Kisah nyata di IGD, RSCM suatu hari jam 0200
Seorang wanita muda beranak satu masuk di IGD RSCM dengan sakit perut kanan bawah.
Dr Asfan (nama disamarkan) residen kelas 2 segera datang memeriksa. Nyeri tekan dan lepas positif. Khas appendix. Dr Asfan melirik kesamping dan memasang sarung tangan. Seorang perawat wanita datang. Pemeriksaan colok dubur rutin harus dilakukan.
Perawat tegas,”Bu buka celana ya.”
Pasien,” Kenapa sus?”
Perawat,”Periksa dubur ya Buk.”
Pasien melihat berkeliling. Korden ditutup perawat. Dan celana dibuka. Ia menggigit bibir, menunduk malu ketika dr Asfan memasukkan satu jarinya kedalam anus.
Dr Asfan tenang berkata, Bu appendix, Harus operasi. Tapi harus ke kebidanan dulu ya. Siapa tahu ada kelainan yang lain.”
Satu jam kemudian pasien kembali.
Melihat dr Asfan ia mendadak menangis. Kami semua menghampiri.
“Ada apa lagi nih?”
Di sela-sela isaknya ia berkata, “Dok kenapa tidak sekalian saja colok yang didepan?”
Dr Asfan terpana.
Pasien berkata lagi, “Kenapa harus didorong ke belakang Dok?”
“Kali Asfin,” seorang residen nyletuk.
Senyum menghias bibir dr Asfan, lepas dari masalah pikirnya. Ia berkata, ”Bu yang memeriksa di belakang kembaran saya dokter Asfin.”
Pasien balik terpana. Lama sementara semua ketawa
Pasien, ” Oh.”



Ha..ha…ha…
Masalah colok mencolok pasti menjadi cerita tak terlupakan para murid yang pernah menjalani pendidikan kedokteran. Sekali pun pasti itu tidak membuat nyaman bagi si pasien…
Tul apalagi kalau harus didorong untuk memeriksa yang disebelah depan oleh orang yang sama. Mas Aryo selalu bilang, ” tidak ada lobang tanpa ditutup” he he he he
Asal jangan salah colok
Astagfirullah Pak Haji.