Skip to content


Magi – Percaya atau Tidak

Suatu hari saya diminta ke Padang untuk melihat seorang pasien lama yang penyakitnya kumat kembali.

Ibu berumur lebih kurang 40 tahun dan mempunyai anak dua orang ini, tidak kontrol selama sekitar 3 tahun. Kira-kira enam tahun sebelumnya ia saya operasi di Bandung dengan kanker rektum (kanker di saluran pencernaan bagian bawah) dan sesudah sebagian ususnya dibuang, dibuat kolostomi (membuat lubang untuk buang air besar di perut) yang ditutup di Jakarta sesudah dua tahun.

Pada saat itu dengan pemeriksaan patologi (pemeriksaan terhadap jaringan dengan mikroskop) kedua daerah yang disambung sudah bebas tumor. Selama beberapa saat ia selalu kontrol. Sekarang kanker itu sudah menjalar dan memenuhi anus (lubang untuk buang air besar) dan daerah disekitarnya.

Terjadilah percakapan ini:

Saya (S) : Lho apa tidak pernah kontrol ke dokter?

Pasien (P) : Dulu pernah tapi sudah lama nggak Dok.

S : Kenapa begitu?

P : Saya ikut pengobatan dengan zikir, Dok.

S : Zikir memang harus dilakukan tapi kan perlu usaha.

P : Ya, tentulah Dok. Tumornya sudah dipindah ke kambing.

S : Oh. Baikan?

P : Beginilah Dok. Sakit sekali.

Singkat kata, kami berangkat ke Bandung.

Pada pemeriksaan, kanker itu sudah menjalar ke paru dan hati. Tidak ada jalan lain selain kemoterapi.

Bahwa ia berobat alternatif tidaklah mengherankan karena memang hampir semua pasien saya pada suatu saat pernah berobat alternatif. Fenomena ini bukanlah karena faktor ekonomi atau intelektual. karena tidak ada perbedaan antara pasien kaya atau miskin dan bersekolah atau tidak. Merasa tertarik, sepulang dari rumah sakit saya mampir di Palasari, pasar buku dan mencari buku yang kira-kira bisa menerangkannya.

Buku itu adalah Kitab Mujarabat karangan Romdon, yang diterbitkan Lazuardi di Jogjakarta. Artikel ini disusun menurut analisa penulis pribadi berdasarkan buku itu. Memindahkan penyakit sesuai dengan definisi Magi yaitu pengobatan tradisional dengan menggunakan kekuatan dari zat supernatural, yang bersifat gaib atau di luar jangkauan akal manusia.

Zat supernatural adalah satu atau beberapa diantara zat gaib yang dimiliki semua benda di dunia baik yang berada di alam halus seperti jin ataupun alam nyata seperti pohon ataupun binatang. Karena itu sakit dan sembuh ditentukan oleh zat supernatural.

Prinsip pengobatan Magi adalah mengurai tubuh manusia, mengidentifikasi zat supernatural penyebab penyakit, mengusir zat itu dan menyusun tubuh itu kembali. Hal itu terlihat dalam film Startrek. Dengan alat transporter beam (alat angkutan yang kecepatannya tidak terbayangkan), molekul (zat terkecil dari tubuh) dapat diuraikan, dikirim dan tersusun lagi di tempat tujuan. Pengobatan pasien diatas dilakukan dengan memindahkan zat penyebab penyakit itu ke kambing. Penulis pernah melihat sendiri mediasi dengan ayam.

Suatu hari di Padang tahun 1950an.

Sepupu saya jatuh dari sepeda. Tungkai bawah kanannya bengkak. Dukun dipanggil. Ia meminta seekor ayam. Dengan mulut komat kamit kaki kanan ayam itu dipegangnya dan sepupu saya menjerit kesakitan. Ia tidak peduli. Setiap urutnya dihentikan, sepupu saya berhenti menjerit. Tungkainya sembuh beberapa minggu kemudian. Mediasi dapat dilakukan dengan apa saja karena zat supernatural dimiliki oleh semua benda di dunia.

Penulis pernah mengalami sendiri penggunaan media asam jawa di Irian.

Jayapura awal 1977

Kami sekeluarga baru saja pindah dari Puskesmas di Genyem. Anak saya yang baru berumur 1 tahun tiap tengah malam terbangun dan menangis. Walaupun sudah beberapa kali berobat ke dokter anak tangis itu tidak pernah berhenti. Badannya menjadi kurus.

Akhirnya saya menyerah dan memanggil orang pintar, seorang guru mengaji berasal dari Kai. Ia minta sebutir asam jawa dan menggosok kepala anak saya di ubun-ubunnya. Sesudah itu ia menyuruh membungkus asam jawa itu dengan kain merah putih dan meletakkannya dibawah bantal. Keesokan malamnya tangis itu tidak terdenga lagi. Ia sembuh dari insomnia.

Media sesuai dengan simbol yang ditulis oleh Romdon.

Ia dimulai di zaman purba, di kala pengetahuan didasarkan atas hubungan antara dua kejadian sederhana yaitu: kalau (if) ada kejadian A maka (then) terjadi kejadian B atau if-then. Misalnya tatkala seseorang sakit (kejadian B) sesudah mandi disungai tertentu (kejadian A), maka sungai itu menjadi keramat (kejadian C). Ia dapat membuat sakit atau sehat karena mempunyai zat supernatural yang ampuh.

Simbol merupakan hubungan antara dua kejadian C , seperti bila si Polan sakit di sungai itu tentu si Fulan juga, demikian pula dengan boneka si Polan. Babun, sejenis kera Afrika sangat kuat (kejadian C), menjadi dasar pengobatan pasien lumpuh di Afrika, yang tentu sembuh bila memakan tulangnya. Pohon Nangka yang lunak digunakan sebagai simbol manusia pada tinggam, suatu cara untuk membuat sesorang sakit di Sumatra Barat seperti halnya dengan boneka yang digunakan pada voodoo.

Tentu saja A – B – C atau penentuan media adalah pengalaman turun temurun healer. Penguraian dan penyusunan dilakukan oleh healer dengan mantra, rajah dan atau materi. Mantra adalah suatu alat magis yang diucapkan oleh pengobat untuk menguasai atau menyuruh zat supernatural yang dikuasainya melakukan penyembuhan.

Saya tertunduk ketika mengetahui bahwa rajah dapat berupa ayat-ayat Al Quran yang lafal syifa dari Al Quran, seperti Surah Al-Taubah ayat 14; Surah Yunus ayat 69; Syrah Al-Isra ayat 82; Surah Hamim Al-Sajadah (Fushshilat) ayat 44; dan Surah Al-Syu’ara ayat 80.

Maka batas antara politeis dan monoteisme menjadi kabur.

Menurut Romdon perbedaannya adalah:

  1. Magi menganggap bahwa alam raya merupakan rentetan kejadian menurut aturan tertentu tanpa campurtangan suatu zat supernatural, sedangkan agama mengakui bahwa alam diatur dan dikuasai oleh zat supernatural;
  2. Mediasi Magi dilakukan dengan suatu zat supernatural selain penguasa alam raya, sedangkan Agama sebaliknya.
  3. Pengobat tradisional Magi menggunakan kekuatannya atas zat supernatural seperti miliknya sendiri, atau menyuruh zat itu melakukan penyembuhan hingga kegagalan tidak dapat diterima dan pasien harus sembuh dalam waktu yang cepat, sebaliknya Agama hanyalah mengajukan permohonan dengan berdoa dan merendahkan diri, serta ikhlas menerima baik keberhasilan ataupun kegagalan.

Senyum tipis, saya mengangguk sendiri.

Posted in Alternatif.

Tagged with , , , , .


2 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. titah says

    Dulu, saya termasuk orang yang paling tidak percaya pada segala sesuatu yang tidak masuk akal. Selalu merasa paling benar dan paling pintar. Tapi suatu ketika saya mendengar pengajian di radio, yang membandingkan ilmu/rahasia Allah dengan ilmu/akal manusia. “Bayangkanlah engkau berdiri di tepi lautan yang dalam dan luas tak bertepi, dan celupkan ujung jarimu ke dalamnya. Laut itu seumpama ilmu Allah, dan air yang menempel di ujung jarimu itulah batas ilmu manusia.” Sejak itu saya tidak lagi terlalu mendewakan akal, dan lebih membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan lain, termasuk magi…

  2. Dokter Bahar says

    Subhannallah. Memang betul Titah. Kita harus meyakini bahwa yang diberikanNya hanyalah ibarat setetes air dari tujuh lautan. .



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.