena kurang lengkapnya informasi. Ibu mertua saya juga pernah mengalaminya. Saat disarankan operasi colostomy, beliau menanyakan biayanya pada dokter. Dijawab: kira2 empat setengah juta rupiah (Agustus 2006). Merasa biaya itu terjangkau, ibu masuk rumah sakit dengan menggunakan fasilitas askes.

    Miskomunikasinya di sini, biaya 4,5 juta yang disampaikan dokter tadi ternyata hanyalah “ongkos dokter bedah untuk pasien dg fasilitas askes”, belum termasuk biaya rawat inap, administrasi, sewa OK, dokter anestesi, perawat, obat2an, oksigen, dll; sementara dalam persepsi ibu biaya segitu adalah “biaya keseluruhan”. Untuk 23 hari rawat inap plus operasi, sekalipun menggunakan fasilitas askes ternyata ibu masih harus mengeluarkan biaya Rp 15 juta.

    Semoga menjadi masukan para dokter supaya lain kali memberikan informasi sedetail-detailnya. :-)

  2. Dokter Bahar says

    Mbak Titah, biaya juga termasuk dalam informed consent. Maka kewajiban pasien adalah speak up kalau perlu cerewet. Biaya rumah sakit itu terdiri dari berbagai komponen seperti honorarium dokter, obat, alat kesehatan, sewa fasilitas ini dan itu dlsb. Maka yang perlu ditanya adalah taksiran biaya keseluruhan dan yang kompeten menjawab adalah bagian administrasi. Saya sudah pernah menulis tentang komponen biaya rs disini. Makasih ya Mbak atas kunjungan dan masukannya. Salam manis

  3. Eka K. says

    Pengalaman di tempat kami, beberapa kali justru dokternya yang complain karena pasien yang dikirimkannya untuk operasi malah kabur setelah mendapat keterangan dari petugas FO rumah sakit tentang estimasi biaya total yang akan dikeluarkan…
    Memang betul apa kata mbak Titah dan dr. Bahar, penjelasan pembiayaan operasi yang se-transparan mungkin hendaknya menjadi bagian dari inform concern …

  4. Dokter Bahar says

    Sama Dok. Memang kita kecewa melihat pasien yang sudah ikhlas untuk operasi tidak datang pada saat yang direncanakan. Kecewa karena membuat mereka bersedia untuk operasi itu adalah episode yang paling sulit dalam praktek ahli bedah. Namun kecewa menjadi jengkel karena buah komunikasi itu gagal dalam sekejap oleh seseorang di FO. Jengkel menjadi sedih karena memberikan infomasi lengkap mengenai biaya bukanlah hak kita. Untuk mengatasinya saya selalu memberikan nomor HP kepada pasien dengan pesan supaya mereka menelpon kalau ada masalah. Makasih Dok atas kunjungan dan masukannya. SS



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.