Di setiap kesempatan saya selalu ditanya tentang, apakah penyebab kanker?
Sebagai dokter onkologi, saya selalu mengatakan bahwa:
Kanker adalah gangguan pertumbuhan yang disebabkan berbagai faktor yang terkait dalam lebih dari 100 ragam sel di kerangka molekul yang dapat disebabkan oleh faktor luar tubuh yang disebut karsinogen, baik fisik, kimia maupun dari dalam tubuh seperti gangguan DNA atau hormon. (Dr. Yurong Song – postdoctoral researcher)
Namun sebagai seorang muslim saya mengatakan: bahwa kanker dapat disebabkan oleh perbuatan tidak mensyukuri nikmat yang diberikanNya. Katakanlah, kanker payudara yang BANYAK diderita oleh pasien yang tidak menikah, tidak menyusui anaknya atau menikah ketika sudah berumur (usia di atas 30). Mereka mungkin tidak mensyukuri bagian tubuh yang diberikan Allah dengan sangat sempurna dan mempergunakan sesuai fungsinya.
Berbagai kanker seperti payudara, endometrium, usus besar, ginjal dan esofagus yang sering akrab pada orang gemuk. Mereka mungkin tidak mensyukuri usus yang diberikan oleh Allah. Belum lagi kanker paru pada orang yang merokok. Mereka lupa bahwa saluran nafas diperuntukkan bagi udara dan bukan asap rokok.
Maka saya teringat akan firman Allah yaitu:
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy Syura : 30).
Perbuatan ini diterangkan Allah dalam:
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang suka berkhianat lagi mengingkari nikmat dan karena itu pula … Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS Al Hajj : 38)



Ternyata banyak sekali sudut pandang dalam melihat kanker ya dok.
Bagaimana pendapat dokter tentang pendapat dr. Ryke Geerd Hamer bahwa kanker adalah penyakit psikosomatis? (di sini: germannewmedicine.ca)
Terima kasih atas kunjungannya.
Saya tidak sependapat dengan dr. Ryke yang mengatakan bahwa kanker adalah penyakit psikosomatik.
Tidak seperti kanker yang belum jelas penyebabnya, penyakit psikosomatik disebabkan oleh kegagalan tubuh (termasuk jiwa) mengatasi stress yang merupakan resiko kehidupan.
Pengobatan kedua penyakit ini pun berbeda. Bila kanker memerlukan operasi, kemoterapi, radiasi dan yang lainnya, maka penyakit psikosomatik dapat diobati dengan melakukan intervensi alam pikiran seperti hipnotisme.
Mengenai karsinogenesis atau terjadinya kanker akan saya tulis dalam artikel khusus.
Dr. Ryke dan pengikutnya mengklaim telah membuktikan pada 40.000 orang (dengan tingkat keberhasilan 95%) bahwa kanker selalu didahului oleh trauma/konflik psikologis beberapa bulan sebelumnya.
Pengobatannya pun tanpa operasi/kemo/radioterapi, cukup dengan menyelesaikan trauma/konflik psikologis itu, maka kanker (termasuk yang sudah “metastase” –saya beri tanda kutip karena menurut dr. Ryke itu bukanlah sebuah metastase, melainkan kejadian kanker baru karena adanya trauma baru setelah ybs terkena vonis kanker) akan sembuh dengan sendirinya.
Maaf saya bukan pengikut dr. Ryke, hanya merasa bahwa perspektif baru ini menarik untuk dikaji lebih jauh.
BTW, di mana kita bisa mendapatkan terapi hipnotisme, Dok?
Sebab musababnya yang pasti belum diketahui. Menurut Dixon dalam buku Breast Surgery, paham itu dilabel atas 3 bagian besar yaitu:
1. beyond reasonable doubt (tidak diragukan lagi);
2. on the balance of probability (mungkin) dan;
3. Not proven (belum terbukti).
Saya tidak bisa memasukkan paham Ryke ini sebelum membaca protokol dan prosedur lengkap penelitiannya.
Nah untuk hipnotisme, silakan Titah mencari Dr. Hukom di bagian Kesehatan Jiwa RSCM.
Mengutip Dian Sigit ada berita duka: