<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Makanya kelas VIP</title>
	<atom:link href="http://www.suaradokter.com/2008/12/makanya-kelas-vip/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.suaradokter.com/2008/12/makanya-kelas-vip/</link>
	<description>Griya Curhat Sang Dokter</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 May 2012 14:32:34 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
	<item>
		<title>Oleh: Dokter Bahar</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2008/12/makanya-kelas-vip/comment-page-1/#comment-123</link>
		<dc:creator>Dokter Bahar</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 11:17:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=436#comment-123</guid>
		<description>Mbak Titah betul lagi. Tapi sebenarnya itu dampak dari pemekaran disiplin kedokteran dan statisnya pola pikir masyarakat. Begini Mbak sekarang residen (dokter yang belajar menjadi spesialis) bedah tidak kebagian lagi kasus urologi dan ortopedia, trauma. Mereka juga sussah kebagian kasus biasa seperti hernia karena sudah diambil oleh trainee (dokter spesialis yang belajar menjadi konsultan) digestiv. Sementara itu rs pendidikan mereka seperti rscm juga masih menjadi mega puskesmas. Maka mereka dibawa ke rs tipe C unruk mendapat kasus yang dibutuhkan. Sama halnya dengan calon dokter gigi dan keperawatan. Mereka membutuhkan junlah kasus tertentu untuk dapat mengambil ujian. 
Mengenai subidi silang saya tidak tahu tapi yang pasti sekarang ini zaman swastanisasi pendidikan dan industri rumah sakit. Makasih Mbak sekali lagi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mbak Titah betul lagi. Tapi sebenarnya itu dampak dari pemekaran disiplin kedokteran dan statisnya pola pikir masyarakat. Begini Mbak sekarang residen (dokter yang belajar menjadi spesialis) bedah tidak kebagian lagi kasus urologi dan ortopedia, trauma. Mereka juga sussah kebagian kasus biasa seperti hernia karena sudah diambil oleh trainee (dokter spesialis yang belajar menjadi konsultan) digestiv. Sementara itu rs pendidikan mereka seperti rscm juga masih menjadi mega puskesmas. Maka mereka dibawa ke rs tipe C unruk mendapat kasus yang dibutuhkan. Sama halnya dengan calon dokter gigi dan keperawatan. Mereka membutuhkan junlah kasus tertentu untuk dapat mengambil ujian.<br />
Mengenai subidi silang saya tidak tahu tapi yang pasti sekarang ini zaman swastanisasi pendidikan dan industri rumah sakit. Makasih Mbak sekali lagi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: titah</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2008/12/makanya-kelas-vip/comment-page-1/#comment-120</link>
		<dc:creator>titah</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 05:05:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=436#comment-120</guid>
		<description>Tentang mahasiswa belajar praktek, sekarang bukan hanya monopoli rumah sakit pendidikan lho Dok. Puskesmas di dekat rumah saya tidak pernah sepi dari mahasiswa. Memang bukan mahasiswa kedokteran sih, tapi mahasiswa kedokteran gigi dan mahasiswa keperawatan. Setiap harinya selalu ada 5-10 mahasiswa di sana.

Oh ya, tentang perbedaan tarif, konon katanya untuk subsidi silang pasien-pasien tidak mampu di kelas bawah. Alasan yang masuk akal (dan mulia), tapi apa realisasinya benar2 begitu saya tidak tahu...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tentang mahasiswa belajar praktek, sekarang bukan hanya monopoli rumah sakit pendidikan lho Dok. Puskesmas di dekat rumah saya tidak pernah sepi dari mahasiswa. Memang bukan mahasiswa kedokteran sih, tapi mahasiswa kedokteran gigi dan mahasiswa keperawatan. Setiap harinya selalu ada 5-10 mahasiswa di sana.</p>
<p>Oh ya, tentang perbedaan tarif, konon katanya untuk subsidi silang pasien-pasien tidak mampu di kelas bawah. Alasan yang masuk akal (dan mulia), tapi apa realisasinya benar2 begitu saya tidak tahu&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Dokter Bahar</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2008/12/makanya-kelas-vip/comment-page-1/#comment-119</link>
		<dc:creator>Dokter Bahar</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2008 05:51:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=436#comment-119</guid>
		<description>Sama Dok. Tarif ataupun honor dokter tergantung atas kelas layanan.   Kayaknya sudah menjadi budaya  karena di setiap rs dimana saya berpraktek dari Jayapura - Banda Aceh  juga demikian. Adilkah? Ya, tentu tidak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sama Dok. Tarif ataupun honor dokter tergantung atas kelas layanan.   Kayaknya sudah menjadi budaya  karena di setiap rs dimana saya berpraktek dari Jayapura &#8211; Banda Aceh  juga demikian. Adilkah? Ya, tentu tidak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Eka K.</title>
		<link>http://www.suaradokter.com/2008/12/makanya-kelas-vip/comment-page-1/#comment-118</link>
		<dc:creator>Eka K.</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2008 04:23:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.suaradokter.com/?p=436#comment-118</guid>
		<description>Memang dilema, kalau pasien dibedakan terhadap sentuhan awal dokternya hanya karena yg satu adalah rs pendidikan dan lainnya tidak. Sebenarnya tergantung kembali pada komitmen dokter konsultannya, kalau pun itu rs pendidikan tapi concern terhadap customer satisfaction-nya tinggi justru kehadiran residen atau dokter muda akan memberi layanan yang lebih terarah.
Pertanyaan saya dok... Bagaimana untuk penentuan tarif di RS swasta di Bandung, apakah untuk suatu jenis tindakan tertentu tarifnya tergantung kelas perawatan? Kalo di Bali kebanyak RS msh seperti ini dok.. Jd menurut saya kurang adil. Kan tatacara bedahnya sama, baik itu pasien kelas 3 atau vip. Semestinya yg membedakan harga itu dari service dan fasilitas kamarnya saja...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Memang dilema, kalau pasien dibedakan terhadap sentuhan awal dokternya hanya karena yg satu adalah rs pendidikan dan lainnya tidak. Sebenarnya tergantung kembali pada komitmen dokter konsultannya, kalau pun itu rs pendidikan tapi concern terhadap customer satisfaction-nya tinggi justru kehadiran residen atau dokter muda akan memberi layanan yang lebih terarah.<br />
Pertanyaan saya dok&#8230; Bagaimana untuk penentuan tarif di RS swasta di Bandung, apakah untuk suatu jenis tindakan tertentu tarifnya tergantung kelas perawatan? Kalo di Bali kebanyak RS msh seperti ini dok.. Jd menurut saya kurang adil. Kan tatacara bedahnya sama, baik itu pasien kelas 3 atau vip. Semestinya yg membedakan harga itu dari service dan fasilitas kamarnya saja&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

