Skip to content


Mahal dan hemat (4)

Mispersepsi ke 4 adalah mengira biaya mahal sama dengan kualitas pengobatan seperti gunjingan berikut ini:

Kenapa harus disitu Mbak?

Kalah membeli kan menang memakai

Bahwa biaya mahal tidak menjamin pengobatan yang lebih baik terlihat dari pengalaman dua orang kerabat penulis, Pak Amat dengan Pak Ali (nama disamarkan).

Pak Amat berusia 60 tahun menderita mata kabur, dan datang ke seorang dokter spesialis mata . Mata Pak Amat diperiksa secara teliti dengan berbagai alat canggih. “Katarak, ” kata dokter mata. Katarak adalah penyakit mata dengan kelainan pada lensa yang keruh sehingga pandangannya terganggu. “… dan sebaiknya operasi”, sambungnya. Pak Amat setuju. Untuk persiapan operasi, Pak Amat dikirim ke laboratorium dan ronsen serta dirujuk ke berbagai spesialis. Ternyata ia menderita kencing manis dan dirujuk ke dokter penyakit dalam untuk diobati.

Pengalaman Pak Ali lain lagi. Ia juga berusia +/- 60 tahun dan mengeluh mata rabun. Ia datang ke PUSKESMAS dan diperiksa seluruh tubuhnya . “Katarak”, kata dokter PUSKESMAS, ” tetapi mungkin ada kencing manis,.” sambungnya. Selesai pemeriksaan dokter minta Pak Ali untuk kencing.”Pak Ali sebaiknya operasi”, kata dokter umum, “tetapi kencing manisnya harus diobati dulu.” Pak Ali setuju. Kencing manisnya diobati di PUSKESMAS dan hanya dirujuk ke dokter spesialis bila dibutuhkan. Sementara itu ia dipersiapkan untuk operasi.

Tak lama kemudian Pak Ali dirujuk ke dokter mata yang membuat surat masuk untuk menjalani operasi katarak.

Tidak ada perbedaan pengobatan kencing manis dan kualitas operasi. Namun, Pak Amat, pasien dokter spesialis, lebih boros. Ia menghabiskan tenaga, waktu dan uang dalam berobat dari satu dokter spesialis ke yang lainnya. Walaupun uang yang dikeluarkannya tidak banyak berbeda, hemat biaya adalah milik Pak Ali, pasien Puskesmas.

Maka masalahnya adalah apakah mahal itu hemat.

Biaya yang mubazir atau tidak merubah tindakan lazimnya datang dari pemeriksaan alat canggih. Ironisnya semua itu menjadi daya pikat bagi rs berlanggam bisnis.

Sesungguhnya rs ini akan terlihat bila menggunakan mata hati.

Perlakuan sebagai raja sudah Anda nikmati dari awal. Pertama kali masuk sudah terasa nyaman. Ruang parkir luas, ruang tunggu menyenangkan dengan berbagai hiburan dan kantin. Pendaftaran mudah, malah bisa dengan telpon. Disini dokterlah yang menunggu anda, karena semuanya sudah terjadwal. Perawat kelihatannya dinamik. Mereka berjalan cepat, tanpa melenggang seperti pengantin.

Dalam hal pengadaan alat canggih, rs berlanggam bisnis mengenal prinsip banyak ongkos banyak pendapatan (more cost more revenue). Harga milyaran membuat rs gamang mengadakannya hingga alat canggih itu didaulat menjadi saham para dokter. Dan bila mereka menggunakannya tanpa indikasi maka mahal biaya itu tidaklah hemat.

Posted in Hak Pasien.

Tagged with , , , .


4 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. titah says

    Untungnya saya bukan termasuk orang yang fanatik dengan dokter spesialis. Kebetulan pengalaman saya di awal2 menggunakan jasa dokter spesialis tidak terlalu menyenangkan, beberapa dokter senior dan laris yang direkomendasikan teman2 saya itu banyak pasiennya sehingga terkesan buru2, seolah tidak ada waktu bagi pasien untuk berkomunikasi secara nyaman. Pokoknya asal ditanya keluhan, periksa pakai stetoskop, nulis resep, sudah.

    Saya lebih suka periksa ke dokter yang komunikatif, mau menjelaskan perjalanan dan penanganan penyakit yang saya derita sejak awal sampai akhir secara gamblang. Tidak masalah walaupun dokter tersebut masih kinyis2 baru saja diwisuda; kalau dia bisa menerangkan sampai saya puas saya anggap dia pintar, tahu bagaimana menangani penyakit saya, dan mau mengajari saya untuk pintar juga sehingga tidak salah melakukan perawatan di rumah. Sampai sekarang saya lebih suka periksa ke dokter umum yang pasiennya tidak banyak, dan menjadi pasien terakhir :-)

  2. Dokter Bahar says

    Betul Mbak Titah. Itu cara yang paling bijak. Bravo. Makasih

  3. Eka K. says

    Mengomentari mbak Titah, ini salah satu karakteristik pasien! Tapi seberapa banyak ya pasien yang ber-tipe spt mbak…? he..he…
    Sangat berpengaruh sekali banyaknya pasien yang dimiliki seorang dokter dengan kwalitas pelayanan yang diberikan. Bagaimana pun ramah dan informatifnya dokter itu, jika ia dihadapi lebih dari 30 pasien sekali waktu berpraktek, saya kira kwalitas layanannya sangat mungkin menurun juga. Kecuali yang memang mempunyai kondisi prima. Itu juga bisa ditanya sampai berapa lama..? Ini mungkin juga sebagai alasan bagi dokter senior yang laris, demi terjaga kwalitasnya membatasi pasien dengan tarif yg lebih tinggi dari yg lain…
    Tentu bagi saya pribadi, ini menjadi renungan tersendiri, sekalipun belum dan mungkin tidak sampai pada taraf itu he..he..he…..

  4. Dokter Bahar says

    Boleh saya tengahi ya Mbak Titah dan Dokter Eka. Mbak Titah tentu senang bila dokternya memberikan waktu yang banyak untuk berkomunikasi. Hanya sering pasien maunya cepat dan kalau dokter menerangkan lama dianggap berteletele dan tidak jagok. he he. Dokter Eka menyinggung hal yang sering dilupakan yaitu beban kerja. Di negara maju dokter dibagi atas pemerintah dan swasta. Dokter pemerintah dipisah pula atas tiga yairu peneliti, dosen dan pelayanan. Semuanya mempunyai jam kerja yang pasti, beban kerja tertentu dan gaji yang lebih dari cukup. Mereka tidak akan mencari tambahan seperti praktek karena pajak yang bertambah sesuai dengan penghasilan. Dokter di Indonesia berbeda. Tidak ada jam kerja. Di RS, kecuali boss, dokter sering pulang malam dan harus mengejar tempat praktek. Kita bekerja tanpa mengenal beban kerja. Pasien poli dapat mencapai 50 orang. Baru 10 orang saja liur ini sudah kering. Betul nggak Dok. Kita tidak mengandalkan gaji untuk hidup tapi dari praktek. Tetapi saya yakin bahwa tidak banyak dokter yang menolak menjawab pertanyaan pasiennya. Makasih ya Mbak Tirah dan Dokter Eka..



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.