<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Rumah Sakit Pendidikan</title>
	<atom:link href="http://www.suaradokter.com/2008/12/rumah-sakit-pendidikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.suaradokter.com/2008/12/rumah-sakit-pendidikan/</link>
	<description>Griya Curhat Sang Dokter</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 May 2012 14:32:34 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
	<item>
		<title>Oleh: Dokter Bahar</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2008/12/rumah-sakit-pendidikan/comment-page-1/#comment-7032</link>
		<dc:creator>Dokter Bahar</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 20:11:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=544#comment-7032</guid>
		<description>Mas Seto makasih atas kunjunan dan pertanyaannya yang penting untuk diketahui masyarakat. Sebagian sudah saja jawab dengan BB. Memang di RSDik, kita diajar untuk membuat diagnosa yang lengkap. Kalau sudah tamat tentu pemngalaman semasa residen akan membantu membuat diagnosa dengan cepat. Katakanlah usus buntu akut atau apendisitis akuta. Bagi ahli bedah diagnosa dapat ditentukan dengan perabaan. laboratorium pasti dilakukan tapi berbeda dengan yang lagi belajar, ahli bedah sudah dapat menduga hasilnya. Pemeriksaan lain seperti foto abdomen ataupun USG juga demikian. Nah kemampuan menduga ini diperoleh dengan latihan semasa masih belajar.   
Nah tentu saja ada kelebihan dan kekurangan RSDik. Kelebihannya adalah pemeriksaan lebih teliti dan kekurangannya banyak dilakukan pemeriksaan ataupun rujukan ke bagian lain. Hal ini perlu diketahui oleh masyarakat. Di negara maju, RS Dik mempunyai klausula khusus untuk hal ini dalam informed consent nya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Seto makasih atas kunjunan dan pertanyaannya yang penting untuk diketahui masyarakat. Sebagian sudah saja jawab dengan BB. Memang di RSDik, kita diajar untuk membuat diagnosa yang lengkap. Kalau sudah tamat tentu pemngalaman semasa residen akan membantu membuat diagnosa dengan cepat. Katakanlah usus buntu akut atau apendisitis akuta. Bagi ahli bedah diagnosa dapat ditentukan dengan perabaan. laboratorium pasti dilakukan tapi berbeda dengan yang lagi belajar, ahli bedah sudah dapat menduga hasilnya. Pemeriksaan lain seperti foto abdomen ataupun USG juga demikian. Nah kemampuan menduga ini diperoleh dengan latihan semasa masih belajar.<br />
Nah tentu saja ada kelebihan dan kekurangan RSDik. Kelebihannya adalah pemeriksaan lebih teliti dan kekurangannya banyak dilakukan pemeriksaan ataupun rujukan ke bagian lain. Hal ini perlu diketahui oleh masyarakat. Di negara maju, RS Dik mempunyai klausula khusus untuk hal ini dalam informed consent nya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Seto</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2008/12/rumah-sakit-pendidikan/comment-page-1/#comment-7027</link>
		<dc:creator>Seto</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 11:28:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=544#comment-7027</guid>
		<description>Maaf dok, saya pernah nganter tetangga saya ke UGD sebuah RSdik type A. Disana saya lihat untuk penyakit2 yang sewajarnya didiagnosa hanya dengan klinis, tapi karena para residen sangat menghindari &quot;tembakan&quot; dari konsulen ketika pelaporan kasus, jadi banyak pemeriksaan lab yang saya pikir tidak terlalu diperlukan tetapi seperti &quot;harus&quot; dilakukan. Sehingga akhirnya bukan diagnosis klinis yang ditegakkan tetapi diagnosis laboratoris. 
Mohon maaf, ada kemungkinan pemikiran &quot;berlebihan&quot; ini dikarenakan keilmuan saya yang masih awam di bidang kedokteran.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf dok, saya pernah nganter tetangga saya ke UGD sebuah RSdik type A. Disana saya lihat untuk penyakit2 yang sewajarnya didiagnosa hanya dengan klinis, tapi karena para residen sangat menghindari &#8220;tembakan&#8221; dari konsulen ketika pelaporan kasus, jadi banyak pemeriksaan lab yang saya pikir tidak terlalu diperlukan tetapi seperti &#8220;harus&#8221; dilakukan. Sehingga akhirnya bukan diagnosis klinis yang ditegakkan tetapi diagnosis laboratoris.<br />
Mohon maaf, ada kemungkinan pemikiran &#8220;berlebihan&#8221; ini dikarenakan keilmuan saya yang masih awam di bidang kedokteran.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Dokter Bahar</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2008/12/rumah-sakit-pendidikan/comment-page-1/#comment-3307</link>
		<dc:creator>Dokter Bahar</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Jul 2009 14:02:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=544#comment-3307</guid>
		<description>Mas Indra makasih atas kunjungan dan pertanyaannya. Mungkin Anda menderita alergi. Saya usulkan untuk melakukan olah raga pagi hari.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Indra makasih atas kunjungan dan pertanyaannya. Mungkin Anda menderita alergi. Saya usulkan untuk melakukan olah raga pagi hari.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: indra</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2008/12/rumah-sakit-pendidikan/comment-page-1/#comment-3303</link>
		<dc:creator>indra</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Jul 2009 11:30:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=544#comment-3303</guid>
		<description>requst om, apa penyebabnya flu (bersin-bersin)berkepanjangan/setiap khusus nya pada pagi harinya/sewaktu bangun dari tidur dan bagaimana cara untuk menanggulanginya supaya tidak berkelanjutan. dimohon informasinya ya om.....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>requst om, apa penyebabnya flu (bersin-bersin)berkepanjangan/setiap khusus nya pada pagi harinya/sewaktu bangun dari tidur dan bagaimana cara untuk menanggulanginya supaya tidak berkelanjutan. dimohon informasinya ya om&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Dokter Bahar</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2008/12/rumah-sakit-pendidikan/comment-page-1/#comment-533</link>
		<dc:creator>Dokter Bahar</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 14:54:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=544#comment-533</guid>
		<description>Makasih Mas Tri atas masukan dan kunjungannya. Secara khusus kriteria itu ditentukan dan diukur oleh Panitia Akreditasi. Sayang sekali saya tidak kompeten untuk menjawabnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Makasih Mas Tri atas masukan dan kunjungannya. Secara khusus kriteria itu ditentukan dan diukur oleh Panitia Akreditasi. Sayang sekali saya tidak kompeten untuk menjawabnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Tri Aan Agustiansyah</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2008/12/rumah-sakit-pendidikan/comment-page-1/#comment-532</link>
		<dc:creator>Tri Aan Agustiansyah</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 13:59:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=544#comment-532</guid>
		<description>maksudnya RS PENDIDIKAN (Tipe A)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>maksudnya RS PENDIDIKAN (Tipe A)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Tri Aan Agustiansyah</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2008/12/rumah-sakit-pendidikan/comment-page-1/#comment-531</link>
		<dc:creator>Tri Aan Agustiansyah</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 13:56:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=544#comment-531</guid>
		<description>Permisi.......! mau tanya, kriteria RS pendudukan tu ap aja ya?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Permisi&#8230;&#8230;.! mau tanya, kriteria RS pendudukan tu ap aja ya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Dokter Bahar</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2008/12/rumah-sakit-pendidikan/comment-page-1/#comment-156</link>
		<dc:creator>Dokter Bahar</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Dec 2008 06:27:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=544#comment-156</guid>
		<description>Makasih Mas. Betul sekali pendapat Mas, memang kita harus mulai berlaku jujur.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Makasih Mas. Betul sekali pendapat Mas, memang kita harus mulai berlaku jujur.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: mangsholeh</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2008/12/rumah-sakit-pendidikan/comment-page-1/#comment-152</link>
		<dc:creator>mangsholeh</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Dec 2008 03:34:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=544#comment-152</guid>
		<description>permisi dok...izin komentar..
saya kaget waktu pertama kali baca deret kata pertama di atas..karena itulah yang sering didengar oleh saya sewaktu ko-ass. malah saya merasa berdosa pernah memberi advis ke keluarga agar tidak berobat ke RSdik.
satu hal yang saya petik dari artikel ini adalah humanisasi RSdik harus digalakan. karena terkesan RS hanya mau mengeruk keuntungan dari pasien, apalagi dengan fasilitas askin, jamsostek, dll cenderung identik dengan pelayanan yang seadanya. 
perlu adanya proses pembelajaran untuk pasien, bahwa berharap sih boleh tetapi harus didasarkan pada kepercayaan bahwa seua terapi hanyalah usaha bukan hasil. dan dalam inform consent pun harus dicantumkan alinea seperti diatas.“ … I am also acknowledging that I know that the practice of anesthesiology, medicine and surgery is not an exact science and that no one has given me any promise or guarantees about the designated procedure/ operation/ treatment or its result.” (… Saya juga mengakui bahwa praktek kedokteran bukanlah ilmu pasti dan tidak seorangpun memberikan janji atau jaminan mengenai tindakan yang dijalankan ataupun keberhasilan…)
memang terkesan menyeramkan bagi pasien yang bacanya, tetapi itu kenyataan, untuk apa kita menyembunyikan kenyataan itu..?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>permisi dok&#8230;izin komentar..<br />
saya kaget waktu pertama kali baca deret kata pertama di atas..karena itulah yang sering didengar oleh saya sewaktu ko-ass. malah saya merasa berdosa pernah memberi advis ke keluarga agar tidak berobat ke RSdik.<br />
satu hal yang saya petik dari artikel ini adalah humanisasi RSdik harus digalakan. karena terkesan RS hanya mau mengeruk keuntungan dari pasien, apalagi dengan fasilitas askin, jamsostek, dll cenderung identik dengan pelayanan yang seadanya.<br />
perlu adanya proses pembelajaran untuk pasien, bahwa berharap sih boleh tetapi harus didasarkan pada kepercayaan bahwa seua terapi hanyalah usaha bukan hasil. dan dalam inform consent pun harus dicantumkan alinea seperti diatas.“ … I am also acknowledging that I know that the practice of anesthesiology, medicine and surgery is not an exact science and that no one has given me any promise or guarantees about the designated procedure/ operation/ treatment or its result.” (… Saya juga mengakui bahwa praktek kedokteran bukanlah ilmu pasti dan tidak seorangpun memberikan janji atau jaminan mengenai tindakan yang dijalankan ataupun keberhasilan…)<br />
memang terkesan menyeramkan bagi pasien yang bacanya, tetapi itu kenyataan, untuk apa kita menyembunyikan kenyataan itu..?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

