SaRaRiDi – perikSa payudaRa sendiRi saat manDi
Saya terkejut mendengar suara anak ribut, tangis dan ketawa terdengar silih berganti Ketika itu, seperti biasa saya sedang memeriksa seorang pasien kanker payudara lanjut. Suster tersenyum dan mengatakan bahwa kelihatannya itu program sekolah taman kanak-kanak di poliklinik Gigi. ”Sudah membudaya, Dok!” tegasnya.
Saya termenung sejenak.
Sampai sekarang saya masih takut ke dokter gigi. Biar ada lubang, kalau masih bisa ditahan sakitnya, saya tidak akan ke dokter gigi. Mungkin pengalaman masa kecil. Dulu ketika masih kecil di Bukittinggi, tahun 1950, belum ada dokter gigi. Mengerikan.
Sekarang berbeda.
Saya tersenyum.
Bila budaya berobat ke dokter Gigi sudah diajarkan semasa TK kenapa SaRaRi tidak.
SaRaRi atau Periksa Payudara Sendiri sudah seringkali ditulis, namun di Indonesia masih banyak yang datang terlambat. Mungkin juga tidak terlalu sering ditulis. Pencarian “Sarari” di Goggle mencatat 552 halaman dari Indonesia atau 0.05% dari seluruh web yang menemukan sekitar 102.000 penemuan untuk kata kunci tersebut. Mungkinkah takut akan ancaman UU Pornografi?
Mungkin mereka konsisten mengerjakannya tetapi takut menghadapi kenyataan. Mungkin tidak konsisten atau hanya rajin bila ada kejadian yang mendorongnya seperti tetangga menderita kanker payudara. Mungkin juga mereka belum pernah mendengarnya sama sekali. Belum ada penelitian mengenai hal itu di Indonesia.
Maka bagaimana membudayakannya?
Mungkinkah seperti anak TK dapat dibudayakan sejak balita?
Mungkin.
Caranya:
Pertama, anak TK sekarang sudah akrab dengan internet. Informasi mengenai SaRaRiDi bisa dimasukkan dalam berbagai situs gaul. Kendalanya adalah terkadang artikel yang mengandung kata dan gambar “payudara” dianggap sebagai pornografi namun hal ini bisa diatasi dengan tautan ke situs luar negeri.
Kedua, mandi sudah menjadi budaya bangsa ini. Maka perlu bagi ibu untuk memasukkan SaRaRi kedalam budaya mandi yang saya sebut sebagai SaRaRiDi, meniru bahasa gaul anak-anak saya.
Artikel yang berkaitan dengan Periksa Payudara Sendiri saat Mandi – SaRaRiDi tidak asing di dunia maya. Goggle memuat lebih dari 2 juta halaman web (kata kunci: “Breast Self Exam“) yang memuat akan hal tersebut walaupun mungkin karena UU Pornografi tidak ada di internet selain dari Indonesia.
Ketiga, memanfaatkan sabun sebagai pelincir.
Sabun sebagai pelicin akan sangat membantu mengenali kelainan payudara. Tanpa membedakan si buyung dan si upik, selain mengajarkan cara menggosok daki juga diikutkan cara menyabuni dada.
Di sini saya memerlukan bantuan ahli psikologi anak.
Pada awalnya adalah gerakan seperti mainan ular yang meliputi seluruh dada termasuk tentu payudara. Hari mens pertama si upik dapat menjadi saat mentasbihkan SaRaRiDi. Dicontohkan sang ibu dari belakang, dengan tangan bersabun, dimulai dari kanan: lengan kanan diangkat, payudara kanan diraba dengan dengan tapak ruas akhir dari tiga jari tangan (manis-tengah-telunjuk) kiri, melingkar mulai dari puting sampai tulang selangka sembari menekannya ke dada. Ketiak kanan diraba di puncak ketiak dan di sepanjang bagian belakang otot dada. Cara yang sama dilakukan di sisi lainnya dengan tangan kanan.
Mudah-mudahan SaRaRiDi dapat membudaya.
ps:
Saya menyebutnya SaRaRi karena istilah SADARI sudah tidak dipergunakan lagi di kalangan dokter. SaRaRiDi adalah perikSa payudaRa sendiRi saat manDi merupakan istilah yang saya karang sendiri.



Mungkin di tiap jenjang sekolah (TK, SD, SMP, SMA) perlu ada mata pelajaran khusus kesehatan, yang mengajarkan tentang kesehatan praktis terkait kelompok umurnya. Sarari bisa diajarkan mulai SMP bersamaan dengan pelajaran tentang pencegahan HPV, seperti pelajaran tentang “narkoba” yang sekarang selalu diberikan sebagai bagian dari Opspek di semua jenjang pendidikan…
Terima kasih Mbak Titah atas dukungannya, mudahmudahan berhasil