Untuk menegakkan diagnosa, dokter masa kini dimanjakan dengan berbagai pemeriksaan canggih. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “canggih” mengandung banyak arti antara lain “sangat rumit”. Dari Thefreedictionary: “Sophisticated” (terjemahannya dalam bahasa Inggris) didefinisikan sebagai “very complex or complicated: the latest and most sophisticated technology” atau teknologi terkini yang sangat komplek.
Pemeriksaan canggih sudah membumi.
Seringkali pasien dengan tumor payudara ‘curiga’ ganas meminta pemeriksaan mamografi dan pasien dengan gejala klinis khas radang usus buntu meminta Ultra Sonography – USG. Pemeriksaan ini mubazir karena bagaimanapun hasilnya kedua pasien ini tetap diusulkan untuk operasi.
Yang perlu diingat ialah seberapapun canggihnya, setiap pemeriksaan mempunyai batasan tertentu yang diukur dengan false positive, false negative, true positive dan true negative.
Katakanlah dari mamografi didapatkan adanya tumor ‘curiga’ ganas. Ia true positive bila diagnosa akhir adalah kanker payudara dan sebaliknya adalah true negative. Bila dari mamografi tidak ditemukan tumor ‘curiga’ ganas maka ia false positive bila diagnosa akhir adalah kanker payudara dan sebaliknya.
Mengandalkan pemeriksaan canggih untuk melakukan pengobatan akan berisiko over treatment, pengobatan yang berlebihan atau under treatment, pengobatan tidak memadai.
Over treatment akan dialami ibu dengan mamografi tumor ‘curiga’ ganas yang true negative karena dilakukan mastektomi. Under treatment , ibu dengan mamografi tidak ditemukan tumor ‘curiga’ ganas yang false negative tidak dilakukan apa-apa.
Dokter mencegah kesalalahan ini dengan melakukan pemeriksaan menyeluruh dan tidaka tergantung pada satu hasil pemeriksaan. Bila ragu-ragu dokter akan melakukan second opinion yaitu meminta pendapat banding dari rekannya sesama dokter.
Saya mempunyai pengalaman pribadi.
Sejak tahun 1990 sampai 2007 istri saya sering mengalami perdarahan per vagina. Pap’s smear selalu negatif. Kuretase sudah dilakukan empat kali dan tidak sekalipun menunjukkan keganasan. Pasca kuretase ia memakan obat, perdarahan berhenti dan seterusnya. Kuretase dan pemeriksaan dilakukan oleh dokter dan rumah sakit yang kompeten.
Akhirnya kami berdua bosan dan meminta kepada seorang dokter obgyn umum untuk HTSOB yaitu pengangkatan rahim, tuba, ovarium kiri dan kanan. Pemeriksaan jaringan oleh ahli patologi, menunjukkan kanker rahim yang sudah menyebar ke mulut rahim. Karena tidak melakukan diseksi kelenjar, dokter obgyn konsultan onkologi meminta pemeriksaan Computed Axial Tomography – CT scan untuk melihat apakah ditemukan kelenjar getah bening.
Ahli radiologi mengatakan kelenjar positif.
Kurang yakin karena selama ini pemeriksaan jaringan tidak terlihat keganasan, saya melakukan dua second opinion. Pendapat banding ahli radiologi lain adalah kelenjar tidak terlihat. Pendapat banding ahli patologi lain adalah kanker rahim memang positive tapi tidak menembus sampai ke mulut rahim.
Dari rapat antara para obgyn konsultan onkologi dan radio konsultan onkologi dianjurkan radioterapi extended dengan alasan ada pendapat yang menyatakan bahwa kanker sudah sampai ke mulut rahim dan adapula yang melihat kelenjar. Kerena saya menolak, ahli radiologi konsultan onkologi mengusulkan untuk melakukan pemeriksaan ronsen yang lebih canggih khusus untuk melihat kelenjar dua minggu kemudian.
Pada selang waktu itu saya bertemu dengan obgyn konsultan onkologi yang mengatakan bahwa tidak mungkin memastikan adanya keganasan pada kelenjar dengan pemeriksaan ronsen. Akhirnya saya menemui ahli penyakit dalam konsultan onkologi. Ia setuju dengan pendapat bahwa kelenjar tidak terlihat pada CT scan. Selanjutnya ia mengusulkan untuk Magnetic Resonance Imaging – MRI enam bulan kemudian.
Alhamdulillah sudah dua kali MRI tidak ditemukan adanya kelenjar.
Akhir kata pasien memang harus aktif bertanya dan protes kepada dokter. Dapat Anda bahwa pasien seorang dokter pun tidak mudah melakukannya. Dan itulah salah satu alasan membangun GRIYA CURHAT ini.




Dokter, apa yang dimaksud dengan pemeriksaan menyeluruh, bukankah itu artinya menggunakan semua jenis pemeriksaan termasuk yang canggih-canggih? Pada kasus tumor payudara misalnya, selain indikasi benjolan yang ditemukan pada waktu sarari, konon harus dilakukan mamografi/USG untuk mendeteksi jenis tumornya, kemudian FNAB, baru ditentukan tindakan yang akan dilakukan? Bagi pasien sih, semakin sedikit/sederhana pemeriksaan semakin baik, bagaimanapun menjalani pemeriksaan itu tidak nyaman dan keluar biaya banyak!
BTW bagaimana keadaan ibu sekarang, Dok? Semoga sudah benar-benar sehat.
Dik, boleh saya panggil adik ya. Makasih atas perhatiannya. Sebenarnya pemeriksaan itu hanya dilakukan bila diduga akan merubah pengobatan. Bila pada pemeriksaan (wawancara dan pemeriksaan fisik) tumor yang teraba itu curiga ganas, saya tidak akan meminta mamografi atau USG atau FNAB karena apapun hasilnya tidak akan merubah rencana pengobatan. Mudah2an puas.
Istri sudah setahun tidak ada tanda-tanda residif
Makasih sekali lagi
Dok, apa resiko dari Aspirasi Jarum Halus, apakah memang bisa membuat tumor atau kanker semakin menyebar?mohon penjelasannya..
Mas Hendra makasih atas kunjungannya. Bisa Mas. Karena itu, bila ganas, wajib segera diikuti dengan pengobatan