Fiqh dokter ahli ditulis oleh Imam Ibn Al-Qaiyim Al Jauziah (1292-1350) dalam buku Al-Tibb al-Nabawiya yang diterbitkan di Beirut dengan judul Healing With The Medicine Of the Prophet dan diterjemahkan oleh: H.M.A. Saaridinata:. Pengobatan Menurut Petunjuk Nabi. Gemagung Ikhitiati, 2002 hal 192-197.
700 tahun yang lalu ia menulis dan masih banyak yang dapat dipelajari. Diantaranya adalah kiat menghadapi kemajuan teknologi kedokteran. Ia mengenalkan asas efektif dan efisien. Efektif adalah tindakan yang mempercepat pengobatan. Efisien adalah melaksanakannya dengan fasilitas yang sederhana.
Efektifitas dicapai dengan melakukan pemeriksaan canggih hanya bila ia merubah rencana pengobatan (alm Prof Jamaludin); efisiensi, berobat ke spesialis atas rujukan dokter umum ataupun memilihkan obat yang lebih sederhana.
Lengkapnya:
- Pertama melakukan diagnosa mengenai jenis penyakit.
- Mencari penyebab yang ada dibalik penyakit tersebut
- Memeriksa pasien untuk menentukan kalau-kalau tubuhnya mampu mengatasi penyakit atau keadaannya lebih lemah dibanding penyakitnya. Jika si pasien cukup kuat untuk menolak penyakitnya, maka dokter tidak perlu memberikan resep obat.
- Memeriksa pasien, perilaku dan kondisinya
- Meneliti peruzat-peruzat kondisi pasien
- Mencari tahu umur pasien
- Meneliti kebiasaannya dan apa yang terbiasa baginya
- Mengingat pengaruh musim
- Memasukkan kedalam pertimbangan tempat asal si pasien
- Mempertimbangkan kondisi atmosfir pada saat dia terserang penyakit
- mencari obat yang tepat dan sesuai
- Meneliti keefektifan dan ukuran banyaknya obat
- Dokter tidak saja bertujuan menyembuhkan penyakit, tetapi juga mencegah apa-apa yang lebih berat menjadi terjadi. Misalnya, jika menyembuhkan suatu penyakit tertentu mengarah kepada penyakit yang bahkan lebih berat, maka dokternya membiarkan penyakit yang ada dan berupaya untuk membuatnya menjadi lebih ringan. Misalnya, lubang urat darah, yang diobati dengan pemotongan, mungkin memperburuk penyakit akut yang lainnya.
- Memilih dan memberi resep dengan obat yang paling sederhana untuk pengobatan, itu dibenarkan. Umpamanya, dokter tidak meresepkan obat terkecuali dia meneliti pilihannya apakah pengobatan cukup dengan hanya makanan dan diet tanpa obat.Juga, dokter sebaiknya tidak meresepkan pengobatan yang beragam sampai dia meneliti pilihannya akan pengobatan yang lebih sederhana. Pertanda dari dokter yang benar-benar ahli adalah kemampuannya memberikan resep makanan sebagai ganti dari obat, dan memberikan obat yang sederhana daripada yang terdiri lebih dari berbagai campuran zat.
- Dokter meneliti apakah penyakitnya dapat di obati atau tidak. Jika menyadari bahwa dia tidak mampu mengobati penyakitnya, janganlah melakukannya. Ini untuk menghemat waktu dan menjaga reputasi serta menghindarkan dirinya dari menjadi korban keserakahannya sendiri yang seolah-olah mampu menyembuhkan penyakit padahal yang tidak dapat disembuhkan. Jika penyakitnya mungkin disembuhkan, maka dokter memeriksa kalau-kalau penyakit tersebut dapat disembuhkan secara keseluruhan, atau sedikitnya dibuat lebih ringan. Jika dokter tersebut menyadari bahwa dia tidak dapat menyembuhkan penyakit itu, maka dia sebaiknya meneliti cara-cara untuk mencegah semakin memburuknya penyakit tersebut. Dalam keadaan ini, pengobatan harus ditujukan untuk maksud itu, untuk meningkatkan kekuatan tubuhdan menghentikan semakin parahnya penyakit.
- Dokter tersebut tidak boleh mengeluarkan dulu zat-zat busuk (beracun) sebelum menjadi stabil dan matang
- Dokter harus sangat luas pengetahuannya mengenai berbagai penyakit jantung dan jiwa serta cara-cara untuk mengobati penyakit-penyakit semacam itu. Sesungguhnya ini merupakan suatu aspek penting dari ilmu pengetahuan tentang pengobatan, karena dampak dari perilaku dan perasaan hati jelas sekali, dalam tubuh secara fisik. Inilah sebabnya mengapa kami mengatakan jika seorang dokter dalam bidang pengobatan juga harus berada seorang ahli dalam penyakit hati, dia akan menjadi seorang dokter yang sempurna. Disisi lain, dokter yang tidak mempunyai pengetahuan mengenai penyakit-penyakit hati sementara dia berpengetahuan luas dalam penyakit tubuh, maka dia itu hanya setengah dokter. Dia adalah seorang dokter yang tidak meneliti kebersihan hati si pasien dan mendorongnya untuk memperkuat jiwa dan raganya dengan melakukan amal-amal shalih dan baik, seperti memberi derma dan cendrung untuk lebih bertakarrub kepada Allah dan mencari kebaikan buat hari kemudian. Lebih tepatnya, jika seperti itu dia adalah seorang dokter palsu. Sebenarnya, obat yang paling baik adalah melakukan amal-amal shalih, bersedekah, berdzikir kepada Allah, memohon kepada-Nya, mencari pertolongan-Nya, meminta dengan sungguh-sungguh kepada-Nya dan bertaubat kepada-Nya. Amal-amahl shalih seperti itu mempunyai dampak yang sangat besar dalam penyembuhan penyakit, lebih besar dari pengobatan yang biasa, dengan syarat orang yang sakit itu mempunyai keyakinan terhadap pengobatan batin seperti itu.
- Bersikap lembut dan sabar kepada orang sakit, seperti seorang yang lapang dada dan lembut kepada anak kecil.
- Dokter harus menggunakan berbagai jenis obat biasa dan obat batin, sekalian dengan menggunakan mata hatinya.
- Dokter harus membuat pengobatannya berkisar disekitar enam prinsip utama, yang merupakan landasan dari profesinya. Pertama, dokter harus memelihara kesehatan. Kedua, dia harus berupaya dan mengembalikan kesehatan yang hilang. Ketiga, dokter harus menyembuhkan penyakit. Keempat, setidaknya mengurangi beratnya penyakit. Kelima, dokter harus mengabaikan mudarat yang lebih kecil dan mengobati yang lebih besar. Keenam, dokter harus mengabaikan manfaat yang lebih kecil untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar. Ilmu pengetahuan kedokteran berkisar di sekitar enam prinsip dasar ini, dan dokter yang tidak berpegang kepada yang enam ini bukanlah dokter. Allah-lah yang Maha Mengetahui.



0 Responses
Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.