Skip to content


Makanya kelas VIP

Gunjingan di kafe suatu rumah sakit.

Makanya Mbak, biar tok cer rawatnya di VIP

Sebenarnya tidak ada perbedaan kualitas layanan antara ruang biasa dengan VIP. Pak Yudi menuliskannya sbb dalam Kompas 8 April 2001.

Andito (A), anak Pak Yudi (Y) mengalami kecelakaan dan dibawa ke UGD (Unit Gawat Darurat), Perjan RS Persahabatan. Ia menunggu 1 jam untuk ronsen dan 2 jam untuk dokter ahli bedah. . Y meminta kepada dokter jaga untuk melakukan Computed Tomography (CT) scan suatu alat ronsen untuk membuat foto penampang badan. Permintaan itu ditolak dengan alasan bahwa mereka tidak mempunyainya, sedangkan dokter syaraf mengatakan ada, namun jam operasionalnya terbatas.

Y minta pindah, tetapi dokter bedah mengatakan bahwa kondisi A tidak stabil. Akhirnya Y menerima dan memilih kelas VIP karena mengharapkan mendapat pelayanan yang prima.

Waktu mau dilakukan operasi kecil yaitu vena section (atau membelah urat vena untuk memasang infus) A diminta untuk puasa 8 jam untuk persiapan anestesi dan baru setelah 10 jam menunggu di kamar bedah dilakukan operasi dengan anestesi lokal.

Memang Andito memperoleh layanan yang bagus di VIP sesuai harga kamar tentunya. Tapi diluar itu, di fasilitas yang digunakan bersama seperti Kamar Bedah, tidak ada perbedaan antara VIP dengan kelas biasa.

Pada mulanya hanya ini yang teringat tapi komentar dr Dani Iswara (makasih mas) mengingatkan saya akan gunjingan berikutnya.

Walah jangan di situ dong. Nanti diperiksa dokter yang lagi belajar.

Hal itu ada benarnya seperti dengan salahnya.

Persoalan dokter yang sedang belajar adalah masalah rs pendidikan. Hanya saja bila dulu hanya rs besar milik pemerintah, sekarang rs sedang dan swasta pun dapat mendidik mereka.

Dengan swastanisasi rs pemerintah perbedaan itu menjadi tipis

Bila dulu rs pemerintah hanya mengenal pasien rs, sekarang sama dengan rs swasta, mereka memiliki pasien pribadi. Bila di rs pemerintah mereka dirawat di ruang VIP, di rs swasta dapat di ruang mana saja.

Di rs baik pemerintah atau swasta, pasien pribadi dikenakan tarif khusus serta tidak boleh dijadikan bahan pelajaran.

Namun mutlak dan relatifnya tergantung dari lokasi Anda.

Bila Anda pasien pribadi dan berada di kamar khusus maka Anda mutlak akan selamat dari dokter yang sedang belajar. Tapi di ruangan yang merupakan fasilitas bersama seperti kamar bedah, dimana dokter pribadi tidak dapat bekerja sendiri, pelayanan pribadi terpaksa bersifat relatif seperti yang dialami Andito.

Posted in Hak Pasien.

Tagged with , , , , .


4 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. Eka K. says

    Memang dilema, kalau pasien dibedakan terhadap sentuhan awal dokternya hanya karena yg satu adalah rs pendidikan dan lainnya tidak. Sebenarnya tergantung kembali pada komitmen dokter konsultannya, kalau pun itu rs pendidikan tapi concern terhadap customer satisfaction-nya tinggi justru kehadiran residen atau dokter muda akan memberi layanan yang lebih terarah.
    Pertanyaan saya dok… Bagaimana untuk penentuan tarif di RS swasta di Bandung, apakah untuk suatu jenis tindakan tertentu tarifnya tergantung kelas perawatan? Kalo di Bali kebanyak RS msh seperti ini dok.. Jd menurut saya kurang adil. Kan tatacara bedahnya sama, baik itu pasien kelas 3 atau vip. Semestinya yg membedakan harga itu dari service dan fasilitas kamarnya saja…

  2. Dokter Bahar says

    Sama Dok. Tarif ataupun honor dokter tergantung atas kelas layanan. Kayaknya sudah menjadi budaya karena di setiap rs dimana saya berpraktek dari Jayapura – Banda Aceh juga demikian. Adilkah? Ya, tentu tidak.

  3. titah says

    Tentang mahasiswa belajar praktek, sekarang bukan hanya monopoli rumah sakit pendidikan lho Dok. Puskesmas di dekat rumah saya tidak pernah sepi dari mahasiswa. Memang bukan mahasiswa kedokteran sih, tapi mahasiswa kedokteran gigi dan mahasiswa keperawatan. Setiap harinya selalu ada 5-10 mahasiswa di sana.

    Oh ya, tentang perbedaan tarif, konon katanya untuk subsidi silang pasien-pasien tidak mampu di kelas bawah. Alasan yang masuk akal (dan mulia), tapi apa realisasinya benar2 begitu saya tidak tahu…

  4. Dokter Bahar says

    Mbak Titah betul lagi. Tapi sebenarnya itu dampak dari pemekaran disiplin kedokteran dan statisnya pola pikir masyarakat. Begini Mbak sekarang residen (dokter yang belajar menjadi spesialis) bedah tidak kebagian lagi kasus urologi dan ortopedia, trauma. Mereka juga sussah kebagian kasus biasa seperti hernia karena sudah diambil oleh trainee (dokter spesialis yang belajar menjadi konsultan) digestiv. Sementara itu rs pendidikan mereka seperti rscm juga masih menjadi mega puskesmas. Maka mereka dibawa ke rs tipe C unruk mendapat kasus yang dibutuhkan. Sama halnya dengan calon dokter gigi dan keperawatan. Mereka membutuhkan junlah kasus tertentu untuk dapat mengambil ujian.
    Mengenai subidi silang saya tidak tahu tapi yang pasti sekarang ini zaman swastanisasi pendidikan dan industri rumah sakit. Makasih Mbak sekali lagi.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.